BOYOLALI, HELOINDONESIA.COM - Sebuah inovasi pembuatan pupuk organik berbasis cacing tanah memantik rasa ingin tahu ratusan petani dari Sekolah Tani Nusantara (STN) Karanganyar.
Mereka mengikuti kunjungan belajar ke Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Joyo Tentrem di Dusun Kembangsawit, Desa Tempursari, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, Selasa 15 Juli 2025.
Baca juga: PPPK di Kendal Terima SK, Bupati Tekankan Kedisiplinan dan Loyalitas
Dalam kunjungan tersebut, para petani mendalami proses pengelolaan vermicompos pupuk organik bernutrisi tinggi yang dihasilkan dari penguraian kotoran hewan oleh cacing tanah.
Ketua STN Hari Susanto mengatakan, Joyo Tentrem dipilih sebagai lokasi pembelajaran karena fasilitas pendidikannya sangat lengkap dan aplikatif.
"Di sini kami bisa belajar dari hulu ke hilir: mulai dari pengelolaan limbah ternak, proses produksi vermikompos, sampai cara menjualnya. Ada peternakan sapi, lahan produksi pupuk, serta kebun melon dan anggur yang semuanya saling terintegrasi," terang Hari.
Ketua P4S Joyo Tentrem, Wisnu Wijaya Adi Putra, menjelaskan bahwa vermikompos merupakan hasil pengolahan limbah kotoran sapi yang dimakan oleh cacing tanah, kemudian menghasilkan kotoran baru yang kaya unsur hara.
"Kami gunakan untuk kebun sendiri, dan kelebihannya kami jual. Kualitasnya sudah diuji oleh Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM," jelas Wisnu yang juga mantan anggota DPR RI periode 2019-2024 ini.
Baca juga: Samuel Wattimena: Kualitas dan Narasi Jadi Kunci Daya Jual Wastra Nusantara di Era Digital
Dikatakannya, potensi produksi vermikompos di Boyolali sangat besar. Berdasarkan data BPS 2025, jumlah sapi di Boyolali mencapai 144.899 ekor. Dengan asumsi setiap sapi menghasilkan 20 kg kotoran per hari, potensi limbah ternak bisa mencapai 1 juta ton per tahun. Setelah diproses, bisa menghasilkan sekitar 313 ribu ton vermikompos per tahun.
Agrowisata
Tak hanya menjadi pusat pelatihan, P4S Joyo Tentrem juga dikembangkan sebagai destinasi agrowisata. Pengunjung dapat menikmati wisata petik buah anggur dan melon serta menginap untuk merasakan pengalaman belajar pertanian secara langsung.
STN sendiri merupakan program unggulan dari Yayasan Artha Tani Nusantara yang fokus membina 750 petani dan calon petani muda. "Kami ingin pertanian menjadi jalan menuju kesejahteraan dan kemandirian ekonomi desa," kata Hari.
Sebagai tindak lanjut kunjungan, STN dan P4S Joyo Tentrem sepakat menjalin kerja sama dalam produksi pupuk dan suplemen organik cair, serta pembangunan demplot (lahan percontohan) penggunaan vermikompos di lahan petani STN.
"Dengan adanya demplot, petani bisa melihat langsung dampak penggunaan vermikompos terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil panennya. Bukti nyata akan jauh lebih meyakinkan daripada teori semata," pungkas Wisnu. (Aji)
