Oleh Ustadz Gufron Azis Fuandi
PUASA Ramadan tidak turun begitu saja sebagai kewajiban yang kaku dan memberatkan. Ia datang bertahap, penuh hikmah, dan sarat keringanan. Puasa ini diwajibkan pada tahun ke-2 Hijriah, sekitar Februari 624 Masehi, setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Perintahnya turun pada bulan Syaban dan ditegaskan dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 183–185.
Sebelum Ramadan diwajibkan, Rasulullah SAW dan para sahabat telah lebih dulu menjalankan puasa Asyura setiap 10 Muharram serta puasa tiga hari setiap bulan. Artinya, puasa bukanlah sesuatu yang asing bagi umat Islam sejak awal.
Namun Allah tidak serta-merta mewajibkan puasa Ramadan secara mutlak. Pada fase awal, puasa Ramadan masih bersifat pilihan: boleh berpuasa atau menggantinya dengan fidyah. Baru kemudian, kewajiban itu ditegaskan bagi setiap muslim yang sehat dan tidak sedang dalam perjalanan.
Aturan berpuasapun mengalami penyempurnaan. Pada mulanya, setelah Isya umat Islam tidak diperbolehkan makan, minum, atau berhubungan suami istri. Jika tertidur sebelum sempat makan atau bercampur, maka larangan itu berlaku hingga malam berikutnya. Kondisi ini tentu terasa berat.
Di sinilah letak kemurahan Allah, melalui Surat Al-Baqarah ayat 187, Allah memberikan rukhsah besar: umat Islam diperbolehkan makan, minum, dan berhubungan suami istri sejak berbuka hingga terbit fajar. Sejak itu, puasa Ramadan menjadi kewajiban yang tegas, namun tetap manusiawi.
Dengan diwajibkannya puasa Ramadan, puasa Asyura pun bergeser status menjadi puasa sunnah. Puasa Ramadan bukan sekadar ibadah tahunan, melainkan rukun Islam yang menegaskan identitas dan ketaatan seorang muslim.
Jika ditarik ke belakang sejarah, kewajiban puasa umat Islam sejatinya jauh lebih ringan dibandingkan puasa umat terdahulu, khususnya Bani Israil. Mereka berpuasa selama 40 hari dengan durasi harian mencapai 24 hingga 26 jam, dari waktu Isya hingga Maghrib. Umat Islam? Hanya 29 atau 30 hari, dengan durasi rata-rata 11 hingga 15 jam per hari.
Bani Israil tidak mengenal sahur. Mereka juga tidak memiliki waktu untuk berhubungan suami istri selama masa puasa. Sebaliknya, umat Nabi Muhammad SAW justru dianjurkan makan sahur, bahkan disebut sebagai waktu penuh keberkahan.
Semua ini menunjukkan satu hal: Allah tidak pernah bermaksud menyulitkan umat ini. Puasa Ramadan memang menuntut kesabaran, pengendalian diri, dan kejujuran spiritual. Tetapi di balik kewajiban itu, Allah selalu menyertakan kemudahan.
Maka, jika masih ada yang mengeluh puasa Ramadan terlalu berat, terlalu panjang, atau terlalu melelahkan, sejarah memberi jawaban sederhana: kewajiban ini sudah diringankan sedemikian rupa.
Kalau umat terdahulu bisa melihat kita hari ini, barangkali mereka hanya akan berujar singkat: “Puasa begini saja dikeluhkan?”
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Gaf)
