LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM — Ekonom digital cum praktisi bisnis pendidikan asal Lampung, Dr Andi Desfiandi, turut 'gatal' bicara menanggapi pengakuan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof Stella Christie dalam forum Akademi Kepemimpinan Perguruan Tinggi di UI Depok 22 Oktober lalu, bahwa ia sempat dengar keluhan pelaku industri menyebut lulusan perguruan tinggi di Indonesia tidak tahan banting ketika bekerja. Alias fragile talents, atau low resilience workforce.
"Jadi misalnya paling tersirat dari industri, mungkin secara ilmu sudah ada, tapi tidak tahan banting. Jadi (baru kerja) sebentar lalu berhenti. Anak-anak pelajar yang baru lulus itu kadang-kadang ada yang bersedia bayar denda padahal katanya dimarah-marahin waktu pekerjaan. Itu dari industri. Jadi sebenarnya betul industri menginginkan ijazah S1, tapi bukan saja ijazah, tapi juga kemampuannya. Itulah saya rasa tercampur dalam kualitas (perguruan tinggi)," ungkap Stella.
Bahkan lulusan yang bekerja, ada yang rela bayar denda berhenti bekerja; ada yang hingga Rp60 juta hanya untuk bisa keluar dari perusahaan. Kemendiktisaintek sebab itu berupaya menampung semua aspirasi, terus meningkatkan kulitas perguruan tinggi agar kualitas lulusan semakin baik.
Seperti diketahui, dalam budaya kerja modern, tenaga kerja berkualitas tak tahan banting, rapuh, mudah menyerah saat hadapi tekanan/stres di tempat kerja acap disebut dengan istilah slang "snowflake employees" (untuk karyawan muda berkualitas secara akademis/teknis namun dianggap terlalu sensitif, rapuh, mudah stres jika menerima kritik/tekanan).
Atau frasa tergantung konteks misal 'fragile talents' bagi karyawan berbakat atau berkualitas tinggi namun memiliki mental rapuh saat hadapi lingkungan kerja dinamis/keras, 'highly qualified but lack of resilience' (menggambarkan seseorang nan amat berkualifikasi kemampuan namun kurang memiliki ketahanan mental atau resiliensi), dan 'low resilience workforce' (tenaga kerja bertingkat ketahanan/daya banting rendah dalam hadapi tantangan pekerjaan). Frasa formal 'high-quality talent with low resilience' (bakat berkualitas tinggi daya tahan rendah) lazim digunakan.
Demi mendengarnya, kendati memasygulkannya tetapi Andi Desfiandi tidak heran, menyebut itu cemeti bagi kampus jua orang tua, kemudian merekomendasikan sejumlah pointers penanganan.
Praktisi bisnis pendidikan lintas jenjang sejak 1995 silam ini: pengampu unit pendidikan usia didik kindergarten hingga pendidikan tinggi dan non formal berbasis di Lampung, kini Ketua Dewan Pembina Yayasan Alfian Husin ini mendedah pentingnya terpenuhi kebutuhan terus menerus upaya perkuatan pola asuh, perkuatan keterampilan non teknis (softskill), perkuatan ekosistem pembelajaran, dan ragam tempuhan cara atasi sindrom lelah akademik (academic burnout) di jagat mahasiswa.
"Keempatnya harus jadi agenda bersama kampus, orang tua dan pemerintah, dibantu kontribusi dunia kerja misal sumbangsih kurikulum ajar tambahan dibutuhkan. Akan sulit terpecahkan jika dilakukan sendiri-sendiri atau parsial," ujar alumnus S1 UKI Cawang, S2 National University Chicago AS, dan S3 Unpad ini beber keempatnya, Kamis (29/10/2026).
PERKUATAN POLA ASUH
Kerap terjadi, unit khusus Bimbingan dan Konseling jamak tersedia di lingkup sekolah dan kampus; menjadi momok tersendiri bagi murid/siswa dan mahasiswa peserta didik, yang sedapat mungkin dihindari.
