Oleh Prof. Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
CUKUP lama penulis menyimak, memperhatikan, membaca rasa produk tulisan jurnalis Herman Batin Mangku (HBM) yang disajikan pada media ini. Entah berapa banyak tulisan beliau yang saya baca menggunakan rasa filosofis. Salah satu jargon beliau “singgol tipis-tipis”; agar yang disinggol tidak kehilangan marwah.
Sekalipun sejatinya HBM punya data dan kepiawaian untuk bertindak lebih garang; namun "kelampungan" yang melekat sebagai jati diri pada dirinya, justru menabukan tindakan seperti itu.
HBM seolah menerapkan laku sejati sebagai orang Lampung dengan prinsip “Dang Bangga Ulih Dapok, Dang Pungah Ulih Kaya” yang mengajarkan manusia agar tidak menyombongkan kemampuan dan tidak bersikap angkuh karena kekayaan.
Ungkapan ini mencerminkan pentingnya kerendahan hati, rasa syukur, serta penghormatan terhadap sesama manusia.Nilai-nilai tersebut tetap relevan dalam kehidupan modern karena keberhasilan dan kekayaan sering kali dijadikan ukuran untuk menilai kedudukan seseorang di tengah masyarakat.
Secara maknawi, seolah-olah HBM mengingatkan kita semua agar tidak berlebihan dalam membanggakan pencapaian dan tidak menjadikan kekayaan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Keberhasilan memang patut disyukuri karena diperoleh melalui usaha, ketekunan, dan pengorbanan. Namun, keberhasilan tidak seharusnya membuat seseorang melupakan proses yang telah dilalui maupun bantuan yang diterimanya.
Setiap pencapaian dapat dipengaruhi oleh dukungan keluarga, pendidikan, lingkungan, kesempatan, dan pertolongan sesama. Hal ini sangat disadari oleh HBM sebagai seorang jurnalis senior papan atas di daerah ini.
Kerendahan hati yang HBM tampilkan bukan berarti seseorang harus menyembunyikan kemampuan atau menganggap dirinya tidak berharga. Sebaliknya, kerendahan hati menunjukkan kemampuan untuk mengenali kelebihan dan kekurangan diri secara seimbang.
Orang yang rendah hati tetap dapat memiliki cita-cita tinggi, meraih prestasi, dan menunjukkan hasil kerja kerasnya tanpa merendahkan orang lain. Ia juga bersedia belajar dari pengalaman, menerima saran, serta mengakui kontribusi orang-orang yang membantunya.
Dengan sikap tersebut, keberhasilan menjadi sarana untuk memperbaiki kualitas diri, bukan alat untuk memperoleh pengakuan melalui kesombongan.
Nilai yang terkandung dalam ungkapan masyarakat Lampung, dan melekat pada diri HBM ini juga berkaitan dengan pentingnya menjaga kesopanan dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Manusia merupakan bagian dari lingkungan sosial yang membutuhkan kerja sama, kepedulian, dan rasa saling menghormati. Perbedaan keadaan ekonomi maupun pencapaian tidak seharusnya menghilangkan sikap saling menghargai.
Melalui tutur kata yang santun, perilaku yang tidak merendahkan, dan kesediaan membantu sesama, nilai budaya dapat diwujudkan dalam tindakan nyata. Pelestarian ungkapan tradisional juga menjadi salah satu cara untuk menjaga warisan moral agar tetap dipahami dan diterapkan oleh generasi berikutnya.
Bagi jurnalis muda selayaknya mampu menangkap ini di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial. Berbagai pencapaian, barang mewah, serta gaya hidup dapat diperlihatkan dengan mudah sehingga mendorong sebagian orang untuk membandingkan dirinya dengan orang lain.
Keadaan tersebut dapat menumbuhkan keinginan untuk selalu terlihat lebih unggul. Generasi muda perlu memahami bahwa keberhasilan tidak semata-mata diukur dari pujian, popularitas, atau kepemilikan barang.
Ketekunan, integritas, kepedulian, dan kemampuan menghargai orang lain merupakan bagian penting dari keberhasilan yang bermakna. Dan, ini sangat melekat pada tokoh kita satu ini.
Ungkapan “Dang Bangga Ulih Dapok, Dang Pungah Ulih Kaya” mungkin tidak terlalu tepat untuk mengungkapkan padangan rasa kepada HBM; namun paling tidak itulah yang penulis tangkap; sekaligus mengajarkan kepada saya bahwa HBM berpandangan; Setiap orang berhak berusaha mencapai kehidupan yang lebih baik, tetapi pencapaian tersebut hendaknya tidak menghilangkan kepedulian terhadap sesama.
Dengan menerapkan nilai ini, kita dapat memetik hikmah berinteraksi dengan HBM, bahwa menghargai akan perbedaan, dan menggunakan kelebihan yang kita miliki untuk menjaga harmoni dengan sesama. Terimakasih HBM yang tidak pernah berucap dalam memberi nasihat, tetapi selalu melalui rasa, karsa dan tulisanmu. ***
