Helo Indonesia

Bambang Eka Wijaya (BEW), Manusia Tiga Detik

Helo Lampung - Nasional -> Peristiwa
Kamis, 16 Maret 2023 12:00
    Bagikan  
Bambang Eka Wijaya (BEW), Manusia Tiga Detik

Sudarmono

Oleh Sudarmono*

SOROT matahari yang menembus sela gorden biru muda di sisi Barat Ruang Redaksi "Lampung Post" di lantai dua sudah menguning. Saat itu (lupa tahunnya), saya mendapat amanah sebagai penjaga Rubrik Opini. Di halaman itu, ada satu rubrik bernama Nuansa. Space ini berisi tulisan kolom ringkas yang ditulis oleh wartawan internal Lampung Post.

Dengan kesibukannya masing-masing, tak setiap wartawan yang diberi tugas sesuai jadwal bisa memenuhi tenggat. Banyak alasan yang dibuat. Dan, beban ini terpaksa saya tulis sendiri setelah mengasong menawarkan ke "pelanggan" Nuansa tidak laku. Sebab, Nuansa harus tetap ada.

Situasi keterpaksaan ini sungguh merisaukan. Sebab, untuk satu tulisan kolom yang hanya 40 baris itu tetap butuh bahan. Materialnya juga nggak bisa ecek-ecek karena standar "Lampung Post" memang tidak "elek-elek". Tetapi, karena terpaksa, ya saya sering nulis di rubrik ini dengan pakem "daripada tidak".

Sore yang panik itu, saya mengobrak-abrik isi kepala, membolak-balik koran, "membully" teman-teman yang juga sedang mengejar deadline agar muncul ide atau gagasan. Walhasil, saya ingat tulisan "Buras" Pak Bambang Eka Wijaya yang pernah saya baca.

Saya lupa judul tulisan kolom itu, tetapi kisahnya diangkat dari perjuangan tiga penjual asuransi untuk meyakinkan calon nasabahnya. Itulah saatnya saya memuji seseorang bernama Bambang Eka Wijaya dengan tulisan kolom berjudul "BEW".

Saya kutip kembali dramaturgi yang dibangun BEW pada lakon tiga sales asuransi melakukan prospek. Ketiga pedagang jasa penanggungan itu sudah presentasi dengan segala keunggulannya.

Namun, semua prospektusnya mirip-mirip saja. Tak ada perbedaan berarti. Terakhir, mereka adu cepat pada pencairan klaim uang pertanggungan jika terjadi kecelakaan atau apapun yang terdapat pada klausul perjanjian.

Sales Satu bilang: "Kalau Bapak mengalami kecelakaan hari ini, besok pagi uang klaim pertanggungan kami bayarkan penuh!"
Tak mau kalah, Sales Dua nyodok: "Kalau Bapak meninggal pukul 12.00 ini, satu jam kemudian atau pukul 13.00 uang klaim pertanggungan kami bayar cash!"

Terakhir, sales ketiga geleng-geleng kepala. Ia memandangi sekeliling ruang seraya menanyakan ruang kerja bapak calon nasabah yang diprospek itu berada di gedung tinggi lantai berapa. Sang Calon Nasabah menjawab: "Ruang kerja saya berada di Lantai 18 Gedung Tinggi."

Kemudian, salesman itu berkata: "Wah, kalau begitu kebetulan, Pak. Ruang kerja Bapak berada di gedung yang sama dengan kantor saya di Gedung Tinggi. Dan kebetulan lagi, posisi ruang kerja Bapak segaris vertikal dengan Ruang Bendahara perusahaan asuransi kami di Lantai 5.

Jadi, saya pastikan jika Bapak jatuh dari ruang kerja Bapak di Lantai 18 Gedung Tinggi, dalam tiga detik akan sampai di depan ruang bendahara kami. Dan saat itu juga klaim kami bayarkan!"
Innalilahi....

BEW berpikir serumit itu untuk memberi kami pelajaran tentang "betapa pentingnya detail" dalam khazanah jurnalistik... Surga tempatmu, Pak...Tabik

* Wartawan