Helo Indonesia

Bentrok Antarmahasiswa Unila Berbuntut, Korban Lapor Polisi

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
1 jam 15 menit lalu
    Bagikan  
UNILA
HELO LAMPUNG

UNILA - Saat terjadi keributan akibat smoke bomb di GSG Unila

BANDARLAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Bentrok antarmahasiswa yang dipicu smoke bomb dan garis batas tempat duduk berbuntut panjang. Keluarga Zahri Azis Ibrahim yang jadi korban pengeroyokan tak terima dan melaporkannya ke Polresta Bandarlampung.

Mahasiswa Jurusan Kehutanan Angkatan 2024 itu mengalami luka dan memar di kepala, badan, dan kaki. Sejumlah mahasiswa dari fakultas lain mengeroyoknya di jalan depan Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Lampung (Unila), Sabtu (3/10/2026).

Zahri Azis ingin tahu siapa yang telah mengeroyoknya dan memeroleh keadilan atas kekerasan yang dialaminya pada acara Parade Mahasiswa Unila 2026 yang justru mengusung kegembiraan, kreativitas dan solidaritas mahasiswa.

Informasi yang diperoleh Heloindonesia.com, awalnya, ada mahasiswa FISIP Unila yang membakar smoke bomb. Mahasiswa Faperta yang terdampak dan ada yang asma pun terbakar emosinya.

Belum terkonfirmasi, seorang mahasiswa Faperta langsung bereaksi spontan memukul mahasiswa yang dikiranya dari FISIP Unila. Ternyata, mahasiswa Fakultas Teknik Unila.

Begitu keluar GSG Unila, mereka mengeroyok mahasiswa Faperta. Akhirnya Parade yang semestinya menjadi panggung kegembiraan, kreativitas dan solidaritas mahasiswa justru berubah ricuh.

Versi lainnya, mahasiswa Fakultas Teknik didorong namun dikira memukul sehingga pecah bentrokan kedua kubu. Banyak yang menilai Unila telah lalai hingga jebolnya smoke bomb.

Persoalan bermula dari hal yang tampak sederhana: garis atau batas tempat duduk massa FP.
Situasi kemudian memanas setelah penggunaan smoke bomb yang disebut melanggar tata tertib acara, kata Koordinator Lapangan FP, Yanuar Prayoga (Kelautan '23).

Penggunaan smoke bomb tersebut pemicu utama membesarnya ketegangan. Dari persoalan garis tempat duduk, situasi kemudian berkembang menjadi keributan antarmassa.

Inilah yang kemudian menjadi ironi terbesar Parade Unila 2026.
Sebab, apa yang hendak dirayakan sebenarnya adalah persaudaraan mahasiswa dalam satu universitas, bukan siapa yang paling berani, paling banyak membawa massa, dan bukan siapa yang paling keras.

Menurut Menteri Kesenian dan Olahraga BEM Unila, Rakan Guntur (Teknik Mesin '23), Gubernur FISIP dan Gubernur FP telah menandatangani kesepakatan bermeterai untuk mematuhi tata tertib. Artinya, persoalan sebenarnya bukan karena tidak ada aturan, tapi konsistensinya di lapangan.

Di sinilah parade semestinya menemukan maknanya.
Perbedaan warna fakultas seharusnya menjadi kekayaan.
Bukan bahan bakar konflik.
Sebab ketika identitas fakultas berubah menjadi fanatisme sempit, garis batas tempat duduk bisa berubah menjadi garis batas permusuhan.

Smoke bomb yang semestinya hanya menjadi bagian dari ekspresi acara, jika digunakan melanggar aturan, bisa berubah menjadi pemantik emosi.
Dan ketika emosi bertemu massa, persoalan kecil bisa menjadi api. (HBM)