LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ------"Bukan Mirza-Jihan namanya kalau bukan kaya akal," pesan tetiba, masuk gawai pewarta, Minggu (20/4/2025) pagi. Dia berbagi tautan warta progres ikhtiar Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal dan Jihan Nurlela (Mirza-Jihan) mengeksekusi program kerja unggulan, terkait distribusi POC (pupuk organik cair). Dia dimaksud, eks timses Pilgub.
Usai membalasnya, emoticon jempol tiga, pewarta bergegas menyeduh kopi dan senam jari. "Good morning, QWERTY," bisik di hati. Dan. Jadilah artikel ringan ini, pembaca.
Bukan lantaran, warisan defisit APBD Provinsi Lampung yang bikin "kramotak", bukan, akan tetapi program dimaksud, sejatinya memang merupakan amanat tunai janji kampanye.
Tepatnya, ia merupakan program kedua dari tiga Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dari duet pemimpin milenial itu, bersama tiga program prioritas utama, 18 program kerja, bagian dari tiga misi dan Visi Lampung Maju Indonesia Emas Mirza-Jihan 2025-2030, kurun kepemimpinan keduanya.
Buat pengingat, "Menyediakan Pupuk Organik melalui Pembangunan Unit Produksi Mikro Pupuk Organik yang Dikelola oleh BUMDes," demikian bunyinya.
Adapun, warta baik tersebut, kepemerintahan Mirza-Jihan di Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mengeksekusi inisiatif kebijakan program pemanfaatan POC dan penyediaan mesin pengering (dryer) produk pertanian sebagai bagian upaya sistemik meningkatkan produksi pertanian, mendorong tumbuh kembang kemandirian petani dalam masalah ketersediaan pupuk, sekaligus penguatan hilirisasi sektor pertanian di salah satu provinsi lumbung pangan nasional ini.
Berikut, merangsang ada kata 'olah' diantara tanam dan jual, perkuat petani agar produk pertaniannya kering cepat simpan lama jual cuan, serta bikin "pecah di kaki", mimpi indah kaum agraria tentang apa itu sistem pertanian yang ramah lingkungan bin berkelanjutan.
Eksekusi, antara lain terbujur dari ekspos Pemprov Lampung mewarta kunjungan tematik Wakil Gubernur Jihan Nurlela ke Gudang POC di Microba Center Lampung, Jl Utama Nusantara Permai Kelurahan Campang Raya, Kecamatan Sukabumi, dan Workshop Dryer di Jl. Ratu Dibalau, Tanjung Senang, keduanya Bandarlampung, Sabtu (19/4/2025).
Adapun, Microba Center Lampung tersebut kini memproduksi sebanyak 80 ton POC untuk dua musim tanam, yang akan didistribusikan ke 500 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), mencakup hampir 190.851 petani terverifikasi di 15 kabupaten/kota se-Lampung, dengan total luasan lahan produktif 175.788 hektare.
Untuk dryer, Pemprov Lampung bersiap pula mendistribusikan bantuan dryer berkapasitas 20 ton sebanyak 24 unit senilai lebih dari Rp10 miliar yang nantinya disalurkan ke 24 desa.
Termasuk ke wilayah Suoh, Kabupaten Pesisir Barat, salah satu daerah terisolir Lampung. “Di Suoh ada lumbung padi, tapi belum ada dryernya,” sebut Jihan Nurlela, selain padi, dryer juga bisa digunakan untuk komoditas seperti jagung dan kakao. Kehadiran dryer diharapkan bantu petani simpan hasil panen lebih lama, dapatkan harga jual lebih baik.
"Sebelumnya, proses hilirisasi dilakukan di luar Lampung. Kini, kami ingin agar petani bisa menjual dalam bentuk beras, bukan lagi sekadar gabah,” imbuh Jihan, menekankan pentingnya hilirisasi pertanian agar petani Lampung dapatkan nilai tambah hasil panen.
Pemprov Lampung berkomitmen, melalui program ini dapat turut meningkatkan produktivitas pertanian, mengatasi kendala pascapanen, serta mendorong kesejahteraan petani di seluruh wilayah provinsi ini.
Sampai sini, yang bertanya: kenapa pupuk, dan kenapa pupuk organik? Dan kenapa dryer? Kenapa dua ini yang jadi concern berat? Tidakkah itu tambal sulam?
Diketahui, dan seperti berulang kali terutama oleh Gubernur Mirza sampaikan di pelbagai kesempatan publik bahkan jauh sebelumnya saat masih sandang status calon gubernur, kedua hal itu notabene hasil belanja masalah.
Hasil aspirasi begitu banyak petani, peladang, pekebun, kelompok tani dan Gapoktan, dan rakyat pedesaan di berbagai penjuru wilayah Lampung. Saat, Mirza-Jihan dan timsesnya woro-woro pagi sore siang malam lakukan sosialisasi pencalonan. Dan saat kampanye.
