HELOINDONESIA.COM -Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang hadir di Gala Dinner di Rumah Gubernur Kalimantan Selatan dalam rangkaian Perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2025 pada Sabtu (8/2/2025) mengutip pernyataan tokoh pers Mochtar Lubis.
"Mochtar Lubis pernah mengatakan, pers yang bebas dan bertanggung jawab adalah cahaya bagi bangsa," ujarnya.
Sayangnya, di dunia yang dinamis ini kebenaran itu makin kabur dalam riuhnya disinformasi dan algoritma.
"Kita dihadapkan pada pertanyaan bagaimana kata-kata tetap menjadi penuntun kebenaran, bagaimana pers tetap menjadi penjaga nurani bangsa dan juga tentu saja bagaimana puisi sastra tetap menjadi ruang bagi refleksi dan kejujuran," ujarnya.
Jadi, lanjut Fadli Zon, malam ini dirinya mengajak seluruh insan pers untuk merayakan semangat dalam membangun literasi kebebasan berekspresi dan kebudayaan menjadi fondasi kekuatan bagi bangsa.
Fadli Zon mengatakan, baru 100 hari lebih menjadi menteri kebudayaan Republik Indonesia, dia menyampaikan pesan dari Presiden Prabowo Subianto bahwa budaya harus menjadi pondasi bagi bangsa.
"Ini merupakan komitmen dari Bapak Haji Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia yang menjadikan Kementerian Kebudayaan berdiri sendiri . Budaya ini benar-benar menjadi fondasi bagi bangsa kita," jelasnya.
Fadli Zon pun pasal 32 ayat 1 bahwa negara menjamin memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan budayanya masing-masing.
"Yang paling penting kebudayaan kita harus mempunyai kontribusi bagi peradaban dunia di era globalisasi. Jadi negara memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan budayanya masing-masing," paparnya.
Lebih lanjut dikatakan politisi Partai Gerindra tersebut, di tengah peradaban dunia yang begitu dinamis dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sampai Ai, saya kira semua negara berlomba-lomba untuk saling mempengaruhi dan mengedepankan budayanya masing-masing.
Fadli Zon mencontohkan negara-negara tetangga seperti Korea, Jepang negara-negara ASEAN juga yang berlomba-lomba di dalam pemajuan kebudayaan mereka.
"Korea yang cukup menonjol karena budaya dan kebudayaan ini adalah soft power dan mereka mengembangkan ini sudah cukup lama mungkin lebih dari 20 tahun yang lalu sehingga terjadilah apa yang sekarang disebut sebagai Korean wave," terangnya.
Baca juga: Baznas Siap Bangun Kampung Indonesia di Gaza, Bentuk Dukungan ke Palestina
Dengan adanya soft power dari negara-negara lainnya dalam memajukan kebudayaan, lanjut Fadli Zon, tentu saja ada relevansinya dengan pers sangatlah kuat.
"Kita membutuhkan bekerja bersama-sama dengan insan pers dan dunia pers di dalam memajukan kebudayaan Indonesia. Karena kerja kebudayaan Indonesia ini adalah kerja bersama, gotong royong yang harus dilakukan oleh semua pihak," paparnya.
