LPK GPI Somasi SMAN I Terbanggi Besar, Yatim-piatu Tinggal Sebelah Sekolah Tak Diterima

Jumat, 19 Juni 2026 16:00
Ilustrasi berita AI/Helo HELO LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Seorang remaja yatim-piatu yang tinggal di belakang tembok SMAN 1 Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah tak diterima di sekolah tersebut. Warga dan Lembaga Perlindungan Konsumen Gerakan Perubahan Indonesia (LPK GPI) menyoalnya ke sekolah tersebut dan Kantor Cabang Dinas Wilayah VI.

Mereka mendatangi dan menyerahkan surat mempertanyakannya sekaligus somasi transparansi seleksi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) via Wakil kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras), Yeni dan Kasi SMA Cabdin wilayah VI Yanti pada pukul 09.00 WIB.

Drs. Haryanto dan warga saat menyampaikan somasinya ke sekolah (Foto Zen/Helo) 

"Kehadiran kami ini untuk mempertanyakan beberapa poin yang sebelumnya telah kami minta secara lisan namun tidak diberikan oleh pihak sekolah," jelas Drs. Haryanto, Ketua LPK GPI usai menyampaikan somasi kepada awak media.

Menurutnya, LPK GPI menerima pengaduan dari warga terkait adanya 125 calon siswa yang masuk dan diduga tidak jelas asalnya. Data SPMB Lampung SMAN 1 Terbanggibesar mendapatkan kuota 540 siswa, kemudian di portal SPMB terdapat 415 siswa yang diterima secara resmi melalui tes potensi akademik.

"Menurut juknis, total kuota kekurangan dipenuhi dari jalur domisili, sebanyak 125 orang. Yang kami pertanyakan adalah siapa saja 125 orang yang berhak disitu, kami meminta datanya secara transparansi sekolah," tegasnya.

Tak hanya itu, yang lebih mirisnya lagi, terdapat anak yatim-piatu yang alamatnya berada tepat di belakang tembok sekolah tidak diterima dan beberapa warga yang jaraknya dekat hanya beberapa ratus meter dengan sekolah juga ditolak.

"Saya berharap pihak sekolah dapat memberikan keterangan resmi terkait hal ini. Tujuan kami itu jelas untuk menyelamatkan anak bangsa agar tidak putus sekolah pemerintah dalam hal ini jangan tutup mata," tutupnya.

Sementara itu Sabandi, orangtua siswa yang tinggalnya hanya berjarak 450 meter dari SMN 1 Terbanggibesar, mengaku kecewa dengan pihak sekolah karena anaknya ditolak masuk sekolah negeri itu.

"Mengapa sekolah tidak membantu mencerdaskan anak bangsa. Siswa yang dekat ditolak masuk, namun yang jauh justru diterima di SMAN 1 Terbanggibesar. "Ini ada apa, ini aneh. Masak sekolah tudak transparan memasang nilai hasil tes," katanya.

Menurut Sabandi jika anaknya harus sekolah ke SMAN 1 Terusan Nunyai atau SMAN 1 Seputih Agung sangatlah tidak masuk akal, karena jarak sekolah dengan tempat tinggalnya sekitar 20 km. "Mengapa ada yang dekat harus sekolah yang jauh," jelas Sabandi. (Zen Sunarto)


Berita Terkini