Permasalahan penyediaan dan distribusi pupuk bagi petani memang problematik. Bahkan dunia teknologi hingga telah berganti rupa dari zaman SMS, BBM hingga WhatsApp, namun tetap saja persoalan pupuk, persoalan kelangkaan pupuk nasional nan problematik masih terus saja menjadi persoalan nasional. Bahkan dipelesetkan jadi 'persialan' nasional. Weleh-weleh.
Muaranya, pengembangan pupuk alternatif salah satunya POC sebagai (syukur-syukur) pengganti dan atau selemah-lemahnya iman, sebagai pengurang ketergantungan petani terhadap pupuk kimia. Menjadi solusi.
Kita ketahui, pupuk organik, pupuk berbahan dasar dari sumber alam, dalam jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung alami.
Tetap dengan bijak menimbang beberapa hal dalam pemberian pupuk tanaman, seperti tak adanya pengaruh terhadap perkembangan sifat tanah baik fisik, kimia, maupun biologi, yang merugikan. Serta, tak adanya gangguan keseimbangan unsur hara dalam tanah yang akan berpengaruh terhadap penyerapan unsur hara tertentu oleh tanaman.
Sehingga dalam pada praktiknya, perpaduan pemberian keduanya --pupuk organik dan anorganik-- terhadap tanaman, masih jamak dilakukan guna meningkatkan produktivitas tanaman dan efisiensi penggunaan pupuk pada pertanian lahan kering maupun basah.
Kita ketahui pula, pupuk organik ini berfungsi serta berperan meningkatkan kesuburan tanah sebab adanya penambahan unsur hara humus dan bahan organik ke dalam tanah, merangsang pertumbuhan tanaman, bantu tanaman lebih tahan terhadap hama dan penyakit, memperbaiki sifat fisik tanah dan menjamin mekanisme jasad renik yang jadi kehidupan dan keamanan penggunaannya. Tak rugikan kesehatan, tak cemari lingkungan.
Berjenis dua: padat dan cair. Pupuk organik padat (POP) bentuknya padat, biasa dipakai petani: ditabur atau dibenamkan dalam tanah.
POC bentuk cairan, umumnya ekstrak bahan organik yang sudah dilarutkan (difermentasi) dengan pelarut (alkohol, minyak, atau udara); senyawa organik yang mengandung unsur karbon, tepung tulang atau enzim.
Cara pakai, ada yang disemprotkan ke daun atau disiram ke tanah. Cara bikin, pakai teknik sistem kantong teh (metode pasif) atau sistem mikro organisme lokal (metode pasif).
Kandungan POC adalah unsur hara makro dan mikro yang tanaman butuhkan untuk tumbuh. Unsur hara ini tersedia mudah dan cepat bagi tanaman. Bahan baku POC bisa dari sisa sayuran, kulit buah-buahan, sisa tanaman, kotoran binatang, dan residu atau limbah organik lainnya yang difermentasi.
Kita juga bisa bikin POC sendiri. Siapkan bahan, larutkan dengan air, campurkan bahan organik dengan air dalam wadah tertutup rapat, tambahkan mikroorganisme seperti EM4 untuk mempercepat proses fermentasi, lalu fermentasikan biarkan beberapa hari atau minggu sesekali diaduk, saring dan simpan.
Kelebihan POC sudah sama-sama tahu ya. Ramah lingkungan, murah mudah dibuat, meningkatkan kesuburan tanah, cegah hama dan penyakit. Kekurangannya? Tidak tahan lama, mudah rusak jika disimpan waktu lama, dan tidak cocok untuk semua jenis tanaman.
Kembali ke Mirza-Jihan, kemantapan duet ini untuk menjadikan penyediaan POC sebagai bagian inti produk dan keluaram program kerja kepemimpinan, kuat tengara didukung kekuatan basis data valid dan terbarukan.
Menggenapi, misal, total 8.615 ton pupuk organik bagian dari total 812.885 ton pupuk kuota Provinsi Lampung dari pemerintah pusat untuk tahun 2025 ini. Selain, 376.037 ton pupuk Urea, 414.584 ton pupuk NPK, dan 13.649 ton pupuk NPK FL.
Alias, bertambah 40.122 ton dari 772.763 ton, meliputi 2.171 ton pupuk organik, 349.419 ton pupuk Urea, 396.891 ton pupuk NPK, dan 24.282 ton pupuk NPK FL. Kuota 2024.
Total jumlah penerimanya, "759.098 NIK atau petani," warta Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung, Tubagus M. Rifki kepada awak media, 18 Februari lalu.
Kabar penyelia --kabar baik, seputar pupuk bersubsidi ini, atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dengan didorong keinginan kuat yang luhur (demi mensejahterakan petani), plus, ditambah bonus ekstra salah satunya buah dari lobi tingkat tinggi dari Gubernur Mirza saat masih berstatus cagub terpilih belum terlantik usai menemui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta.