Seperti telah menjadi semacam hukum tidak tertulis ujar Andi, berurusan dengan unit khusus tersebut sama artinya mempertontonkan bahwasanya ada masalah, atau dalam bahasa gaul "ada sesuatu yang tidak beres" dengan diri pribadi seseorang murid/siswa dan mahasiswa.
Ini sambung Andi menandaskan, menjadi problem kultural tersendiri. "Makanya dulu saat saya rektor, saya buka akses seluasnya akun pribadi media sosial saya yang terbuka 1x24 jam bagi siapapun mahasiswa yang ingin sekadar curhat persoalan di kampus, bahkan tak jarang persoalan pribadi paling privat sekalipun. Ini saya nilai berhasil minimal tak ada jarak antara saya dengan mayoritas mahasiswa saat itu. Pun saya juga dapat berkah, dapat ilmu praktis baru, psikologi," ujar mantan Rektor Institut Bisnis dan Informatika (IBI, kini IIB) Darmajaya Lampung 2005–2015 ini mengenang.
Seperti diketahui, pola asuh atau istilah psikologi disebut gaya pengasuhan (parenting style), dipopulerkan pertama kali psikolog Diana Baumrind demi melukiskan metodologi, cara, sikap, serta strategi orang tua (ortu) dalam mendidik, membimbing, menetapkan aturan kepada anak-anaknya.
Sedikitnya ada empat jenis utama pola asuh menurut teori psikologi perkembangan. Pertama, pola asuh otoritatif atau pola asuh demokratis (authoritative), ini kombinasi aturan jelas, batasan tegas, kehangatan, komunikasi dua arah; dinilai paling ideal sebab dorong kemandirian dan kontrol diri baik pada anak.
Kedua, pola asuh otoriter (authoritarian), dengan kontrol sangat tinggi dengan tuntutan kepatuhan mutlak, minim kehangatan, komunikasi satu arah; berujung anak condong kurang percaya diri dan mudah cemas.
Ketiga, pola asuh permisif, dengan tendensi ortu memberi kebebasan amat tinggi, sangat responsif tapi minim aturan atau batasan; berakibat anak berisiko kurang kontrol diri, sulit mengikuti aturan.
Keempat, pola asuh abai atau tidak terlibat (neglectful atau uninvolved) dengan ortu condong minim kehangatan, pun rendahnya pengawasan atau batasan atas kebutuhan anak.
Sebagai pendidik sekaligus orang tua, Andi jelas berharap pola asuh otoritatif-lah yang menjadi sumber dari segala sumber mula keberhasilan si anak dalam menempuh kisah pendidikannya, plus dalam bersosialisasi, berakulturasi, dan beraktualisasi minat bakat serta penggalian potensi diri baik akademik maupun non akademik selama masa pendidikan.
"Sama sebangun dengan 'orang tua mana yang tak ingin lihat anaknya berhasil bahkan berprestasi di kampus', saat yang sama berlaku 'anak mahasiswa mana yang tak ingin terlahir, tumbuh berkembang, berlatar keluarga bahagia dengan pola asuh demokratis?'
Nah, tidak bisa tidak ini harus dibicarakan bersama sekomprehensif mungkin bahkan sejak masa prastudi. Orang tua mesti jujur, sejelek bahkan seburuk apapun misal latar psikologis anak harus minimal diinformasikan ke pihak kampus lewat unit berkompeten. Ini jadi pagar sosial pertama," bedah Andi.
Agar apa? "Bukan sekadar buat menuh-menuhin berkas unit Bimbingan dan Konseling doang, tapi jadi bagian bahan pijakan perlakuan terbaik kampus pastinya manakala terjadi suatu masalah dengan diri anak saat proses pembelajaran. Tak cukup andalkan hasil asesmen masa pengenalan sekolah/kampus yang cuma sebentar itu," ulas Andi.
