LAMTIM, HELOINDONESIA.COM – Taman Nasional Way Kambas (TNWK) tengah bertransformasi. Kawasan konservasi yang selama puluhan tahun dikenal sebagai benteng terakhir habitat gajah Sumatra itu kini dibangun dengan wajah baru yang lebih modern, inklusif, sekaligus ramah bagi satwa dan masyarakat.
Perubahan besar tersebut ditinjau langsung oleh Deputi Bidang Dukungan Program Strategis Presiden Sekretariat Presiden RI, Marsda TNI Dedi Saprudin Samsudin, Jumat (24/7/2026).
Dalam kunjungan itu, Marsda Dedi didampingi Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, Kepala Balai TNWK MHD Zaidi, serta jajaran pemerintah dan unsur terkait.
Kunjungan dilakukan untuk memastikan proyek revitalisasi TNWK berjalan sesuai target Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam memperkuat konservasi gajah Sumatra, mengurangi konflik satwa dengan manusia, sekaligus menjadikan Way Kambas sebagai destinasi konservasi bertaraf internasional.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pemaparan perkembangan revitalisasi di Aula Balai TNWK, kemudian dilanjutkan peninjauan sejumlah titik pembangunan di kawasan taman nasional.
Revitalisasi
Revitalisasi TNWK menjadi salah satu proyek konservasi terbesar yang tengah dilakukan pemerintah. Tidak hanya memperbaiki infrastruktur, tetapi juga mengubah paradigma pengelolaan taman nasional agar lebih terbuka, edukatif, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
Sejumlah fasilitas baru tengah dibangun, mulai dari menara pandang setinggi 53 meter, kawasan skywalk, embung, jembatan, pusat informasi modern, hingga 46 kandang gajah yang dirancang lebih representatif untuk mendukung konservasi dan kesejahteraan satwa.
Di sisi lain, revitalisasi juga memperkuat sistem mitigasi konflik gajah dengan pembangunan infrastruktur pengamanan di kawasan penyangga, sehingga perlindungan terhadap satwa dapat berjalan beriringan dengan keselamatan masyarakat.
Brigjen TNI Sriyanto mengatakan konsep "New Look Taman Nasional Way Kambas" dipilih untuk menandai lahirnya wajah baru kawasan konservasi tersebut.
"Selama ini seolah-olah TNWK dan masyarakat terpisah. Sekarang kami ingin membangun kedekatan. Tagline yang kami usung adalah 'TNWK Adalah Kita'," ujarnya.
Menurutnya, kata "kita" menjadi simbol bahwa Way Kambas bukan hanya milik pemerintah, melainkan kebanggaan seluruh masyarakat Lampung yang harus dijaga bersama.
Senada dengan itu, Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengatakan revitalisasi dibangun dengan semangat "bahagia bersama", sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat ekonomi, pendidikan, hingga wisata dari keberadaan kawasan konservasi tersebut.
Pertahanan Berlapis
Selain mempercantik kawasan, revitalisasi juga difokuskan pada penyelesaian konflik manusia dengan gajah liar yang selama bertahun-tahun menjadi persoalan di desa-desa penyangga TNWK.
Komite Gabungan membangun sistem pengamanan sepanjang 138 kilometer dengan konsep multi-layer defense atau pertahanan berlapis.
Infrastruktur yang dibangun meliputi 57,3 kilometer tanggul matras beton, 23,3 kilometer pagar listrik, serta berbagai bentuk pembatas lain yang disesuaikan dengan karakteristik medan.
Brigjen Sriyanto menegaskan, pembangunan fisik saja tidak cukup.
"Gajah adalah satwa yang sangat cerdas. Karena itu selain pembatas fisik, kami menerapkan sistem pertahanan berlapis dengan tetap melibatkan kehadiran personel di lapangan," katanya.
Strategi tersebut diharapkan mampu menekan interaksi negatif antara gajah dan manusia yang selama ini menyebabkan kerugian bagi masyarakat maupun satwa.
Destinasi Konservasi Kelas Dunia
Salah satu ikon baru TNWK adalah pembangunan menara pandang setinggi 53 meter yang nantinya menjadi pusat informasi sekaligus landmark kawasan konservasi.
Menara tersebut dirancang inklusif sehingga dapat diakses lansia maupun penyandang disabilitas.
Selain itu, revitalisasi juga diarahkan untuk meningkatkan daya tarik wisata berbasis konservasi.
Pemerintah bahkan menargetkan Way Kambas mampu menarik hingga satu juta wisatawan setiap tahun, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan.
Sebagai bagian dari peningkatan kualitas pengelolaan, Komite Gabungan juga menyiapkan pengiriman 11 mahout (pawang gajah) dan dokter hewan ke Thailand guna mempelajari metode penanganan gajah tanpa rantai yang lebih modern dan berorientasi pada kesejahteraan satwa.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Marsda TNI Dedi Saprudin menegaskan bahwa revitalisasi TNWK bukan sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan investasi jangka panjang untuk menjaga keberlangsungan gajah Sumatra dan ekosistemnya.
"Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya mengenal gajah dari cerita atau gambar, sebagaimana kita membayangkan dinosaurus karena tidak pernah melihatnya secara langsung," tegasnya.
Ia juga meminta seluruh pekerjaan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, menjaga kualitas pembangunan, serta mengedepankan tata kelola anggaran yang transparan dan akuntabel.
"Komite Gabungan menjalankan tugas yang sangat mulia. Kami hadir sebagai jembatan untuk memastikan arahan Bapak Presiden dapat terlaksana dengan baik," ujarnya.
Meski masih menghadapi tantangan cuaca ekstrem, banjir, hingga kendala teknis di lapangan, pemerintah optimistis seluruh proyek revitalisasi TNWK dapat diselesaikan sesuai target pada akhir tahun ini.
Dengan wajah barunya, Taman Nasional Way Kambas diharapkan tidak hanya menjadi benteng terakhir pelestarian gajah Sumatra, tetapi juga tumbuh sebagai pusat konservasi modern, destinasi wisata alam berkelas dunia, sekaligus sumber kebanggaan masyarakat Lampung dan Indonesia. (Agoes)