Amuk Krakatau Mulai Mereda, Abu Vulkaniknya Masih Sampai Teras Rumah

Senin, 7 September 2026 22:18
GAK HELO LAMPUNG

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Amukan Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai mereda setelah episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Minggu (6/9/2026) dini hari. Namun, warga belum sepenuhnya terbebas dari abu vulkanik. Sisa material erupsi masih beterbangan dan mengendap di rumah, jalan, pepohonan hingga halaman warga.

Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat, episode erupsi menerus dimulai pada Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB dan berakhir Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Setelah itu, aktivitas GAK kembali menunjukkan pola erupsi Strombolian yang terjadi secara berkala.

Artinya, aktivitas vulkanik GAK belum benar-benar berhenti. Pada periode pengamatan 6–7 September 2026, Badan Geologi masih mencatat tiga kali gempa erupsi, sembilan gempa hembusan, 93 gempa low frequency, 98 gempa hybrid/fase banyak, empat tremor menerus dan satu gempa vulkanik dangkal.

Energi aktivitas vulkanik yang tercermin dari nilai RSAM sempat meningkat pada 5 September, kemudian kembali menurun pada 6 September. Meski demikian, Badan Geologi menyatakan probabilitas terjadinya letusan pada beberapa periode berikutnya masih tinggi.

Abu Masih Bisa Sampai Teras Rumah

Kepala Pos Pemantauan GAK di Desa Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan abu yang sebelumnya terlontar tinggi ke atmosfer masih dapat terbawa angin dan kemudian jatuh kembali ke permukaan.

Kondisi itu membuat abu vulkanik masih dapat ditemukan di berbagai tempat meskipun intensitas erupsi telah menurun. “Ketika tidak ada hujan, debu itu menempel. Kalau ada panas, dia kembali kering dan terbawa lagi sama angin,” kata Suwarno, Senin (7/9/2026).

Abu yang telah mengendap di pepohonan, atap rumah, halaman maupun badan jalan juga belum tentu langsung hilang. Ketika permukaan mengering dan angin bertiup, material tersebut dapat kembali terangkat ke udara. “Dikiranya masih berlanjut letusan, padahal itu enggak. Itu karena abu yang menempel di pohon-pohonan,” ujarnya.

Fenomena inilah yang membuat sebaran abu dapat terasa lebih luas. Abu yang semula mengendap di satu wilayah dapat kembali beterbangan dan terbawa ke arah berbeda mengikuti perubahan angin.
Badan Geologi pada pengamatan 6–7 September mencatat angin di sekitar GAK bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut.

Perubahan arah maupun kecepatan angin dapat memengaruhi pola sebaran abu. Dampak erupsi sendiri telah meluas ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra. BMKG bahkan melakukan pemantauan intensif terhadap sebaran abu karena material vulkanik tersebut mengganggu penerbangan.

Hingga Senin (7/9), sejumlah bandara di Jawa dan Sumatra terdampak dan sebagian sempat menghentikan operasional untuk alasan keselamatan.Gangguan tersebut menunjukkan bahwa abu vulkanik bukan sekadar persoalan debu yang mengotori rumah. Jika berada di atmosfer pada jalur penerbangan, abu dapat membahayakan mesin pesawat dan sistem penerbangan.

Hujan Bisa Membantu Membersihkan Abu

Suwarno mengatakan hujan dapat membantu mengendapkan abu sehingga tidak mudah kembali beterbangan. “Kalau ada hujan sekarang juga semuanya meluruh. Si debunya akan turun ke bawah, enggak akan melanda,” katanya.

Karena itu, selama hujan belum turun dan kondisi masih kering, masyarakat tetap perlu mewaspadai abu yang kembali terangkat, terutama akibat embusan angin atau aktivitas kendaraan di jalan. “Kalau hujan turun, mudah-mudahan debunya bisa hilang,” ujar Suwarno.

Masyarakat yang masih terdampak abu juga disarankan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan dan mengurangi paparan langsung terhadap debu, terutama ketika abu kembali beterbangan.
Erupsi Berikutnya Tak Bisa Ditentukan Tanggalnya. 

Suwarno menegaskan tidak ada alat atau metode yang dapat memastikan GAK akan kembali erupsi pada tanggal atau jam tertentu.

Potensi erupsi dinilai berdasarkan perkembangan aktivitas gunung api yang terekam melalui berbagai instrumen pemantauan. Di antaranya gempa dangkal, gempa dalam, tremor, gempa hembusan, low frequency hingga gempa hybrid.

“Kalau itu semuanya ada peningkatan lagi, mungkin bisa juga akan kembali erupsi. Tapi tidak tahu antara besar dan kecilnya,” katanya.

Besar-kecilnya erupsi sangat bergantung pada dinamika dan energi di dalam tubuh gunung api. Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang mengklaim dapat memastikan kapan GAK akan meletus kembali atau seberapa besar kekuatannya.

Data resmi Badan Geologi justru menunjukkan aktivitas GAK masih harus dipantau ketat. Setelah episode erupsi menerus selama 25 jam berakhir, erupsi Strombolian masih terjadi dan tingkat kegempaan tetap tinggi.

Tetap Level III atau Siaga

Gunung Anak Krakatau hingga Senin (7/9/2026) masih berstatus Level III atau Siaga. Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, wisatawan dan pendaki tidak mendekati atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Dengan demikian, meski amukan besar selama sekitar 25 jam telah berakhir, Krakatau belum sepenuhnya “diam”. Abu masih dapat beterbangan, letusan Strombolian masih terpantau, sementara potensi erupsi berikutnya masih dinilai tinggi.

Karena itu, masyarakat Lampung dan Banten, terutama wilayah yang terdampak abu, diminta tetap tenang tetapi tidak lengah. Patokan utama tetap informasi resmi Badan Geologi, PVMBG, BMKG dan pemerintah daerah. (HBM) 

Berita Terkini