Helo Indonesia

RDP Proyek Trotoar Ambrol, Dirut Bungkam, ke Wartawan: Wis Wis Wis

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
1 jam 30 menit lalu
    Bagikan  
PROYEK
HELO LAMPUNG

PROYEK - RDP pengerjaan proyek trotoar Wayhalim bersama Dirut PT Asmi Hidayat, Ardy Gunawan.

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- DPRD Kota Bandarlampung menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dirut PT Asmi Hidayat, Ardy Gunawan, soal pengerjaan revitalisasi proyek trotoar yang ambrol di Ruang Rapat Komisi III, Rabu (2/9/2026).

Selama RDP, Ardy Gunawan yang didampingi sejumlah stafnya lebih banyak manggut-manggut saat wakil rakyat, Aderly Imelia Sari, mengkritisi profesionalitas pengerjaan proyek senilai Rp22,77 miliar tersebut.

undefined

Dirut PT Asmi Hidayat, Ardy Gunawan,

Usai RDP, di- doorstop wartawan, Ardy Gunawan hanya berkomentar "wis wis wis" (sudah sudah sudah) sambil berlalu meninggalkan kerumunan awak media yang hendak konfirmasi terkait pengerjaan dan ambrolnya trotoar saat dicor semen.

Hearing tersebut juga dihadiri Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Kota Bandarlampung, Rayu R. Wiranegara dan sejumlah wakil rakyat lainnya, yakni Agus Djumadi, Wiwik Anggreini, Agus Widodo, Zainal Abidin, Rizaldi Adrian, Yuhadi, Rama Apriditya, Agung Zawil.

Aderly Imelia Sari mengatakan ambruknya trotoar saat dikerjakan tidak bisa serta-merta disimpulkan akibat faktor alam. Kualitas material hingga metode pengerjaan dinilai perlu diperiksa secara menyeluruh, ujarnya.

undefined

Aderly Imelia Sari,

Aderly menduga robohnya trotoar akibat dugaan penggunaan material penyangga yang tidak layak, termasuk material bekas. “Material bekas, jelas itu tidak kuat sehingga terjadi ambrol," kata politikus Fraksi Gerindra itu.

Menurut dia, faktor alam memang tidak bisa diabaikan. Namun, pemeriksaan harus dilakukan untuk memastikan apakah kerusakan benar-benar disebabkan hujan deras atau cuaca ekstrem.

“Kalau memang penyebabnya adalah faktor alam, tentu kita masih bisa memakluminya. Misalnya karena hujan deras atau kondisi cuaca yang ekstrem, itu memang merupakan masalah alam,” ujarnya.

Namun, kata Aderly, persoalan menjadi serius apabila ditemukan adanya kelalaian atau kesalahan dalam proses pelaksanaan pekerjaan. Terlebih, nilai proyek tersebut mencapai Rp22,77 miliar.

“Masalahnya, ini nilainya mencapai Rp22,77 miliar dan semuanya sudah habis. Jadi kita perlu memastikan apakah memang seluruh permasalahan tersebut disebabkan oleh faktor alam atau ada faktor lain yang perlu dipertanggungjawabkan,” katanya. (Hajim)