✕

Satu Dekade Tubaba Art Festival: Usung “Tatapan Baru, Tindakan Baru”, Hadirkan Voice of Baceprot

Jumat, 6 November 2026 19:16
Satu Dekade Tubaba Art Festival: Usung “Tatapan Baru, Tindakan Baru”, Hadirkan Voice of Baceprot

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM----
Memasuki satu dekade perjalanan, Tubaba Art Festival (TAF) kembali digelar dengan membawa semangat pembaruan melalui tema “Tatapan Baru: Tindakan Baru”. Festival seni dan kebudayaan yang masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 ini akan berlangsung pada 7 November 2026 di Kota Budaya Ulluan Nughik, Panaragan, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung.

Mengusung konsep perayaan satu hari, TAF #10 tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan seni. Festival ini juga menjadi ruang refleksi perjalanan pendidikan seni, penguatan literasi, pemberdayaan kreativitas warga, sekaligus upaya membangun kesadaran kebudayaan sebagai fondasi masa depan.

Menariknya, perayaan satu dekade ini berlangsung di tengah tantangan pembiayaan dan tanpa dukungan anggaran dari pemerintah daerah. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat penyelenggara untuk mempertahankan festival melalui gerakan mandiri dan partisipasi publik.

Direktur sekaligus Kurator Tubaba Art Festival, Semi Ikra Anggara, mengatakan tema “Tatapan Baru: Tindakan Baru” merupakan refleksi perjalanan panjang selama sepuluh tahun, sekaligus penegasan visi kebudayaan yang ingin diwariskan kepada generasi mendatang.

Menurutnya, Tubaba tidak semestinya hanya dipahami sebagai akronim sebuah wilayah administratif, melainkan sebagai gagasan dan visi tentang masa depan yang dibangun melalui kebudayaan.

“Sebermula kota ini dibangun dengan puisi. Ruang-ruang publik diciptakan seiring pembangunan jiwa manusianya,” ujar Semi.

Semangat tersebut diterjemahkan ke dalam empat platform utama, yakni Perayaan Kesadaran, Bergerak Menjadi, Rimpang Literasi, dan Jenama Tubaba. Keempatnya dirancang untuk mempertemukan praktik seni, pendidikan, literasi, serta ekonomi kreatif masyarakat dalam satu ruang kebudayaan.

Platform pertama, Perayaan Kesadaran, menghadirkan hasil laboratorium penciptaan Sekolah Seni Tubaba. Salah satu agenda utamanya adalah pameran seni rupa bertajuk “Jiwa yang Tak Bisa Dipadamkan” di Galeri Kayu yang dibuka mulai pukul 09.00 WIB pada 7 November dan berlangsung hingga 15 November 2026.

Rangkaian berikutnya berlangsung di Ampi Teater Ulluan Nughik. Mulai pukul 15.40 WIB, acara diisi seremonial pemberian penghargaan Karisma Event Nusantara kepada Tubaba Art Festival, disertai Tari Anak “Play & Flow” dan Tari Nenemo.

Panggung seni anak kemudian berlanjut melalui pementasan teater musikal “Tapir-Tapir di Angkasa” pada pukul 16.10–17.00 WIB di selasar Sekolah Seni Tubaba.

Sementara itu, platform Bergerak Menjadi menghadirkan ruang pertunjukan dan perjumpaan lintas komunitas. Penampilan Lemawong membuka rangkaian panggung pada pukul 18.10–19.00 WIB.

Agenda dilanjutkan dengan diskusi “Sharing Time: Satu Dekade Pendidikan Seni Kontekstual” pukul 19.00–19.30 WIB, kemudian penampilan Kelas Musik Sekolah Seni Tubaba berkolaborasi dengan Lamtim Art School pada pukul 19.30–20.00 WIB.

Salah satu penampilan yang diprediksi menjadi magnet pengunjung adalah kehadiran Voice of Baceprot (VoB), trio musik rock asal Garut, Jawa Barat, yang akan tampil pukul 20.00–21.00 WIB.

