Helo Indonesia

Ada Tangan Tuhan dalam Tradisi Kusuk Batak

Selasa, 8 Juli 2025 23:43
    Bagikan  
Kusuk Batak
Foto: tangkapan layar

Kusuk Batak - Dengan tenang jiwanya, lanjut Prof Rusmin Tumanggor, tentu akan berproses kepada anatominya. Yaitu kepalanya, lehernya, badannya tangannya, kakinya.

HELOINDONESIA.COM - Salah satu dari 15 ethnowellness yang sudah ditemukenali oleh para ahli budaya dan antropolog Indonesia Wellness Master Association (IWMA) adalah spa Batak.

Umumnya orang awam akan mengenal tradisi kesehatan dan kebugaran suku Batak ini dengan Kusuk Batak.

Namun demikian, istilah penyebutan tersebut ternyata berbeda-beda di beberapa Kabupaten di tanah Batak, yakni Sumatera Utara.

"Selalu berkembang istilahnya masih sangat banyak, banyak sekali istilahnya. Misalnya kayak di Jawa Barat kan ada Cianjurnya, Sukabuminya. Juga demikian di setiap kabupaten di tanah Batak mempunyai istilah sendiri-sendiri," papar trainer spa wellness, Yoyoh Rohmah Tambera seperti dikutip dari akun YouTube IWTIF pada Selasa (8/7/2025).

Baca juga: Dukung 3 Juta Rumah Program Prabowo, Pemkot Balam Bebaskan BPHTB

Menurut Yoyoh, memang istilahnya ada yang menyebut Oukup dan ada juga yang menyebut Kusuk dan lain sebagainya.

"Karena saya bukan dari Batak ya saya melihatnya orangnya itu bicaranya keras sehingga buat kami yang orang Sunda itu agak sedikit gimana gitu ya," jelasnya dalam webinar yang digelar beberapa waktu lalu.

Namun setelah kita mengenal lebih jauh, lanjutnya, ternyata kerasnya orang Batak dari depannya saja, tapi lembut.

"Spa tanah Batak memang bukan hanya untuk pengobatan, tapi juga kecantikan sebagaimana sudah dijelaskan oleh Profesor Doktor Rusmin Tumanggor," katanya.

Baca juga: Wali Kota Telah Buka 4 SMA Siger Bandarlampung, Gratis Syarat Mudah

Menurutnya, Prof Rusmin Tumanggor ini merupakan ahli antropologi yang menemukenali kembali tradisi Kusuk Batak

"Ini luar biasa, pasti banyak sekali ilmunya (Prof Rusmin Tumanggor)," tambah Yotoh.

Yoyoh mengingatkan kembali terkait filosofi spa Batak ada penyandingan antara mantra dan jampi.

"Kalau bahasa Bataknya "Hata i do debata, jala debata do Hata i". Doa itu adalah bicara Tuhan dan Tuhan itu bicara lewat doa kita"," ucap Yoyoh.

Filosofi ini, lanjutnya, terpengaruh dari ahli sufi dari dari Barus yaitu Hamzah Fansuri yang punya paham dirinya termasuk manusia bahkan alam satu wujud dengan Tuhan (wahdatul wujud).

Baca juga: Perpusda Kendal Tambah Ruang Baca di Lantai 2, Ada 20 Ribu Koleksi Buku

"Kalau di masyarakat suku bangsa Jawa, tokonya dikenal dengan Syekh Siti Jenar, Manunggaling Kawulo Gusti," katanya.

Selain itu juga dipengaruhi oleh tokoh dari di Timur Tengah yang termasyhur, yaitu Al-Halaj dan Al-Farabi.

"Kalimat yang terkenal adalah "Ana Al Gakkum". Artinya saya kebenaran mutlak yaitu satu wujud dengan Tuhan," ungkap Yoyoh.

Yoyoh juga mengungkapkan terkait dengan salah seorang pengobat tradisional Batak dari kecamatan Madumas almarhum Datu Pulungan.

"Jadi spa Batak ini kalau dilihat dari filosofinya itu sudah menyertakan Tuhan di dalam perawatan. Sebab Suku Batak percaya bahwa yang menyembuhkan adalah Tuhan melalui tangan kita," tandasnya.