Helo Indonesia

Jenderal Buku

Annisa Egaleonita - Opini
Minggu, 17 Agustus 2025 16:13
    Bagikan  
Jenderal Buku

GAF

Oleh Gufrom Azis Fuandi *

ZHAO SHE adalah jenderal yang cakap dari Kerajaan Zhao pada periode negara negara berperang di Tiongkok kuno. Dia memiliki anak yang bernama Zhao Kuo. Zhao Kuo belajar ilmu militer sejak anak-anak. Kuo sangat cerdas sehingga di usia belia sudah menguasai berbagai teori dan strategi militer.

Bahkan dalam beberapa kali simulasi, dia beberapa kali mengalahkan ayahnya. Tetapi ayahnya tidak berpikir bahwa anaknya bakal menjadi jenderal militer yang baik dan sukses."Karena perang adalah urusan hidup dan mati," kata Zhao She ketika ibunya Zhao Kuo menanyakan alasannya.

"Namun ketika anak kita berbicara tentang perang, dia menganggap enteng. Saya berharap dia tidak pernah menjadi jenderal perang. Kalau tidak, dia akan menghancurkan seluruh pasukannya," lanjutnya.

Setelah ayahnya meninggal, Zhao Kua menjadi tentara. Ketika negara Qin menyerang negara Zhao, raja negara Zhao memutuskan memilih Zhao Kuo menjadi pemimpin pasukan untuk berperang melawan musuh.

Mendengar itu ibunya Zhao Kuo segera menemui raja dan mengingatkan agar membatalkan penunjukannya itu. Karena Zhao Kuo tidak cocok, alasan ibunya.

Ketika Raja Zhao bertanya, ibu tersebut mengungkapkan, "Ketika saya menikahi ayahnya, dia adalah jenderal pasukan." Sang suami merawat pasukannya dan berbagi dengan mereka apapun yang Tuanku (raja) berikan kepadanya.

Ketika dia memimpin pasukan untuk berperang, dia mengabdikan perhatiannya untuk berperang. Tidak pernah sekalipun, sang suami membiarkan masalah rumah tangga mengganggu pikirannya.

Tetapi Zhao Kuo ini berbeda. Dia menjadi sombong, segera setelah ditunjukkan menjadi jenderal pasukan. Dia tidak berbagi apapun dengan prajuritnya dan bermaksud untuk membeli berbagai barang untuk dirinya sendiri.

Tuanku membuat keputusan yang salah jika menunjuk nya karena reputasi ayahnya, Jenderal Zhao She. Zhao Kuo hanya mempunyai pengetahuan perang dari buku, dia tidak mengetahui bagaimana harus mengaplikasikan pengetahuannya dalam perang yang sesungguhnya."

"Percayakan hal ini kepadaku, nyonya," jawab raja. "Saya sudah membuat keputusan."

"Jika demikian, saya tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Jangan memberi tahu saya, bahwa saya tidak pernah memberikan peringatan kepada Tuanku, jika dia nanti mengecewakan Tuanku," ujar ibu Zhao Kuo.

Setelah resmi menjabat sebagai pemimpin pasukan, yang pertama kali dilakukan adalah mengganti semua pejabat dan kemudian merubah strategi para pendahulunya.

Kerajaan Qin dipimpin oleh Jenderal Bai Qi yang berpengalaman berhasil mengelabui Zhao Kuo dengan berpura-pura mundur dari medan perang, kemudian bergerak memutus jalur pasokan pasukan Zhao dalam serangan mendadak, memecah mereka menjadi dua bagian yang terpisah sehingga tidak dapat mendukung satu dengan yang lainnya.

Jenderal Bai Qi kemudian memgepung mereka selama empat puluh hari. Zhao Kuo terbunuh (pada 260 SM) ketika dia berusaha mencoba memecah formasi lawan. Pasukannya mengalami kekalahan besar dan musuh hampir dapat menaklukkan Ibu Kota Zhao.

Bila Zhao She (sang ayah) terkenal karena ketangguhan nya, maka Zhau Kuo terkenal karena kekalahan telaknya dalam perang Changping melawan Jenderal Bai Qi dari kerajaan Qin. Para sejarawan menyebut perang ini sebagai, "Salah satu pertempuran yang paling berdarah dan menentukan dalam sejarah Tiongkok kuno."

Apa hikmah dari kisah ini?

Pertama, bahwa kematangan itu membutuhkan proses, yang disebut pengalaman. Proses memperoleh pengalaman itu seperti makan bubur panas, yang dimulai dari pinggirnya, tidak langsung menyendok bagian tengahnya. Kombinasi antara pengetahuan dengan cara atau aplikasinya.

Kedua, jangan cepat puas hanya karena mengetahui dari buku. Karena buku itu ditulis dari catatan pengalaman tentang jatuh bangunnya seseorang atau pasang surutnya berbagai peristiwa.
Yang ketiga, jangan abaikan pendapat atau penilaian orang tuanya kepada anaknya. Karena sedikit sekali orang yang mengenal seseorang lebih baik dari pada orang tuanya sendiri.

Terus apa lagi?
Kata Cak Lontong, "mikir..." Sambil menunjuk pelipisnya.

Wallahu a'lam bi shawab,
(Gaf)

*Diinspirasi dari buku, "Kisah Kisah Kebijaksanaan China Klasik" (Refleksi bagi para Pemimpin). Tulisan Michael C. Tang