Helo Indonesia

Tubaba Uji Teknologi Pirolisis, 50 Kg Sampah Plastik Bisa Jadi 45 Liter BBM

7 jam 0 menit lalu
    Bagikan  
Tubaba Uji Teknologi Pirolisis, 50 Kg Sampah Plastik Bisa Jadi 45 Liter BBM
HELO LAMPUNG

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Tubaba, Dwi Supriyanto,

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM----
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, mulai mengembangkan teknologi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM). Inovasi tersebut dilakukan untuk mengurangi volume sampah plastik sekaligus memberikan nilai ekonomi terhadap limbah.

Program yang digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tubaba itu dipusatkan di TPS 3R Kelurahan Mulya Asri, Kecamatan Tulang Bawang Tengah (TBT).

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Tubaba, Dwi Supriyanto, mengatakan pengolahan sampah plastik menjadi BBM tersebut masih dalam tahap uji coba dan evaluasi.

"Program ini kita kembangkan untuk mengolah sampah plastik menjadi BBM. Saat ini masih dalam tahap uji coba dan evaluasi untuk melihat efektivitas serta keberlanjutannya," kata Dwi mewakili Kepala DLH Tubaba Iwan Setiawan, Rabu (2/9/2026).

Dalam uji coba tersebut, DLH Tubaba menggunakan Mesin Pirolisis Gen 5 produksi Bank Sampah Banjarnegara atau PT BSB, Jawa Tengah.

Mesin tersebut dilengkapi sejumlah komponen, antara lain tungku, treatment, katalis, dan toren sirkulasi. Pengadaannya menggunakan APBD Tubaba Tahun Anggaran 2026 melalui mekanisme e-purchasing pada e-katalog.

Nilai pengadaan mesin mencapai Rp158,73 juta, termasuk biaya pengiriman dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

"Proses pemesanan dimulai pada 22 Juli 2026. Mesin kemudian dibeli pada Agustus 2026 dan tiba di Kabupaten Tubaba pada akhir Agustus," ujar Dwi.

Kapasitas 50 Kilogram Plastik Per Hari

Dwi menjelaskan, mesin pirolisis bekerja dengan mengurai sampah plastik melalui proses pemanasan untuk menghasilkan BBM.

Mesin tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 50 kilogram sampah plastik per hari. Dari jumlah tersebut, diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 40-45 liter BBM.

Proses produksi membutuhkan waktu sekitar 8-11 jam per hari dan dimulai sekitar pukul 06.00 WIB.

"Untuk hasilnya, dari sekitar 50 kilogram sampah plastik bisa menghasilkan kurang lebih 40 sampai 45 liter BBM. Tetapi semuanya masih terus kita evaluasi," katanya.

Menurut Dwi, karakteristik BBM yang dihasilkan dalam uji coba disebut menyerupai bahan bakar jenis solar dan Pertamina Dex. Namun, DLH Tubaba masih melakukan kajian lebih lanjut mengenai kualitas, harga produksi, pemanfaatan, hingga kemungkinan penjualannya.

Mesin tersebut telah diuji coba selama sekitar satu pekan dengan tiga kali proses produksi. BBM hasil pengolahan kemudian digunakan untuk uji coba pada sejumlah kendaraan, termasuk kendaraan milik Bupati Tubaba dan Kepala DLH Tubaba.

"Penggunaan BBM hasil pengolahan pada kendaraan tersebut berjalan aman dan lancar selama pengujian," ungkapnya.

Dwi menambahkan, mesin pirolisis yang digunakan disebut telah memiliki hak paten dari pihak produsen dan telah melalui sejumlah pengujian, termasuk pengujian oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Untuk mendukung operasional mesin, DLH Tubaba saat ini menyiapkan dua tenaga operator. Satu operator bertugas menangani proses produksi, sedangkan operator lainnya menangani bagian treatment.

Bahan baku berasal dari sampah plastik yang dikumpulkan masyarakat, TPS 3R Mulya Asri, serta TPA Kabupaten Tubaba.

Namun, tidak seluruh jenis plastik digunakan. Plastik yang mengandung aluminium foil dan PVC dikecualikan karena dinilai dapat mempengaruhi kualitas maupun hasil produksi.

DLH Tubaba juga membeli sampah plastik yang memenuhi persyaratan dari masyarakat dengan harga sekitar Rp500 per kilogram.

Selain bahan baku plastik, proses produksi membutuhkan kayu bakar sebagai salah satu komponen biaya operasional.

Dwi mengatakan DLH masih menghitung keseluruhan biaya produksi, mulai dari pembelian sampah plastik, bahan bakar, tenaga operator hingga biaya operasional lainnya. Perhitungan tersebut nantinya menjadi dasar dalam menentukan harga BBM hasil pengolahan.

"Jadi kita masih dalam tahap kajian dan dapat mengalami penyesuaian berdasarkan hasil evaluasi. Jika hasil evaluasi menunjukkan program berjalan efektif, efisien dan berkelanjutan, DLH Tubaba juga berencana meningkatkan kapasitas pengolahan," jelasnya.

Jika program dinilai berhasil, DLH Tubaba berencana menambah mesin pirolisis di sejumlah kecamatan. Pengembangan tersebut akan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, kelompok masyarakat pengelola sampah, serta kesiapan lokasi.

DLH juga membuka peluang menggandeng perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung pengembangan pengolahan sampah plastik menjadi BBM.

Pengolahan yang dilakukan lebih dekat dengan sumber sampah diharapkan dapat mengurangi volume sampah plastik yang berakhir di TPA sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

"Harapannya, sampah plastik ini tidak hanya menjadi masalah, tetapi bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi. Program ini akan kita kembangkan lebih luas. Jadi mulai saat ini jangan lagi membuang sampah plastik, ini adalah emas untuk masa depan," pungkas Dwi.

(Rohman).