✕

Mengayuh Waktu, Jaga Tradisi: Saat Sepeda Tua Unjuk Gigi di Arena Forkot Semarang 2026

Senin, 5 Oktober 2026 13:01
Para peserta menampilkan kemampuan dan keahliannya pada lomba nomor sepeda lambat putra, di ajang Forkot Semarang 2026 di Balaikota

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Suara derit khas roda sepeda tua beradu dengan riuh sorak-sorai penonton yang memadati halaman kompleks Balai Kota Semarang, Minggu 4 Oktober 2026.

Di tengah gelaran Festival Olahraga Masyarakat Kota (Forkot) Semarang 2026, puluhan pegiat sepeda onthel membuktikan bahwa hobi mengayuh besi tua ini bukan sekadar soal menempuh perjalanan jarak jauh, melainkan tentang ketangkasan, seni mengendalikan keseimbangan, dan merawat kebersamaan.

Di atas sepeda pusaka yang menjadi kecintaan mereka, para anggota Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Kota Semarang justru ditantang unjuk gigi dalam berbagai nomor lomba yang menguji konsentrasi penuh.

Baca juga: Pameran Batu dan Pusaka di Pasar Dargo Semarang Ramai Pengunjung di Hari Terakhir

Sebanyak 60 peserta putra dan putri dari tujuh komunitas di bawah naungan KOSTI ambil bagian dalam perhelatan ini. Ketujuh komunitas tersebut meliputi Kompos, Paspasan, SOS, Sopan, SOC, Koro, dan Kujang Semarang.

Ketua KOSTI Kota Semarang, Patih Suwondo, menuturkan bahwa keikutsertaan mereka dalam Forkot 2026 menjadi wujud nyata kecintaan terhadap olahraga masyarakat yang sarat nilai sejarah.

"Forkot ini menjadi kesempatan bagi teman-teman KOSTI untuk tidak hanya menunjukkan kecintaan terhadap sepeda tua, tetapi juga kemampuan dan keterampilan dalam olahraga masyarakat," ujar Patih.

Aksi Unik di Nomor Sepeda Lambat

Suasana perlombaan kian meriah tatkala panitia mempertandingkan sejumlah nomor unik. Mulai dari atraksi mengayuh sepeda dengan satu kaki untuk peserta putra, balapan cepat putra-putri, nomor boncengan pasangan, hingga yang paling menyita perhatian penonton: lomba sepeda lambat putra dan putri.

Panitia lomba, Abdul Sofjan, menjelaskan bahwa nomor sepeda lambat menuntut tingkat konsentrasi dan keseimbangan tingkat tinggi. Alih-alih berlomba menjadi yang tercepat, para peserta justru harus mengendalikan sepedanya agar melaju selambat mungkin tanpa menyentuh tanah atau jatuh.

"Justru di sepeda lambat ini peserta harus benar-benar berkonsentrasi. Kalau terlalu cepat tentu kalah, tetapi kalau kehilangan keseimbangan dan jatuh juga langsung gugur," terang Abdul Sofjan.

Baca juga: Perkuat Sinergi Akademik, Tim Tenis USM dan FTP UGM Gelar Friendly Match

Dari seluruh rangkaian persaingan ketat di berbagai nomor tersebut, Komunitas Sepeda Tua Kujang Semarang akhirnya keluar sebagai juara umum setelah mendominasi kemenangan di kategori putra maupun putri.

Meriah

Ajang Forkot Semarang 2026 sendiri tidak hanya menjadi panggung bagi komunitas sepeda tua. Sebanyak 37 Induk Organisasi Olahraga (Inorga) dari total 43 inorga di bawah naungan KORMI Kota Semarang turut tumpah ruah meramaikan acara.

Berbagai olahraga tradisional turut dilombakan, seperti lari balok, egrang, bakiak, hingga kungfu tradisional yang ditampilkan oleh AKTI, melibatkan ratusan pelajar SD dan SMP dari penjuru Kota Semarang.

Ketua KORMI Kota Semarang, Dyah Tunjung Pudyawati, mengungkapkan bahwa Forkot 2026 bertujuan menanamkan kesadaran agar masyarakat menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sehat sehari-hari, bukan sekadar mengejar piala atau prestasi semata.

"Forkot bukan sekadar perlombaan. Kami ingin menumbuhkan lingkungan masyarakat yang sehat dan mendorong masyarakat agar menjadikan olahraga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari," tutur Tunjung.

Semangat yang membuncah di halaman Balai Kota hari itu pada akhirnya menyampaikan satu pesan sederhana: olahraga tidak selalu menuntut peralatan modern. Sebagaimana sepeda tua dengan segala keunikannya, kesederhanaan warisan masa lalu terbukti mampu merajut kompetisi, menghadirkan gelak tawa, sekaligus menjaga nyali kebersamaan masyarakat Kota Semarang. (Aji)

Berita Terkini