Grup musik yang tumbuh dari komunitas pinggiran tersebut dikenal berhasil menembus panggung musik internasional. Kehadirannya diharapkan menjadi representasi bahwa keterbatasan geografis dan latar belakang bukan penghalang bagi kreativitas untuk berkembang hingga tingkat global.

Setelah itu, panggung ditutup oleh Namoy Budaya, proyek musik asal Lampung yang mengeksplorasi akar musikalitas lokal dengan karakter khasnya, mulai pukul 21.00 hingga 21.45 WIB.


Tak hanya berorientasi pada pertunjukan, TAF #10 juga memberikan perhatian besar terhadap penguatan budaya membaca dan pertukaran pengetahuan melalui platform Rimpang Literasi.

Kegiatan ini dipusatkan di dua lokasi. Di Nuwou Baca Malaka, pengunjung dapat menyaksikan pameran “DataArt: Extending Life” mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB.

Lokasi yang sama juga menjadi tempat diskusi buku “Filsafat Kebahagiaan Manusia Lampung” karya John Heryanto bersama Alexander Gebe dan Ezed Qyoko pada pukul 11.00 WIB.

Sementara itu, di selasar terbuka Sekolah Seni Tubaba, berbagai gerakan literasi akan dipertemukan dalam ruang berbagi dan berkolaborasi.

Mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB, pengunjung dapat mengikuti beragam aktivitas, mulai dari lapak baca, membaca buku bersama, lokakarya, berbagi bacaan, mendongeng, membaca puisi, diskusi buku, hingga kegiatan kreatif lainnya.

Ruang tersebut dirancang sebagai tempat bertemunya berbagai komunitas untuk saling mendengarkan dan membangun gagasan tentang masa depan Lampung yang lebih berempati, setara, dan terbuka tanpa penghakiman.


Dimensi lain yang tidak kalah penting diwujudkan melalui platform Jenama Tubaba. Melalui agenda “Pasar Jenama: Dari Tangan Warga, untuk Dibawa Pulang”, festival ini berupaya mempertemukan kreativitas masyarakat dengan praktik ekonomi berbasis potensi lokal.

Pengunjung dapat menikmati sajian dan kolaborasi bersama Kopi Tuku, sekaligus mengikuti lokakarya keramik bersama Baskoro Wicaksono.

Kehadiran platform ini mempertegas bahwa festival bukan hanya ruang apresiasi karya seni, tetapi juga dapat menjadi wadah promosi produk, pertukaran keterampilan, serta pengembangan ekonomi kreatif masyarakat.


Di balik perayaan satu dekade tersebut, terdapat pesan penting mengenai keberlanjutan ekosistem kebudayaan. Tanpa sokongan anggaran dari pemerintah daerah, penyelenggara memilih mengandalkan dukungan masyarakat melalui penggalangan dana publik bertajuk Sahabat Tubaba.

Mengusung gagasan “Semua Penonton Adalah Sponsor”, masyarakat diajak mengambil bagian dalam menjaga keberlangsungan festival melalui kontribusi sebesar Rp50.000, Rp75.000, Rp100.000, hingga Rp215.000.

Gerakan tersebut menempatkan publik bukan semata-mata sebagai penikmat pertunjukan, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang ikut memiliki dan menjaga keberlangsungan ruang kebudayaan.

Satu dekade Tubaba Art Festival pada akhirnya bukan hanya tentang usia sebuah perhelatan seni. Lebih dari itu, TAF #10 menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana kebudayaan, pendidikan, literasi, dan kreativitas warga dapat berjalan beriringan dalam membangun masa depan daerah.

Melalui tema “Tatapan Baru: Tindakan Baru”, festival ini membawa pesan bahwa membangun kota budaya tidak cukup hanya dengan menghadirkan ruang fisik dan menyelenggarakan pertunjukan. Dibutuhkan keberanian untuk merawat gagasan, membangun kesadaran, serta melibatkan masyarakat sebagai bagian utama dari perjalanan kebudayaan itu sendiri.

(Rohman)

Berita Terkini