Oleh Gufron Aziz Fuadi *
NAMANYA adalah Mush'ab bin Umair, Rasulullah Saw sering memanggilnya dengan Mush'ab al Khair. Tetapi orang orang Madinah menjulukinya dengan Mush'ab al Muqri, karena dia lah orang yang pertama membacakan dan mengajarkan Alquran kepada penduduk Yatsrib.
Setelah 12 orang Yatsrib yang sedang berhaji memeluk Islam dan melakukan bai'at aqabah pertama, Rasulullah Saw mengutus Mush'ab bin Umair untuk mendampingi mereka sebagai murabi yang membina mereka dengan tarbiyah islamiyah dan melakukan rekrutmen kepada penduduk Yatsrib/ Madinah.
Hal ini karena Mush'ab juga diberi amanah untuk mempersiapkan Kota Yatsrib menjadi tujuan hijrah, mengingat permusuhan penduduk Mekah kepada nabi dan agama Islam semakin meningkat.
Betul saja, dalam waktu satu tahun, pada tahun berikutnya Mush'ab membawa 73 orang pria dan 2 orang wanita yang merupakan tokoh-tokoh kota Yatsrib bersedia memeluk Islam.
Baca juga: 3 Mayat Tanpa Kepala, Tangan, dan Kaki di Pantai Lampung, 2 Wanita 1 Pria
Sembari melaporkan bahwa di Yatsrib hampir tidak ada lagi rumah yang didalamnya tidak ada seorang muslimpun. Dengan kata lain Yatsrib telah siap menjadi darul hijrah, karena memiliki basis sosial, basis politik, basis ekonomi bahkan basis militer.
Sehingga Yatsrib sangat layak untuk dijadikan sebagai pangkalan penyebaran Islam ke seluruh penjuru, tidak seperti Mekah yang penduduknya justru memfitnah Islam dan nabi sebagai radikal dan teroris serta pemecah belah persatuan dan kesatuan. Faktor penyebab instabilitas.
Adanya setiap rumah minimal seorang muslim adalah basis sosial yang real. Masuk Islamnya 75 tokoh lebih dari suku Khazraj dan Aus adalah basis politik. Karena mereka adalah key person di setiap kabilah yang ada di Madinah.
Kesediaan penduduk Madinah (Yatsrib) untuk menanggung bersama kebutuhan hidup para muhajirin adalah basis ekonomi. Sedangkan kesiapan para tokoh dalam baiat Aqabah kedua untuk membela Islam dan nabi Saw sebagaimana mereka membela diri dan keluarganya adalah basis militer.
Dan keberadaan Madinah sendiri adalah basis teritorial yang strategis dan merupakan jalur perdagangan Bangsa Arab. Yang semua itu tidak dimiliki Nabi di Mekah.
Baca juga: Wali Kota Eva Bagi Penghargaan Lomba Baca Puisi dan Pidato Bahasa Lampung
Pemilihan Mush'ab sebagai dai dan pembina pertama yang dikirim ke Madinah tentu bukan asal asalan. Tetapi karena nabi memahami bahwa kondisi demografi Madinah mayoritasnya adalah anak muda di bawah 40 tahun.
Sebab selama kurun waktu 100 tahun dua suku paling dominan di Madinah, Aus dan Khazraj terlibat dalam perang saudara, perang Buats. Sehingga penduduk golongan tua relatif sedikit karena mati sebagai korban perang.
Sedangkan yang tersisa adalah generasi muda yang rindu kepada perdamaian dan sosok tokoh yang bisa melakukan perubahan. Bukan tokoh yang akan melanjutkan penderitaan dan keterbelahan sosial.
Dan, Mush'ab sangat piawai menjadi komunikator untuk mengenalkan Islam dan sosok nabi yang bisa mewujudkan perubahan dan persatuan. Eh, kok jadi taglinenya koalisi nya Anies ya? Maaf nggak sengaja.