Yakni, inisiasi sang menteri pemberani idola petani itu menerbitkan beleid Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 4/2025 tentang Perubahan Kedua atas Permentan Nomor 10/2022 tentang Tata Cara Penetapan Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian.
Dimana, pemerintahan Prabowo-Gibran melalui Kementerian Pertanian memasukkan budidaya tanaman ubikayu atau singkong sebagai usaha tani subsektor pertanian (sebagaimana bunyi Pasal 3 ayat 2 poin "d") sehingga petani singkong dapat memperoleh pupuk bersubsidi (sebagaimana pengaturan peruntukan pupuk bersubsidi bagi petani pelaku usaha tani subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, Pasal 3 ayat 1).
Jadi ingat lagi deh, istilah pajalengkong. Singkatan dari, padi jagung kedelai singkong.
Soal POC, salah satu pemisalan pembuktian kemantapan Mirza-Jihan mengeksekusinya berbasis hasil belanja masalah yang dapat dipertanggungjawabkan itu, seperti yang Mirza sampaikan saat masih berstatus cagub, dalam kampanye dialog terbuka bersama warga di Pekon Datarajan Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus, digagas Relawan GAS dan kelompok tani setempat, dihadiri antusias petani dan warga, 14 November 2024 lalu.
Di situ, selain membuka pidato kampanye dengan sebait pantun: “Daun salam daun nanas, yang jawab salam saya, hutangnya lunas. Jalan-jalan ke Ulu Belu, ingin sekali berlama-lama. Kalau ingin Lampung maju, Mirza-Jihan kita dukung bersama.”
Mirza, menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur di Lampung khususnya desa, menegaskan komitmen Presiden Prabowo Subianto memprioritaskan pembangunan di Lampung sebagai pembuktian penunaian janji kampanye Pilpres yang Prabowo menangkan di Lampung.
“Saya menerima pesan dari bapak ibu semua di Ulu Belu. Banyak yang bilang, ‘Pak Mirza, Ulu Belu ini tolong diperhatikan kalau jadi gubernur.’ Infrastruktur harus jadi prioritas, agar petani kopi dan lada di sini bisa lebih makmur. Keinginan bapak ibu adalah keinginan saya. Saya hadir untuk melihat langsung, mendengar langsung, dan memastikan program kami sesuai kebutuhan masyarakat,” ungkap Mirza, saat itu.
Ujar Mirza, dukungan Presiden Prabowo akan jadi kunci membangun Lampung. “Februari lalu bapak ibu memilih Pak Prabowo, dan sekarang beliau sudah jadi presiden. Kalau saya terpilih, kita akan manfaatkan dukungan ini untuk membangun desa-desa, menambah kuota pupuk subsidi, serta mendirikan pabrik pupuk organik di Lampung,” tekadnya, juga menyebut komitmennya dukung program gizi nasional dengan memastikan ketersediaan susu, telur, ikan, dan ayam bagi masyarakat.
“Pak Prabowo ingin semua bahan pangan ini dibeli langsung dari petani dan peternak lokal, agar ekonomi masyarakat desa semakin kuat. Kalau susu kita tidak ada, perlu ada peternakan sapi perah, dan saya kira di Ulu Belu ini cocok,” imbuhnya pula.
Poin POC ini, saat kampanye masih kisi-kisi, demi meminjam langgeng peribahasa, yakni 'merpati tak pernah ingkar janji', kini saat telah terpilih terlantik kontan eksekusi.
Dan kendati tak cukup valid data berbunyi, namun dari derajat keterkenalan dan juga hasil temukenali, di Indonesia, diketahui ada terdapat sejumlah provinsi yang juga konsen soal POC, konsen memfasilitasi rakyat taninya melalui pengembangan progresif POC ini.
Sebut, Jawa Timur dimana salah satunya via pemanfaatan daun gamal sebagai bahan baku POC di Jember sekitarnya, Jawa Barat penghasil sawi terbesar disusul Sumatra Utara, dan Gorontalo melalui fasilitasi bagi industri kecil menengah (IKM)-nya bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian.
Dan, Lampung: lumbung pangan penghasil padi dan jagung terbesar keenam nasional, penghasil pisang terbesar ketiga nasional, penghasil singkong dan kopi Robusta terbesar pertama nasional, penghasil nanas kaleng terbesar di Asia Tenggara, dan lainnya.
Mirza-Jihan, Allah tidak tidur. Mari rubah status Lampung yang notabene "kaya tapi miskin" ini, bergerak pelan menjadi "kaya": kaya hasil bumi, kaya sejahtera rakyatnya. Dengan kalian berdiri tegak diantaranya. Bukan dengan simsalabim abrakadabra, nun dengan kaya hasil bukti. Nyata. (Muzzamil)
