LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ---- Setiap 21 Februari, seperti tepat hari ini, Sabtu (21/2/2026), masyarakat dunia memperingatinya sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional sejak tahun 2000 silam. Turut memperingatinya, selain itu masyarakat Indonesia juga memperingati hari itu sebagai Hari Peduli Sampah Nasional sejak 2006. Sama-sama 21 Februari, siapa nyana kedua peringatan ini sama-sama dipicu tragedi?
Ya. Peristiwa tragis tewasnya sejumlah mahasiswa Bangladesh dalam demonstrasi memperjuangkan pengakuan bahasa Bengali pada 21 Februari 1952 silam, menjadi latar belakang penetapannya sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional, oleh Badan Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 1999, yang diperingati setiap 21 Februari sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman bahasa dan budaya dunia.
Peringatannya secara global oleh berbagai negara dimulai sejak tahun 2000, bertujuan meningkatkan kesadaran pentingnya bahasa ibu dalam kehidupan dan identitas budaya bangsa. Perjuangan peradaban manusia untuk mempertahankan keberadaan, mencegah kepunahan, sekaligus melindungi sedikitnya enam ribuan bahasa ibu yang digunakan di seluruh dunia; diketahui menghadapi ancaman nyata: terancam punah akibat minimnya penutur. Termasuk bahasa Lampung.
Lalu, masyarakat Indonesia juga memperingati 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) sejak 2006. Tahukah Anda, penetapannya ternyata dilatari peristiwa tragis hilangnya lebih dari 150-an nyawa melayang sia-sia?
Alkisah, hujan lebat curah tinggi pada 21 Februari 2005 antara lain mengakibatkan bencana longsoran sampah beserta ledakan gas metana pada tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat. 157 jiwa dinyatakan tewas. Dua kampung yakni Cilimus dan Pojok, bahkan dinyatakan hilang dari peta gegara tergulung longsoran sampah yang berasal dari TPA.
Saat itu, sekitar pukul 02.00 WIB, tetiba terdengar ledakan keras di kawasan Leuwigajah. Diikuti menyertai longsor sampah di TPA, menyapu pemukiman Kampung Cilimus dan Kampung Pojok yang jaraknya sekitar 1 km dari TPA. Luluh lantak tertimbun. Gunungan sampah sepanjang 200 meter dan setinggi 60 meter itu diduga goyah diguyur hujan deras semalam suntuk. Termasuk diduga terpicu konsentrasi gas metan dari dalam tumpukan sampah. Itu juga yang diduga menyebabkan munculnya suara ledakan. Pascaperistiwa kawasan Bandung Raya praktis tidak lagi memiliki TPA.
Atas ide dan desakan dari sejumlah pihak untuk mengenang peristiwa berdarah di Leuwigajah, (saat itu) Kementerian Negara Lingkungan Hidup akhirnya canangkan 21 Februari 2006 sebagai Hari Peduli Sampah pertama kali. Berlanjut hingga saat ini. Saat negeri ini masih terus digelayuti PR raksasa urusan sampah yang dodor, mulai dari budaya buruk buang sampah sembarangan, hingga bahkan jadi destinasi impor sampah asing segala. (Muzzamil)
