Helo Indonesia

Gubernur Jateng Evaluasi Pascakebakaran Sumbing: Fokus Air Bersih dan Rehabilitasi Lahan

1 jam 59 menit lalu
    Bagikan  
Gubernur Jateng Evaluasi Pascakebakaran Sumbing: Fokus Air Bersih dan Rehabilitasi Lahan

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat meninjau lokasi dan bertemu relawan di Basecamp Bimawari, Kabupaten Temanggung

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Api di Gunung Sumbing akhirnya padam setelah melalap 974,29 hektare kawasan hutan dan lahan di tiga kabupaten. Meskipun begitu, perjuangan belum usai. Kebakaran itu kini menyisakan pekerjaan rumah besar: memulihkan krisis air bersih warga, melestarikan kembali vegetasi yang hangus, serta mencegah potensi kebakaran susulan.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa penanganan pascabencana menjadi fokus utama pemerintah saat ini. Ia meminta tim gabungan bergerak cepat tidak hanya melakukan evaluasi dampak, tetapi juga mempercepat rehabilitasi lingkungan dan memulihkan akses kebutuhan dasar masyarakat.

Baca juga: Obor Api Abadi Mrapen Tiba di KONI Jateng, Siap Bakar Gelora di Pembukaan Porprov XVII

Ahmad Luthfi, meminta tim gabungan tidak hanya memastikan api benar-benar padam, tetapi juga mengevaluasi dampak kebakaran dan mempercepat rehabilitasi kawasan terdampak. Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, terutama akses air bersih, menjadi salah satu prioritas.

“Hari ini wilayah Gunung Sumbing telah padam, tetapi yang kita evaluasi adalah upaya pascabencananya. Di antaranya, kebutuhan dasar masyarakat harus terpenuhi,” kata Ahmad Luthfi usai meninjau lokasi dan bertemu relawan di Basecamp Bimawari, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Minggu, 25 Oktober 2026.

Kebakaran yang meluas di wilayah Kabupaten Wonosobo, Magelang, dan Temanggung itu, tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga merusak sejumlah fasilitas yang menopang kehidupan warga. Berdasarkan laporan masyarakat, beberapa saluran pipa air bersih terbakar atau rusak sehingga perlu segera diperbaiki.

“Banyak pipa-pipa kita yang terbakar atau rusak itu harus kita recovery kembali. Kemudian, lakukan reboisasi terkait dengan pascabencana. Beberapa masyarakat mengusulkan untuk diberikan tanaman-tanaman yang siap untuk direboisasi kembali. Reboisasi kita lakukan bersama,” ujar Ahmad Luthfi.

Administratur Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara, Dimyati, mengatakan, kebakaran di kawasan Gunung Sumbing yang meliputi tiga kabupaten telah padam sepenuhnya sejak Sabtu, 24 Oktober 2026.

Hasil pemantauan melalui aplikasi Sipongi Kementerian Kehutanan juga tidak lagi menunjukkan titik api maupun asap kebakaran. Meski demikian, petugas masih melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

“Kita pantau hari ini dari Sipongi, Gunung Sumbing bersih dari titik api dan asap kebakaran,” kata Dimyati.

Berdasarkan data Perhutani, total area yang terbakar mencapai 974,29 hektare. Rinciannya, 362 hektare berada di Kabupaten Wonosobo, 213 hektare di Kabupaten Magelang, dan 398,89 hektare di Kabupaten Temanggung. Nilai kerugian ditaksir mencapai Rp189,3 juta.

Sebagian besar area yang terbakar berupa sabana yang ditumbuhi ilalang dan rumput hutan. Namun, di sejumlah titik wilayah Wonosobo, api juga membakar tumbuhan berkayu.

Ahmad Luthfi meminta evaluasi dilakukan berdasarkan data yang akurat, termasuk luasan lahan terbakar serta dampaknya terhadap vegetasi dan satwa liar. Data tersebut diperlukan sebagai dasar menentukan langkah pemulihan yang tepat.

Baca juga: Empat Srikandi Pelatnas Absen, Persaingan Pencak Silat Porprov XVII Jateng Justru Ketat

Selain rehabilitasi, pemerintah juga memperkuat upaya pencegahan agar kebakaran serupa tidak kembali terjadi. Masyarakat diimbau tidak membuang puntung rokok sembarangan maupun menyalakan api tanpa pengawasan di kawasan gunung.

Penyebab kebakaran Sumbing masih dalam penyelidikan. Meski terdapat indikasi awal faktor kelalaian manusia, pemerintah meminta masyarakat tidak berspekulasi sebelum hasil penyelidikan diketahui.

“Penyebab kebakaran atau titik mula api masih dilakukan penyelidikan, indikasi awal adalah human error. Jangan sampai nanti terulang, apalagi sengaja,” kata Luthfi.

Ia menegaskan, penanganan kebakaran hutan dan lahan di Jawa Tengah saat ini terkendali. Selain di Gunung Sumbing, kebakaran juga terjadi di Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, dan Gunung Pakuwaja di kawasan Dieng.

Guna mengantisipasi risiko kebakaran susulan, imbauan penutupan sementara jalur pendakian di gunung-gunung di Jawa Tengah masih berlaku sambil menunggu hasil evaluasi.

Luthfi mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam penanganan kebakaran, mulai dari BPBD provinsi dan kabupaten/kota, BNPB, hingga relawan dan masyarakat. Di Gunung Lawu, pemadaman turut dilakukan melalui jalur udara, sedangkan di Gunung Sumbing penanganan dilakukan melalui jalur darat bersama berbagai unsur. (Aji)