Mush'ab yang masuk Islam di usia 23 tahun dan dikirim ke Madinah sekitar usia 35 tahun, sangat cocok dengan usia para tokoh Madinah yang berusia 30-40 tahun. Bahkan beberapa masih dibawah 30 tahun, seperti Abu Ayub al Anshari, 28 tahun serta As'ad bin Zurarah dan Saad bin Mu'adz yang awal 30 tahunan.
Baca juga: Polres Pesawaran Kejar Pencuri Kabel Tembaga Jaringan Listrik PLN
Kepercayaan Rasulullah Saw kepada generasi muda, membuahkan hasil yang gilang gemilang. Beliau tidak ragu ragu untuk memberikan ruang dan peluang bagi anak muda untuk mengerjakan hal hal besar dan strategis. Bahkan menjelang akhir hayatnya, beliau memberikan kesempatan kepada Usamah bin Zaid yang baru berumur 18 tahun menjadi panglima perang menghadapi pasukan Romawi di Palestina.
Mudah mudahan kita di Indonesia nanti Allah berikan pemimpin yang, kalau tidak ada yang muda, ya paling tidak jangan yang berusia di atas 70 tahun lah. Takutnya ada gap yang terlalu lebar dengan mayoritas penduduk Indonesia yang berusia muda. Bagaimana pun, gaya generasi milenial sering kali tidak nyambung dengan generasi kolonial.
Kembali ke Mush'ab.
Bagi yang jarang membaca sirah Nabawiyah, nama nya mungkin kurang dikenal. Tidak se-terkenal Ali, Zubeir, Abdurahman dan yang lainnya. Karena Mush'ab meninggal terlalu cepat, tahun ketiga hijrah, syahid dalam Perang Uhud..m Dalam perang ini, Beliau diamanahi untuk memegang panji atau bendera perang.
Ibnu Sa’d menuturkan bahwa Ibrahim ibn Muhammad ibn Syarahbil al-‘Abdari menceritakan dari ayahnya. Ia berkata, “Dalam Perang Uhud, Mush’ab ibn ‘Umair tampil membawa bendera. Ketika barisan kaum Muslimin kocar-kacir, Mush’ab tetap berdiri tegak pada posisinya. Selanjutnya, datanglah Ibnu Qamitah dengan menunggang kuda.
Baca juga: Polres Pesawaran Jaring Ratusan Kendaraan dalan Operasi Zebra Krakatau 2023
Ia menebas tangan kanan Mush’ab hingga putus dan Mush’ab ketika itu berkata: ‘Muhammad itu tiada lain adalah seorang rasul yang telah didahului oleh rasul-rasul sebelumnya.’ Selanjutnya, ia raih bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya.
Namun, kali ini musuh pun kembali menebas tangan kirinya hingga putus. Mush’ab membungkuk ke arah bendera kemudian merangkulnya dengan kedua pangkal lengannya. Selanjutnya, ia dekapkan bendera itu di dada seraya mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain adalah seorang rasul yang didahului oleh rasul-rasul sebelumnya.”
Untuk ketiga kalinya, Ibnu Qamitah kembali menyerang Mush’ab. Kali ini ia menyerangnya dengan tombak dan menusukkannya hingga patah menembus tubuhnya. Mush’ab pun akhirnya gugur dan jatuhlah bendera perang yang dibawanya.”
Bagaimana pun Mush'ab tetap setia menjaga amanah mempertahankan bendera untuk terus berkibar. Tidak berkhianat sedikitpun. Bahkan kata katanya, diabadikan menjadi sebuah ayat dalam Al-Qur'an, Ali Imran, 144: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul."
Itulah, mengapa saya memberi nama anak pertama, Mush'ab. Tentu agar bisa meneladani Mush'ab bin Umair, merangkul generasi muda dan mengoptimalkan potensi mereka menjadi unsur perubahan dan perbaikan umat dan bangsa. Semoga.
Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)
* Ketua Wilayah Sumbagsel DPP PKS
