Menjemput Cahaya di Malam Selikur: Kisah Para Pencari Lailatul Qadar di MAJT

Rabu, 11 Maret 2026 15:19
Para jemaah saat melaksanakan salat tasbih pada malam Selikur di MAJT, Selasa malam 10 Maret 2026

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Seiring dengan meredupnya lampu di sudut-sudut Kota Semarang bukan berarti memupuskan gairah untuk bertafakur dan melafazkan ayat-ayat Al-Qur'an di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Selasa malam itu 10 Maret 2026, angin malam yang berembus pelan seolah membawa untaian doa dari ratusan jemaah yang tumpah ruah di ruang utama masjid.

Malam itu adalah "Malam Selikur"—gerbang pembuka sepuluh hari terakhir Ramadan 1447 Hijriah. Bagi umat Islam, inilah saatnya perburuan paling sakral dimulai dengan iktikaf: mencari Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Di malam itu, mereka akan larut dalam doa hingga Rabu (11/3) dini hari.

Baca juga: Personel Basarnas Semarang Dilatih Tangani Kecelakaan Mobil Listrik

Di tengah kerumunan, nampak Zaenuri (48), warga Kebonharjo, Semarang Utara. Dia tidak sendiri. Di sampingnya, sang istri dan tiga anaknya—yang terkecil masih duduk di bangku TK—setia menemani. Bagi Zaenuri, iktikaf adalah ritual syukur tahunan yang tak boleh terlewat.

“Kalau tanggal 1 sampai 20, saya pulang setelah tarawih. Tapi kalau sudah masuk sepuluh terakhir, saya datang sebelum Magrib dan baru pulang setelah Subuh,” tuturnya dengan mata yang berbinar.

Dua anaknya yang sedang libur mondok dari pesantren tahfidz di Karanganyar pun nampak khusyuk melakukan murojaah (mengulang hafalan) Al-Qur'an. Meskipun pengurus menyediakan konsumsi, Zaenuri tetap membawa bekal sendiri dari rumah. “Jaga-jaga kalau jamaah membeludak dan makanan kurang,” tambahnya sambil tersenyum.

MAJT benar-benar "hidup" selama 24 jam. Sejak Magrib, ruang utama sudah dipenuhi jemaah yang berbuka bersama. Di lantai dua, rombongan 30 pelajar dari Sekolah Tahfidz Plus Khairu Ummah Ngaliyan terlihat asyik dengan mushaf mereka.

Menariknya, gelombang jemaah justru semakin besar saat tengah malam. Pukul 22.00 WIB, parkiran kembali padat. Pukul 02.00 WIB dini hari, jumlahnya bahkan lebih banyak lagi.

Kepala Bagian Humas MAJT, Benny Arief Hidayat, menjelaskan bahwa ritual malam ganjil di sini dibagi dalam dua gelombang besar:

Gelombang I (22.30 - 24.00 WIB): Dipimpin oleh KH Amjad Al-Hafidz. Dimulai dengan selawat, salat tasbih, salat hajat, hingga wirid Asmaul Husna. Tercatat 150 jamaah mengikuti sesi ini.

Gelombang II (02.00 WIB - Selesai): Khusus di malam ganjil, dipimpin oleh KH Hanief Ismail. Sebanyak 200 orang larut dalam salat hajat dan zikir hingga menjelang sahur.

"Untuk malam ini, kami menyediakan 250 boks nasi, teh, dan kopi yang dibagikan setelah salat gelombang kedua," jelas Benny yang juga ikut beriktikaf.

Magnet Kaum Muda

Citra iktikaf yang biasanya didominasi lansia, terpatahkan di MAJT. Benny mengungkapkan bahwa tahun ini pihaknya bahkan membuka program khusus iktikaf dengan fasilitas penginapan di Hotel MAJT. Pesertanya? Enam orang perempuan, yang lima di antaranya adalah siswa sekolah.

Baca juga: Bermitra dengan Media, Luthfi Komitmen Wujudkan Keterbukaan Informasi Publik

Di sudut lain, Mustofa (60), warga Medoho Raya, nampak tak mau kalah dengan yang muda. "Eman (sayang) kalau terbuang. Rasanya rugi kalau malam-malam berharga ini tidak dimanfaatkan ke masjid," katanya.

Sebelum memimpin salat, KH Amjad Al-Hafidz sempat memberikan pesan menyentuh. Ia mengingatkan bahwa banyak orang mengabaikan sepuluh malam terakhir karena tidak paham betapa besarnya karunia yang disediakan Allah.

“Datanglah ke masjid bersama keluarga. Ini adalah bentuk syukur kita atas segala nikmat yang diberikan setahun ini,” ajaknya.

Hingga azan Subuh berkumandang, MAJT tetap benderang. Di bawah kubahnya, ratusan pasang tangan tetap menengadah, menitipkan harapan dan rindu pada sang pencipta di malam yang penuh kemuliaan tersebut. (Aji)

Berita Terkini