Helo Indonesia

Mengungkap Buffalo Wings: Dari Sisa Dapur Menjadi Ikon Kuliner Bernilai Tinggi

M. Haikal - Ragam
1 jam 30 menit lalu
    Bagikan  
Buffalo wings
Foto: pexels

Buffalo wings - Bagian sayap ayam yang tadinya hanya dipandang sebelah mata, kini menjadi komoditas kuliner bernilai tinggi.

HELOINDONESIA.COM - Daging ayam menjadi salah satu dari sekian banyak bahan makanan yang bisa diolah menjadi kuliner siap saji.

Beberapa dekade lalu, hanya beberapa bagian penting dari seluruh tubuh ekor ayam yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan.

Namun ada beberapa bagian yang dianggap tak layak untuk disajikan dalam bentuk kuliner goreng.

Misalnya bagian kepala, leher, sayap atau betutu. Biasanya untuk kuliner rumahan, bagian itu hanya dibuat sebagai sayur sop dan diambil kaldu.

Baca juga: DLH Balam: Sebelum AMDAL Living Plaza Terbit, Lima Profesor Telah Mengkajinya

Seiring berjalannya waktu, dunia kuliner berubah. Bagian sayap ayam yang tadinya hanya dipandang sebelah mata, kini menjadi komoditas kuliner bernilai tinggi.

Para pecinta kuliner mengenalnya sebagai chicken wings, sayap ayam yang digoreng dengan campuran tepung, mentega dan bumbu.

Disajikan langsung pun bisa. Dulu lumuran saus pedas asam, chicken wings menjadikan cemilan lezat untuk dinikmati di saat santai.

Sejatinya, Amerika Serikat yang lebih dahulu menjadikan sayap ayam ini menjadi kuliner moderen dan memiliki harga tinggi.

Baca juga: Kerja Sama Polresta Soetta-Bea Cukai, Sita Narkoba Senilai Puluhan Miliar Rupiah

Konon, sebelum tahun 1960-an, sayap ayam dipandang sebelah mata oleh industri kuliner Amerika.

Bagian ini biasanya dibuang atau hanya direbus untuk diambil kaldunya. Tapi setelah diolah, sayap ayam ini dinamakan "buffalo wings".

Buffalo wings adalah hidangan sayap ayam goreng tanpa tepung yang dilumuri saus pedas asam berbasis mentega dan cuka.

Menjadi salah satu makanan bar paling ikonik di dunia, camilan khas Amerika Serikat itu ternyata menyimpan sejarah unik.

Bagaimana bagian ayam yang awalnya tidak diminati bisa berubah menjadi komoditas kuliner bernilai tinggi.

Baca juga: Gubernur Luthfi Pasang Badan untuk Nelayan Jateng: Izin Gratis, Ada Pungli Langsung Laporkan Saya!

Meskipun mengandung kata "buffalo" (kerbau), hidangan ini sama sekali tidak menggunakan daging kerbau.

Nama tersebut merujuk pada kota Buffalo di New York, tempat resep ini pertama kali diciptakan pada tahun 1964.

Ada beberapa versi sejarah mengenai penciptaannya di sebuah bar keluarga bernama Anchor Bar.

Menjadi versi camilan larut malam, buffalo wings bermula ketika seseorang bernama Teressa Bellissimo, sang pemilik bar, mendapatkan ide cemilan untuk putranya, Dominic.

Sang putra meminta dibuatkan camilan larut malam bersama teman-temannya. Karena sudah malam, Teressa justru memanfaatkan stok sayap ayam yang tersisa di dapur.

Cerita lain menyebutkan bar tersebut tidak sengaja menerima kiriman stok yang salah berupa potongan sayap ayam, alih-alih bagian ayam lainnya.

Baca juga: Tolak Jadi Generasi Strawberry yang Rapuh, Anak-Anak Semarang Siap Jadi Pelopor Perubahan!

Agar tidak terbuang sia-sia, Teressa bereksperimen menggoreng dan membumbuinya.

Hingga kemudian, "buffalo wings" mendunia menjadi kuliner berkelas dan banyak resto-resto khusus menjual chicken wings atau buffalo wings.