HELOINDONESIA.COM - Prabowo Subianto adalah sosok yang dibesarkan dari dunia militer. Sebelum mencapai pangkat Letnan Jenderal, Prabowo tentu saja menapaki dari bawah, pangkat rendah. Dia digembleng para atasannya, salah satu sosok yang dia ingat adalah Letnan Jenderal TNI (Purn) Tarub.
Menurut Prabowo, Letnan Jenderal Tarub adalah sosok khas, jarang marah, dan humoris, Prabowo juga menyebut, dia sebagai sosok yang mengajarkannya bagaimana menajadi sosok yang dicintai onak buah dan disenangi atasan, juga disenangi rekan kerja.
“Salah satu senior saya, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Tarub merupakan salah satu sosok yang mengajarkan kepada saya bagaimana menjadi sosok yang dicintai oleh anak buah, disenangi rekan kerja dan atasan,” ujar Prabowo dalam unggahan di Pacebook, Jumat ini.
“Beliau dikenal sebagai pribadi yang periang, humoris, sangat persuasif dan jarang marah,” tambahnya.
Baca juga: Uji Coba Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mulus, Menhub: Izin Operasi Paling Lambat 1 Oktober
Menurut Prabowo, dirinya pertama berinteraksi dengan beliau dari dekat sejak beliau menarik dirinya dari Kepala Staf Brigade menjadi komandan Pusdikpassus di Batujajar.
Letjen TNI Tarub, mantan komandan Prabowo Subianto di TNI. (Foto: FB / Prabowo Subianto)
“Saya anggap peristiwa ini sebuah kehormatan. Ia mengatakan waktu menarik saya, "Prabowo, coba kau benahi Batujajar. Kurikulum perbaiki. Buat tidak kalah dengan pasukan terbaik di dunia."
Misi itulah yang dia emban dan dengan dukungan penuh dari Letnan Jenderal Tarub, dia melakukan perubahan-perubahan kurikulum dan perbaikan-perbaikan sistem latihan di Batujajar.
Dengan mengemban tugas itu, Prabowo meninjau beberapa pasukan elit dunia, dari Delta Force hingga GSG9 di Jerman. Prabowo ingin menari kurikulum terbaik buat TNI.
“Dari Pak Tarub saya belajar, kalau kita ingin menilai suatu pasukan, lihatlah kurikulum pendidikan mereka. Hitunglah berapa jam pelajaran dia belajar taktik, teknik, dan sebagainya. Hitunglah berapa butir peluru setiap prajurit menembak. Dari situ kita akan tahu kualitas pasukan itu,” ujarnya.
Alhamdulillah sekarang setelah sekian puluh tahun saya monitor, bahwa beberapa perubahan yang saya lakukan masih terus diterapkan di Batujajar.
“Sering Pak Tarub memberi tugas-tugas kepada saya. Tapi setelah kasih tugas beliau membiarkan saya menyelesaikan tugas itu tanpa banyak ikut campur tangan,” ungkap Prabowo.
“Itulah yang saya rasakan, banyak senior-senior saya kasih tugas, kasih perintah, backup dengan apa yang dibutuhkan tapi tidak mengganggu pelaksanaan itu,” tandasnya.
Sifat ini yang saya kemudian pakai sebagai cara saya juga dalam memimpin. Sering cari anak buah yang saya berikan tugas, saya biarkan dia selesaikan tugas. Tentu saya akan berikan apa yang diperlukan, tapi berilah keleluasaan untuk dia selesaikan tugas itu.
Sebagai orang lapangan saya tidak suka kalau setiap langkah harus diatur, harus ditanya, harus diawasi. Ini kemudian saya lihat sebagai gaya kepemimpinan yang berhasil.
Di satuan-satuan yang aktif, dan yang kuat, pasukan-pasukan dunia yang hebat, gaya kepemimpinan jenderal-jenderal hebat luar negeri adalah demikian. Dikenal dengan istilah yang digunakan tentara Jerman dan Amerika sebagai mission type order. Perintah dengan cukup memberi tugas pokok. Tidak perlu detail.
“Demikian saya belajar dari seorang senior saya, Letnan Jenderal TNI (Purn.) Tarub, semoga kisah ini menjadi inspirasi dan pembelajaran berharga bagi kita semua,” ujar Prabowo Subianto. (*)
(Winoto Anung)
