LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Hasil penyaringan calon Rektor Universitas Lampung (Unila) Periode 2027–2031 seolah mengulang kembali hasil Pilrek Periode 2023–2027. Pertanyaannya, apakah sejarah akan kembali berulang? Peraih suara terbanyak dari Senat Unila belum tentu menjadi orang yang akhirnya menduduki kursi rektor.
Pada Pilrek 2022, suara senat paling sedikit justru keluar sebagai pemenang? Sebab, dalam tahapan akhir pemilihan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memiliki 35 persen hak suara.
Pada pemungutan suara Kamis (29/10/2026), sebanyak 47 anggota Senat Unila memberikan suaranya kepada enam bakal calon rektor. Tiga besarnya: Dr. Budiyono, S.H., M.H meraih suara terbanyak dengan 22 suara; Prof. Warsito, S.Si., D.E.A., Ph.D dengan 15 suara; dan Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, S.Ked., M.Kes., Sp.KKLP mendapatkan tujuh suara.
Baca juga: Pilrek Unila 2026: Kontestasi Adu Cantelan ke Lingkar Istana
Hasil tersebut mengingatkan pada Pilrek Unila periode 2023–2027. Kala itu, dalam penyaringan 22 Desember 2022, Prof. Ir. Suharso, Ph.D., memperoleh dukungan terbanyak dengan 21 suara. Posisi berikutnya ditempati Prof. Dr. dr. Asep Sukohar dengan 10 suara dan Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., I.P.M., dengan tujuh suara.
Namun, hasil akhir pemilihan pada 28 Desember 2022 justru melahirkan kejutan. Lusmeilia Afriani yang hanya mengantongi tujuh suara pada tahap penyaringan berhasil terpilih menjadi rektor. Ditambah suara Kemdiktisaintek, Lusmeilia memperoleh 44 suara dari total 71 suara. Suharso 21 suara sedangkan Asep Sukohar enam suara.
Kemenangan Lusmeilia tidak terlepas dari mekanisme pembobotan suara. Saat itu, suara senat memiliki bobot 65 persen, sedangkan suara menteri sebesar 35 persen. Dengan demikian, dukungan kementerian menjadi faktor penting dalam menentukan hasil akhir.
Baca juga: H-1 Berubah Total, Konstelasi Kekuatan 3 Calon Rektor Unila
Budiyono Optimistis
Meski sejarah Pilrek sebelumnya menunjukkan peraih suara senat terbanyak belum tentu menjadi rektor, Budiyono tetap optimistis.
"Mudah-mudahan saya ditakdirkan menjadi Rektor Unila," ujarnya seusai pemungutan suara di Ruang Sidang Utama Gedung Rektorat Unila, Kamis (29/10/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan keyakinannya menghadapi tahapan akhir. Namun, dengan mekanisme pemilihan yang memberikan porsi suara kepada kementerian, persaingan belum benar-benar selesai.
Baca juga: Raih Suara Tertinggi, Budiyono: Mudah-mudahan, Saya Ditakdirkan Jadi Rektor Unila
Kemdiktisaintek Jadi Penentu
Kini, ketiga calon harus menghadapi tahapan pemilihan akhir bersama Kemdiktisaintek. Perolehan suara pada tahap penyaringan belum menjadi jaminan siapa yang akan memimpin Unila untuk lima tahun mendatang.
Dalam dinamika politik kampus, dukungan dari luar lingkungan universitas juga menjadi perhatian. Salah satu tokoh yang secara terbuka berulang kali menyatakan dukungan kepada Budiyono adalah Habiburokhman, Ketua Komisi III DPR RI dari Partai Gerindra.
Dukungan politik tersebut menjadi salah satu faktor yang menarik dicermati. Namun, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa dukungan Habiburokhman otomatis menentukan pilihan kementerian.
Di sisi lain, pengalaman Pilrek 2023–2027 memperlihatkan bahwa kandidat yang berada di posisi ketiga dalam penyaringan pun bisa memenangkan pemilihan akhir.
Karena itu, Asep Sukohar masih memiliki peluang. Begitu pula Warsito yang berada di posisi kedua. Keduanya tidak bisa dikesampingkan hanya karena perolehan suara senat pada tahap penyaringan.
Jika mengacu pada pengalaman sebelumnya, Budiyono memang berada di posisi paling menguntungkan berdasarkan dukungan senat. Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa angka tertinggi pada tahap awal bukanlah tiket otomatis menuju kursi rektor.
Akankah Budiyono bakal sukses mempertahankan keunggulannya hingga akhir atau justru Asep Sukohar maupun Warsito yang membuat kejutan? Jawabannya akan ditentukan kemana suara Kemdiktisaintek. Bisik-bisiknya, Asep ada yanng diinginkan pusat jadi rektor. Nah? (HBM)
