Helo Indonesia

Para Kiai Sebut Generasi Mahal Telah Terbangun di Ponpes Lifeskill Darun Najaah

Selasa, 9 Desember 2025 07:14
    Bagikan  
Para Kiai Sebut Generasi Mahal Telah Terbangun di Ponpes Lifeskill Darun Najaah

Kegiatan dalam Ngaji Bareng Gus Ploso di Ponpes Lifeskill Darun Najaah Semarang

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Keteduhan dan energi baru mengapung di Ponpes Lifeskill Darun saat ratusan santri dan alumni berkumpul dalam Ngaji Bareng Gus Ploso sekaligus Pengukuhan Pengurus Ikatan Mutakhorrijin Al-Falah Ploso (IMAP) Kota Semarang, Minggu 7 Desember 2025.

Di tengah lantunan doa dan kajian, dua tokoh muda pesantren, KH Zidni Ilman Nafi’a (Gus Zidni) dan KH Shohibul Ulumin Nafi’a (Gus Shohib), menyampaikan pesan yang tak hanya menggetarkan jiwa, tetapi juga membangkitkan tekad para santri.

Baca juga: Gubernur Jateng Perintahkan Bentuk Satgas untuk Tangani Tambang Gunung Slamet

Dari panggung sederhana yang dipenuhi cahaya sore, Gus Zidni membuka tausiyahnya dengan pujian untuk PP Lifeskill Darun Najaah. Ia menegaskan bahwa santri di pesantren tersebut adalah “generasi mahal”—generasi yang memiliki nilai tinggi, kompetensi kuat, dan masa depan yang menjanjikan.

“Kita adalah kader-kader yang mahal jika kalian semua bisa selesai dan tuntas belajar di sini. Namun, hal-hal yang mahal tidak akan dihargai jika kalian tidak punya keinginan untuk maju,” tutur Gus Zidni dengan suara bergetar namun tegas, membuat puluhan santri menunduk, merenungi kalimat yang menggugah itu.

Kiai tersebut menekankan bahwa kualitas intelektual saja tidak cukup untuk menghadapi derasnya arus zaman. Santri harus dipagari dengan kekuatan spiritual—wirid, awrad, dan kajian kitab—sebagaimana tradisi yang terus dijaga oleh pengasuh ponpes, Prof Dr KHAhmad Izzuddin MAg yang juga Ketua Syuriah IMAP Kota Semarang.

“Tidak cukup hanya dengan belajar. Intelektual kalian harus dibentengi awrad dan dzikir agar kalian lulus dari pesantren ini sebagai pemimpin masa depan,” tegasnya, disambut anggukan para santri.

Berdakwah

Dari sisi lain panggung, Gus Shohib memberikan apresiasi khusus kepada santri-santri yang terus berdakwah melalui media sosial. Menurutnya, dakwah digital bukan hanya tren, tetapi kebutuhan zaman.

“Dakwah bil hal memang lebih mengena. Tapi di era sekarang, dakwah di media sosial harus kuat, harus menjadi pembanding dari informasi-informasi lemah yang berseliweran,” ujarnya, mengutip pesan KH Zainudin Djazuli yang merupakan ayahnya.

Baca juga: Lewat Event dan Penataan, Kota Semarang Perkuat Posisi sebagai Kota Wisata

Gus Shohib menyebut, ketika santri turun langsung ke masyarakat dan sekaligus aktif di ruang digital, maka perjuangan dakwah menjadi lebih lengkap, lebih menyentuh, dan lebih relevan dengan tantangan masa kini.

Menutup rangkaian pesan, Gus Shohib mengingatkan tentang pentingnya menjaga hubungan dengan guru dan pondok, baik bagi santri aktif maupun alumni.

“Perjuangan memajukan pesantren adalah perjuangan bersama. Jangan pernah putus hubungan dengan pondok dan para masyayikh,” pesannya, yang langsung disambut haru para alumni yang hadir.

Acara itu bukan hanya menjadi momentum pengukuhan pengurus IMAP, tetapi juga penguat semangat untuk terus bergerak, terus berjuang, dan terus menjaga nilai-nilai pesantren. Sore itu, Darun Najaah menjadi saksi lahirnya kembali tekad para santri—tekad untuk menjadi “generasi mahal” yang siap memimpin masa depan. (Aji)