LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ----Awal bulan ini jadi berkesan bagi murid Kelas XI SMAN 12 Bandarlampung, peserta Anjangsana Edukatif Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Lampung bawa program tematik sosialisasi dan edukasi cegah dini kekerasan seksual di lingkungan sekolah usung tema ‘Kenali Hak Perempuan, Menangkan Ruang Aman Tanpa Kekerasan Gender’, di masjid sekolah bilangan Jl Letkol Endro Suratmin, Sukarame, Bandarlampung, Senin (2/1/2026) lalu.
Hari itu bukan seksolog tenar Dokter Boyke, tetapi segenap murid rerata usia pascapubertas 16-17 tahun itu kedatangan sejumlah narasumber tak kalah menarik. Bicara hal yang hingga kini bahkan masih ada yang bilang urusan privat bahkan tabu.
Pengurus Eksekutif Wilayah LMND Lampung dan Eksekutif Kota LMND Bandarlampung —para narasumber itu, yang bergantian memaparkan komunikatif, apa itu kekerasan seksual, apa itu hak tubuh, pentingnya kesetaraan gender, apa saja bentuk kekerasan seksual, dampak psikologis dan sosial serta psikososial bagi korban atau penyintas, metode cegah dini, respons cepat kolektif atas temukenali dugaan kasus, pentingnya membangun kesadaran dan keberanian bersuara, mekanisme pelaporan dan pendampingan bagi korban, peran lingkungan sekolah dalam cipta kondisi ruang aman bagi perempuan dan anak, hingga lainnya.
Pemrakars, Ketua Eksekutif Wilayah LMND Lampung, Dinda Boru Napitu berulang bilang, edukasi sejak dini menjadi langkah strategis mendesak demi memutus rantai kekerasan seksual. Dalam hal ini di lingkungan satuan pendidikan, wabil khusus sekolah menengah sebagai pintu.
"Pendidikan kesetaraan gender, hak tubuh, keberanian untuk melapor, ini antara lain yang hemat kami juga harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan dan gerakan sosial di masyarakat," injeksi Dinda, pencegahan tindak kejahatan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak dan terhadap kesehatan reproduksi, tidak cukup melulu hanya dengan penegakan hukum, dengan pendekatan koersif, tetapi juga harus dimulai dari kesadaran kolektif.
"Sekolah dan masyarakat ialah ruang penting untuk bangun pemahaman kritis tentang perlindungan perempuan dan anak yang utuh dan lengkap,” imbuh aktivis jebolan SMKN 1 Bandarlampung dan IIB Darmajaya Lampung itu.
Kesempatan baik itu, Dinda dkk turut menyoroti tentang malapraktik pelecehan seksual (sexual harrasment) dan malapetaka kekerasan seksual (sexual voolence), yang masih marak terjadi berikut faktor pemengaruh maupun faktor penyebab umum dan spesifiknya.
Dinda cs jua gali animo peserta anjangsana, soal betapa pentingnya pendidikan seks bagi seluruh kalangan, bagi seluruh kelompok usia. Apalagi bagi mereka para murid Smandalas nama tenar SMAN 12, sebagai remaja generasi emas, pentingnya teredukasi soal itu. Pentingnya awareness: saling melindungi satu sama lain, kemudian.
Ujar Dinda, inisiatif LMND gelar anjangsana, bagian bentuk ekspresi keresahan kolektif. Makin marak, kasus pelecehan dan kekerasan seksual di Indonesia. LMND menilai, gerakan penyadaran terstruktur sistematis masif, sedini mungkin, terkait ini, perlu terus ada. Cegah naiknya angka korban.
"Terutama di sekitar kita. Ya kita di sini, Lampung pastinya," sorong Dinda, pihaknya juga serius menggamit gotong royong pengampu kebijakan, mulai dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung, serta pihak
Polda Lampung guna penyempurnaan edukasi terkait pengaduan kasus pelecehan dan kekerasan seksual.
Secara khusus bahkan, LMND Lampung meminta afirmasi dukungan dari Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Lampung Punnama Wulan Sari Mirza. Dan Batin Wulan, sapaan istri Gubernur Rahmat Mirzani Djausal itu hangat respons.
“Kami menyadari betapa penting menumbuhkan kesadaran rame-rame cegah dini potensi janggal pelecehan seksual dan kekerasan seksual di lingkungan manapun! Saya pribadi cukup resah melihat bagaimana angka kasus tindak pidana pelecehan dan kekerasan seksual di Lampung ini urutan terbesar ketiga se-Sumatra. Nah, PR berat siapa ini? Ya kita semua,” berondong Dinda, geram.
LMND memandang, status memalukan memilukan ini patut ditanggapi serius. Tak cukup hanya dengan menggerutu, mengecam, mengutuknya. Lebih dari itu, mesti dihadapi dengan perang semesta. "Memerangi segala tindakan yang menjurus ke arah pelecehan ataupun kekerasan seksual. Sikap ini mutlak dan tidak bisa dikompromi.
Sebagai bentuk realisasi kerasnya LMND memerangi dan berusaha turut meminimalisir angka korban pelecehan dan kekerasan seksual, LMND mematri penyemangat diri, bakal anjangsana edukatif terbanyak ke SMA/SMK se-Lampung.
Adapun Ketua Eksekutif Kota LMND Bandarlampung, Marco Fadhillah Ikhlas, narasumber lainnya, seturut. Program ini penanda komitmen LMND turut aktif cegah naiknya angka pelecehan seksual di Lampung, terkhusus Bandarlampung sebagai wajahnya Lampung.
"Program ini sudah kami gagas sejak beberapa bulan kemarin sebagai bentuk komitmen cegah angka pelecehan seksual terkhusus di Bandarlampung. Kami terus berusaha masifkan sosialisasi tak hanya sebatas di SMA. Namun juga akses-akses pendidikan lainnya,” ujar alumnus Smandalas, mantan Ketua Eksekutif LMND Komisariat Unila ini.
"Di Smandalas ini, almamater tercinta saya dulu, kami happy banget sambutan adik-adik murid kelas XI-nya luar biasa. Bukan cuma keingintahuan, daya serap ilmu mereka paten punya. Kerangka berpikir kritis bahwa pelecehan seksual, kekerasan seksual sebagai sebuah kejahatan, sebuah musuh bersama, itu auranya besar terasa di sini. Keren," ucap Marco ceritakan kesan. Marco putra kedua mendiang aktivis pejuang hak rakyat miskin, Ahmad Muslimin.
Tak kalah happy, sebagai murid Smandalas, SMA Negeri terakreditasi A dirian 23 Agustus 1993 silam berdasar SK 0313/O/1993 di lahan 15.795 m² dengan NPSN 10807058, kini dipimpin Kepsek Tetty Efently Daulay, diperkuat empat Wakepsek, 1 Kepala Perpustakaan, 1 Kepala Laboratorium, 1 Kepala TU, 1 Koordinator BK dengan 5 guru BK, serta 64 tenaga pendidik, mereka juga tampil jadi peserta yang baik.
Sejumlah murid peserta anjangsana yang diwawancarai tim, excited. "Seru banget pokoknya. Mas sama Mbaknya (narasumber) juga asyik. Senang banget. Bisa tahu. Dari yang belum tahu, jadi tahu," gabungan komentar dua murid peserta usai acara. Setidaknya mereka menjadi paham, pentingnya berani bersuara, berani 'speak up' (termasuk didalamnya berani melaporkan), serta berani melawan malapraktik pelecehan seksual dan malapetaka kekerasan seksual. Andai tetiba menghampiri diri. (Muzzamil)
