Helo Indonesia

Wartawan Pembawa Pelita, Kini Kehilangan Elan Vitalnya

Prty - Opini
Senin, 26 Januari 2026 10:19
    Bagikan  
PERS
HELO LAMPUNG

PERS - Mr. Ten

Oleh Uten Sutendy*

AJARAN pertama dan utama saat mulai memasuki dalam dunia jurnalistik adalah menyiarkan fakta kebenaran dan bisa menjadi cahaya kebenaran-kebaikan. Jika ada dua matahari yang menyinari bumi, salah satunya adalah jurnalis.

Ada tugas kenabian yang melekat pada seorang jurnalis, tugas menyebarkan cahaya atau pelita. Tulisan atau berita yang disampaikan harus memegang teguh syarat-syarat yang mendukung dan memperlihatkan fakta kebenaran.

Obyektif, menyampaikan fakta apa adanya (dua sisi pro-kontra- cover both sides), dan mampu menggali (investigasi) serta menyampaikan fakta secara logis dan etis.

Beropini atau memberikan persepsi boleh saja asal ada dasar fakta dan logikanya. Ada nilai-nilai kepatutan yang diindahkan.

Boleh dibilang tugas seorang jurnalis identik dengan ilmuwan, akademisi, budayawan-seniman (menyuarakan kebenaran dan kebaikan berdasarkan fakta, logika, etika, dan suara isi hati yang terdalam).

Karya jurnalistik tidak sembarangan bisa disiarkan atau dipublis sebelum melalui proses seleksi yang ketat. Karena itu dunia jurnalistik banyak melahirkan orang besar, hebat, berpengaruh, dan memiliki integritas moral tinggi.

Memberi ruang dan panggung yang leluasa bagi pribadi baik, berkualitas, berintegritas, dan cerdas (jangan harap orang bodoh bisa mendapat panggung).

Tulisan opini yang diperkirakan bakal merusak persatuan dan keharmonisan kehidupan bersama berbangsa dan bermasyarakat atau berpotensi menyudutkan atau merugikan pihak tertentu tanpa dasar, jangan berharap bisa dipublis.

Karena pers harus mampu menciptakan dunia dan masa depan kehidupan umat manusia yang lebih baik.

Tapi itu cerita dulu. Coba perhatikan dan bandingkan dengan potret pers sekarang setelah dunia media sosial (medsos) tumbuh bersamaan dengan perkembangan tehnologi digital.

Kini, semua orang bisa bebas menulis dan berbicara kapan dan di mana saja. Peran dan fungsi jurnalistik mulai tergeser, tersudut bahkan terkontaminasi.

Media-media mainstream pun ikut terbawa arus dan sudah mulai kehilangan elan viral sebagai petugas cahaya.

Banyak opini dan nara sumber tanpa memiliki dasar kekuatan logika, fakta, serta etika begitu bebas boleh dan bisa naik panggung.

Mereka berbicara berdasarkan persepsi dan opini subyektif. Mencaci maki dan sebar kebencian hampir tanpa batas di ruang publik yang diakomodir oleh lembaga atau perusahaan media.

Betul pers harus menyajikan cover both sides (menampilkan dua sisi yang berbeda), tapi, seorang jurnalis wajib berpihak kebaikan dan kebenaran serta keindahan agar dunia tetap menjadi surgawi.

* Pernah jadi redaktur SKH Lampung Post, kini budayawan dan tokoh literasi Provinsi Banten.