"Saya kira inilah agenda bersama kampus dan orang tua demi mencegah atau memitigasi risiko salah satunya itu dia: begitu lulus jadi generasi fresh-graduated, tapi eh begitu diterima bekerja boring lalu mengundurkan diri," imbuhnya.
Andi beri garis bawah, demi mempraktikkan pola asuh ideal memang tak mudah. Terutama terkait karakteristik karkhas masing-masing individu si anak murid/siswa dan mahasiswa lintas genre saat ini, yang lahir tumbuh berkembang dengan tantangan zamannya sendiri-sendiri. Namun begitu ini wajib dijadikan 'PR raksasa' bersama.
PERKUATAN SOFTSKILL
Andi lanjut kedua, perkuatan softskill. Setidaknya sejak genre di mana tren link and match antara lulusan sekolah menengah dengan dunia kerja di Indonesia menggaung era 80-an hingga genre zaman now, entah kenapa softskill acap dijadikan —dipersalahkan sebagai salah satu biang penyebab titik lemah keterbatasan diri di calon atau tenaga kerja produktif di Tanah Air.
"Terus terang saya juga heran, lemahnya softskill ini seperti jadi kambing hitam paling empuk buat jadi sasaran tembak. Paling gampang dijadikan biang kerok. Bahkan misal data dan fakta empiris membuktikan, lulusan SMK kita pernah disebut sulit mendapat pekerjaan apalagi yang sesuai latar program studi ditekuninya kan. Meski kenyataannya tidaklah sepenuhnya benar, ini PR kita juga. Masih ada yang janggal dengan kurikulum pendidikan kita," ujar dia.
Selain itu, "selain misal ujaran satir 'anak si miskin dilarang sekolah/kuliah', sampai sekarang pun masih banyak yang bilang, pendidikan kita masih identik dengan 'ganti menteri ganti kurikulum'. Jangankan murid, mahasiswa, bahkan guru, dosen kadang suka pening. Wah baru lagi, haha. Walau sadar itu bagian penyempurna," sambung dia.
Dari itu, ekonom yang telah sejak 2011 menyigi probabilitas pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia dan menurutnya salah satunya bakal lebih banyak lagi terjangkiti efisiensi sumberdaya manusia sebab bakal lebih banyak dipengaruhi optimasi sumber daya teknologi —terbesar: sumber daya digital didalamnya ini; menggarisbawahi bahwa perkuatan softskill harus berbasis latar generasi pembelajar itu sendiri.
Seperti luas diketahui, mahasiswa aktif di bangku kuliah kini didominasi gen Z dengan rentang usia mahasiswa reguler (S1) umumnya berkisar 18-25 tahun (kelahiran 2001–2008).
Selain dua kelompok genre lain dengan porsi berbeda yakni generasi Alpha (transisi mahasiswa baru kelompok tertua genre ini yang lahir sekitar 2010 mulai masuki usia remaja akhir dan bersiap jadi calon mahasiswa baru), serta genre milenial (gen Y, mayoritas mahasiswa yang lagi S2, S3, atau kelas karyawan).
"Karakteristik milenial dan zilenial kan beda dengan genre sebelum. Mereka tumbuh di era digital serba cepat di mana teknologi, internet, rupa-rupa produk Revolusi Industri 4.0 lainnya berperan besar di seluruh lini kehidupan keseharian. Dan turut menjadi faktor pemengaruh karakteristik belajar termasuk dalam menghadapi makin kompleksnya tantangan akademis, tantangan psikologis era pembelajaran," ulas tiga periode Ketua IKA Unpad Lampung 2016–2029 ini.
Per statistik, data Dashboard Mahasiswa Kemdiktisaintek April 2026 (tahun data 2025/2026), mahasiswa terdaftar nasional RI mencapai 10.754.154 orang. Berdasar jenjang prodi: mahasiswa S1 (8.542.317 orang), D3 (534.693 orang), D1/D2 (4.951 orang) sisanya jenjang lainnya (S2, S3, Profesi).
