Oleh Hendrik Ibrahim*
BHAYANGKARA Presisi Lampung FC sukses menghancurkan rekor impresif tak terkalahkan 13 pertandingan milik Bajul Ijo, julukan Persebaya Surabaya, di kandang sendiri, Stadion Gelora Bung Tomo Sabtu malam (14/2/2026).
Persebaya harus menelan pil pahit usai ditaklukkan 1-2 oleh tim tamu Bhayangkara Presisi Lampung FC dalam lanjutan Super League. Atmosfer stadion yang membara justru menjadi saksi runtuhnya dominasi panjang Persebaya musim ini.
Agaknya, keterpurukan Bhayangkara Presisi Lampung FC belakangan telah memantik jadi bolduser hingga sukses menjebol gawang Persebaya di mata para pendukung fanatiknya dengan skor akhir 1-2 buat Bhayangkara Presisi Lampung FC.
Selama pertandingan, Bhayangkara Presisi Lampung FC seakan menemukan jati dirinya, serangannya efektif. Bhayangkara tidak mendominasi penguasaan bola, tetapi sangat efektif menyelesaian laga.
Kurang solidnya lini belakang Bajul Ijo menghadapi counter attack dan situasi bola mati jadi celah bagi Bhayangkara. Kedua gol tercipta dari service bola mati dan situasi transisi cepat.
Persebaya juga terlalu lambat panas. Bajul Ijo baru benar-benar menekan setelah tertinggal dua gol. Momentum bangkit datang terlambat.
Sebaliknya, mentalitas tanding Bhayangkara makin berkobar. Bermain di kandang lawan tidak membuat Bhayangkara gentar. Justru mereka tampil disiplin dan percaya diri.
Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin, tapi bukti hasil evaluasi dari pertandingan menyakitkan sebelumnya. Agar tren positif berlanjut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Pertahankan Disiplin Bertahan
Transisi bertahan ke menyerang sudah sangat baik. Konsistensi harus dijaga, terutama menghadapi tim dengan tekanan lebih agresif.
Variasi Pola Serangan
Serangan balik efektif - apalagi lini tengah mendapatkan suntikan darah baru - Ryo Matsumura , namun variasi build-up perlu dikembangkan agar tidak mudah terbaca lawan.
Rotasi dan Kebugaran Pemain
Jadwal padat Super League menuntut kedalaman skuad. Rotasi yang tepat menjaga stamina tetap prima.
Fokus Mentalitas
Menang di kandang lawan adalah modal besar. Mentalitas lapar kemenangan harus dipertahankan di setiap laga.
Sejak peluit awal dibunyikan, laga berjalan dalam tempo tinggi. Persebaya mencoba tampil agresif, namun Bhayangkara tampil disiplin dan efektif - merespons dengan penjagaan ketat dan melepaskan bola-bola panjang langsung ke depan.
Menit 26 – Doumbia Buka Luka
Bhayangkara membuahkan hasil. Henri Doumbia sukses memanfaatkan kelengahan lini belakang Persebaya dan mencetak gol pembuka di menit ke-26 melalui tandukan kepala dari service bola mati. Skor berubah 0-1, stadion mendadak terdiam.
Menit 44 – Sidibe Gandakan Keunggulan
Belum pulih dari tekanan, Persebaya kembali dihantam. Menjelang turun minum, Moussa Sidibe mencetak gol kedua di injury time ( 45+2' ) meneruskan assist pemain pinjaman Persija - Ryo Matsumura. Skema serangan balik cepat kembali menghukum lini pertahanan tuan rumah. Babak pertama ditutup dengan skor 0-2.
Masuk babak kedua, Bajul Ijo mencoba meningkatkan intensitas serangan. Dukungan suporter membuat mereka lebih menekan.
Menit 64 – Perovic Perkecil Ketertinggalan
Upaya Persebaya akhirnya berhasil menembus pertahanan Bhayangkara Presisi dan harapan kembali muncul saat Mihailo Perovic menceploskan gol di menit ke-64. Skor berubah 1-2, pertandingan kembali hidup dan membakar semangat juang Persebaya.
Namun hingga peluit panjang berbunyi, Persebaya gagal menyamakan kedudukan. Rekor 13 pertandingan tanpa kekalahan resmi berakhir.
Sabtu malam menjadi saksi sejarah: rekor 13 laga tanpa kalah Persebaya runtuh. Bhayangkara datang sebagai penantang, pulang sebagai pemenang.
Super League kembali membuktikan bahwa tak ada rekor yang abadi. Dan malam itu, Bajul Ijo dipaksa mengakui keunggulan sang tamu Bhayangkara Presisi Lampung FC.
* Pengamat sepak bola nasional asal Lampung
