LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Cagar budaya jejak peradaban masyarakat Lampung bakal bertambah kaya. Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Lampung bersama TACB Kabupaten Tanggamus berhasil menemukan arca polinesia dan punden berundak di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.
Objek diduga benda cagar budaya (ODCB) tersebut terletak 2-3 kilometer di perbukitan belakang Museum Kekhatuan Semaka, Pekon Sanggi Unggak, Kecamatan Bandar Negeri Semuong. Kawasan perkebunan milik Pun Sahlan, tokoh adat setempat.
Ketua TACB Lampung Anshori Djausal menyambut gembira penemuan ODCB Era 2500 SM. Dia berharap temuan tersebut bagian dari puzzle-puzzle benda cagar budaya Lampung yang kelak dapat bercerita tentang peta masyarakat Lampung era prasejarah.
Baca juga: Daswati, Rumah Kelahiran Provinsi Lampung Ditetapkan Jadi Cagar Budaya
Menurut Ni Putu Galih Pratiwi dari TACB Lampung, ditemani pengelola Museum Kekhatuan Semaka, Tim TACB Kabupaten Tanggamus, dan Tim Kebudayaan Disdikbud Tanggamus, survey ke lokasi arca dan punden berundak pada 30 April 2026.
Mereka mengidentifikasi dan mendokumentasikan secara in situ: punden berundak yang terlihat ada tiga teras dengan puncak terdapat lingga-yoni. Di depan punden berundak, ada dia arca polinesia. Sekitar 100 meter dari lokasi tersebut terdapat sumber mata air, kata Ni Putu Galih Pratiwi, Rabu (5/8/2026).
Arca polinesia adalah jenis arca prasejarah perwujudan nenek moyang yang berbentuk sederhana dan kasar. Arca ini terbuat dari batu andesit atau batu alam dan dibuat sebelum pengaruh agama Hindu serta Buddha masuk ke Nusantara.
Bentuknya menyerupai manusia dengan gaya seni yang mirip patung di kepulauan Polinesia, Samudra Pasifik. Ciri-ciriinya berbentuk tubuh yang sederhana, gempal, dan dibuat secara kasar, tidak memiliki atribut atau ciri-ciri khas dewa Hindu dan Buddha.
Bagian kepala dan badan sering kali digambarkan secara abstrak atau tidak proporsional. Contoh terkenal adalah arca tipe Semar yang ditemukan di kawasan gunung atau situs prasejarah di Jawa. Fungsi arca tersebut sebagai sarana pemujaan atau tempat persembahan arwah nenek moyang pada masa megalitikum. (HBM)