Helo Indonesia

Wajah RSUDAM, Ngelokak di Tengah Penderitaan Rakyat

Annisa Egaleonita - Opini
Jumat, 22 Agustus 2025 13:57
    Bagikan  
Wajah RSUDAM, Ngelokak di Tengah Penderitaan Rakyat

HBM

Oleh Herman Batin Mangku*

RUMAH Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUDAM) merupakan salah satu estalase pelayanan kesehatan Pemprov Lampung terhadap rakyatnya. Hari ini, wajahnya tercoreng skandal oknum yang "ngelokak" alat kesehatan kepada orangtua pasien yang balitanya sedang sekarat.

Bisa jadi, walau sang dokter disebut oknum, masalah yang masih hangat ini merupakan puncak gunung es buruknya wajah pelayanan akibat berkeliarannya oknum yang bermental "ngelokak" di rumah sakit plat merah milik Pemprov Lampung itu.

Baca juga: Hari Jadi ke-41 RSUDAM, Pemerintah Provinsi Lampung Tingkatkan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan

Wartawan senior, Ilham Djamhari, alumni UGM, menceritakan pengalaman pahitnya ketika membawa anaknya luka serius akibat terjatuh tiga tahun lalu. Dengan cemas, ia segera membawa sang buah hati ke IGD RSUDAM.

Sebagai peserta BPJS, Ilham yakin biaya pengobatan anaknya akan ditanggung penuh. Namun, di tengah kepanikan itu, ia justru menghadapi kenyataan pahit. Seorang oknum petugas meminta Rp900 ribu “dana pengaman” yang katanya nantinya akan dikembalikan. .

Sejak itu, Ilham memilih rumah sakit swasta yang tetap pakai BPJS tapi pelayanannya jauh lebih baik. Dia sendiri operasi polip hidup gegara rokok dan anaknya bungsunya rawat inap pakai BPJS mendapatkan payanan yang memuaskan di rumah sakit swasta. 

undefined

Apa yang dialami Ilham mengingatkan insiden sopir ambulans RSUAM meminta biaya besar untuk mengantar jenazah ke Kotabumi. Karena keluarga pasien tidak sanggup membayar, jenazah akhirnya dibawa menggunakan angkot.

Berdasarkan data Ombudsman RI Perwakilan Lampung, laporan masyarakat terkait dugaan maladministrasi pelayanan kesehatan di rumah sakit daerah masih cukup tinggi.

Pada tahun 2023, sedikitnya 67 aduan diterima Ombudsman Lampung, sebagian besar terkait pungutan liar, lambatnya pelayanan, dan diskriminasi terhadap pasien BPJS.

Sementara itu, Inspektorat Provinsi Lampung juga mencatat adanya pengawasan internal terhadap RSUAM, namun kasus-kasus pungli kerap sulit dibuktikan karena minimnya laporan resmi dan banyak keluarga pasien memilih diam.

“Korban sering enggan melapor karena dalam posisi lemah. Mereka takut anak atau keluarganya tidak ditangani dengan baik,” kata seorang aktivis kesehatan di Bandarlampung.

Kasus-kasus semacam ini memperkuat stigma buruk bahwa rumah sakit daerah kerap menjadi “lahan basah” praktik pungli. Padahal, rumah sakit seharusnya menjadi tempat penyembuhan, bukan ngelokak di tengah penderitaan orang lain.

Meski menyandang status rumah sakit kelas A dan menjadi andalan masyarakat, berbagai masalah pelayanan masih terus dikeluhkan pasien maupun keluarga mereka. Masalah pelayanan lainnya:

1. Waktu Tunggu Panjang

Banyak pasien mengeluhkan lamanya antrean mulai dari pendaftaran, pemeriksaan dokter spesialis, hingga tindakan medis. Kondisi ini diperparah dengan jumlah pasien BPJS yang sangat tinggi, sementara tenaga kesehatan terbatas.

2. Kurangnya Transparansi Biaya

Meski mayoritas pasien menggunakan BPJS, masih ada keluhan soal pungutan tambahan di luar ketentuan, seperti biaya obat, peralatan medis, maupun tindakan operasi tertentu.

3. Keterbatasan Fasilitas

Beberapa ruangan rawat inap masih penuh sesak, sehingga pasien terpaksa menunggu lama atau dirawat di lorong.Peralatan medis tertentu dilaporkan belum memadai atau kadang rusak sehingga menghambat pelayanan.

4. Perilaku Oknum Tenaga Kesehatan

Ada laporan terkait sikap kurang ramah sebagian dokter atau perawat terhadap pasien dan keluarganya. Kasus dugaan pungli oleh oknum dokter maupun staf juga sempat mencuat, menimbulkan citra negatif bagi RSUDAM.

5. Sistem Administrasi Rumit

Alur birokrasi untuk pasien BPJS dinilai berbelit, mulai dari pendaftaran online, verifikasi, hingga rujukan, sering membingungkan pasien terutama yang dari daerah.

6. Penumpukan Pasien Rujukan

Sebagai rumah sakit rujukan utama, RSUDAM sering overload pasien, apalagi dari kabupaten/kota lain di Lampung. Akibatnya pelayanan menjadi lambat dan tidak optimal.

7. Kebersihan dan Kenyamanan

Ada pasien dan keluarga yang mengeluhkan kebersihan toilet, ruang tunggu, dan fasilitas umum lain yang kurang terawat. Tempat parkir juga sering penuh dan semrawut.

8. Keterlambatan Penanganan Darurat

Meski statusnya rumah sakit rujukan, ada keluhan pasien IGD yang penanganannya lambat karena harus antre menunggu dokter spesialis.

INDONESIA EMAS

emua ini menjadi tantangan, bagaimana bisa menjadi Indonesia Emas, jika wajah pelayanan kesehatan saja masih buruk. Bayi dia bulan bernama Alesha Erina Putri telah dimakamkan ibu-bapaknya yang sempat dimintai Rp8 juga untuk beli peralatan oleh dokter BR.

Walau dalam keterangan pihak rumah sakit kematian sang bayi tak ada kaitan dengan peralatan tersebut, kedua orangtuanya, Sandi Saputra (27) dan Nida Usofie (23) tak akan melupakan peristiwa yang dialami mereka seumur hidup.

Bisa jadi, jika belum takdirnya, Alesha adalah salah satu generasi emas bangsa ini. Namun, cita-cita besar itu pupus, terkubur bersama wajah buram pelayanan kesehatan yang semestinya menjadi tempat penyembuhan, bukan ajang “ngelokak” di tengah penderitaan rakyat.

* Pemred Club