Helo Indonesia

Smoke Bomb Robek Perade Unila 2026, Bentrok FP vs FISIP

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
1 jam 7 menit lalu
    Bagikan  
UNILA
HELO LAMPUNG

UNILA - Smoke bomb malah memantik ledakan antarfakultas hingga merobek semangat Parade Unila 2026.

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Ada yang paradoks di depan Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Lampung (Unila), Sabtu (3/10/2026). Parade yang semestinya menjadi panggung kegembiraan, kreativitas dan solidaritas mahasiswa justru berubah ricuh.

Massa Fakultas Pertanian (FP) dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) gesekan ketika Parade Unila 2026 tersebut. Di satu sisi, mahasiswa datang membawa identitas fakultas, atribut, yel-yel dan semangat kebersamaan. Sisi lain, semangat itu nyaris berubah jadi benturan.

Persoalan bermula dari hal yang tampak sederhana: garis atau batas tempat duduk massa FP. Situasi kemudian memanas setelah penggunaan smoke bomb yang disebut melanggar tata tertib acara, kata Koordinator Lapangan FP, Yanuar Prayoga (Kelautan '23).

Penggunaan smoke bomb tersebut pemicu utama membesarnya ketegangan. Dari persoalan garis tempat duduk, situasi kemudian berkembang menjadi keributan antarmassa.

Inilah yang kemudian menjadi ironi terbesar Parade Unila 2026.
Sebab, apa yang hendak dirayakan sebenarnya adalah persaudaraan mahasiswa dalam satu universitas, bukan siapa yang paling berani, paling banyak membawa massa, dan bukan siapa yang paling keras.

Menurut Menteri Kesenian dan Olahraga BEM Unila, Rakan Guntur (Teknik Mesin '23), Gubernur FISIP dan Gubernur FP telah menandatangani kesepakatan bermeterai untuk mematuhi tata tertib. Artinya, persoalan sebenarnya bukan karena tidak ada aturan, tapi konsistensinya di lapangan.

Di sinilah parade semestinya menemukan maknanya. Perbedaan warna fakultas seharusnya menjadi kekayaan. Bukan bahan bakar konflik.
Sebab ketika identitas fakultas berubah menjadi fanatisme sempit, garis batas tempat duduk bisa berubah menjadi garis batas permusuhan.

Smoke bomb yang semestinya hanya menjadi bagian dari ekspresi acara, jika digunakan melanggar aturan, bisa berubah menjadi pemantik emosi.
Dan ketika emosi bertemu massa, persoalan kecil bisa menjadi api.

BEM Pilih Mediasi

Untungnya, persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut. BEM Unila bersama perwakilan BEM fakultas terkait mengambil langkah mediasi. Yanuar mengatakan persoalan kericuhan dan pihak yang terdampak akan ditindaklanjuti melalui mediasi antara BEM Universitas dan perwakilan fakultas.

Justru kemampuan menyelesaikan konflik dengan kepala dingin seharusnya menjadi salah satu hasil pendidikan organisasi mahasiswa. Mediasi juga semestinya tidak berhenti pada perdamaian seremonial.

Perlu dicari siapa yang melanggar aturan, mengapa aturan tidak efektif, bagaimana pengawasan dilakukan, serta bagaimana kejadian serupa tidak terulang. Termasuk memastikan kondisi mahasiswa yang disebut menjadi korban dalam kericuhan mendapatkan perhatian.

Jangan JAdi Cermin Buram

GSG Unila selama ini menjadi salah satu ruang berkumpulnya mahasiswa dalam berbagai kegiatan besar. Karena itu, kericuhan di tempat tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi serius.

Bukan untuk mencari siapa yang paling salah. Melainkan untuk memastikan tradisi kemahasiswaan di Unila tetap sehat. Kampus membutuhkan mahasiswa yang kritis.
Kampus membutuhkan mahasiswa yang berani.

Kampus juga membutuhkan mahasiswa yang memiliki identitas dan solidaritas. Tetapi keberanian tanpa kendali dapat berubah menjadi keberingasan. Solidaritas tanpa nalar dapat berubah menjadi fanatisme dan fanatisme tanpa aturan hanya tinggal menunggu waktu untuk menjadi konflik.

Maka pertanyaan terbesarnya bukan siapa yang menang dalam keributan di depan GSG. Sebab dalam bentrokan antarmahasiswa, sesungguhnya tidak ada pemenang. Yang ada hanya pihak yang sama-sama kehilangan: rasa persaudaraan, martabat kegiatan, dan yang paling berbahaya, kehilangan kepercayaan bahwa kampus mampu menjadi ruang aman untuk berbeda. (HBM)