Dari jumlah itu, mahasiswa baru 2.158.826 orang (laki-laki 41,1%, perempuan 58,9%), mahasiswa lulus 2.547.717 orang, mahasiswa DO 289.670 orang. Mahasiswa STEM (Science, Technology, Engineering, Math) 816.350 orang (37,8%). Sebarannya, Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menampung 44,9% dari total mahasiswa aktif, sisanya PTN.
Sebelum menohok poin perkuatan, Andi meniriskan cirikhas mahasiswa zaman now dominan genzi tadi.
Mulai dari melek teknologi (digital natives sejati): tak alami era transisi digital tetapi lahir langsung di dunia serba digital sebab itu berketergantungan tinggi terbiasa memanfaatkan produk teknologinya—big analytics, Internet of Thing (IoT), kecerdasan buatan (artificial intelligence atau akal imitasi/AI), komputasi awan, mahadata, media sosial, multiplatform daring, otomasi robotik— sebagai alat bantu pembelajaran, riset akademis, akses - olah - transfer - atribusi informasi ragam sumber tak terbatas, sarana komunikasi, pun cari cuan.
Lalu, mahasiswa zaman now notabene terdiri dari lapisan individu yang terbiasa adaptif dengan dinamika zaman dan cenderung lebih terbuka terhadap ide-ide baru dan inovatif, berpikir kritis (critical thinking), dinamis, inovatif, dan kreatif. Mereka jua berani menggugat status quo, cari solusi kreatif masalah dihadapi di kampus pun di masyarakat. Tak cuma anteng ikuti tradisi.
Lalu, multitasking. "Kita telah lazim lihat, mahasiswa zaman now terbiasa kerjakan banyak tugas di waktu bersamaan. Ngerjain tugas atau proyek belajar dan ekskul sambil aktif kegiatan sosial atau mengelola bisnis daring itu dah biasa.
Walau kadang bisa mengundang stres jika tak dikelola baik, ya. Selain ini acap dianggap keunggulan," sebut Andi.
Lalu, mahasiswa zaman now "cenderung berorientasi masa depan yang serba praktis, lebih kritis dalam menghitung proposisi nilai (value proposition) perkuliahan, misal dalam keselarasan prodi dengan kesempatan magang, peluang karier, dan portofolio dunia kerja nyata pascastudi."
Lalu, kepedulian empatik mahasiswa zaman now terhadap isu-isu sosial (social awareness)-nya tinggi. Lebih sadar isu sosial strategis seperti demokrasi, HAM, keadilan ekologi, keadilan hukum, keadilan sosial, kesetaraan gender, multi krisis, perubahan iklim, dll; dan terlibat gerakan sosial daring/luring untuk perjuangkan perubahan lebih baik.
"Terakhir jangan lupa. Krisis pandemi global COVID-19 kita akui turut percepat adopsi pembelajaran jarak jauh atau hibrida. Pembatasan mobilitas sosial kala itu bikin siswa dan mahasiswa genre ini lebih punya fleksibilitas pembelajaran kelas fisik/virtual, menjadikannya lebih mandiri atur waktu dan metode belajar yang sesuai kebutuhan. Besarnya tantangan dihadapi bikin potensinya membawa perubahan positif di masa depan juga lebih besar," ulas dia.
Lantas bagaimana kemudian perkuatan softskill terbaiknya?
Ogah nanggung, Andi bedah lima dari tujuh genre eksisting merujuk pengelompokan populasi individu berdasarkan genre kelahirannya. Pasalnya, karakteristik kepribadian masing-masing individu pada setiap genre saling berbeda sesuai faktor pempengaruh lingkungannya sehingga satu sama lain memiliki kemampuan, kekurangan, sistem nilai anutan, dan cara mengekspresikan diri yang berbeda jua.
Pertama, Generasi Baby Boomers; lahir antara 1946–1964 pasca Perang Dunia II usaidan jadi bagian penting populasi terpenting dunia khususnya negara maju lantaran tingkat kelahiran sedunia melonjak pasca-PD II hingga terjadilah ledakan bayi baru lahir (baby boom) maka dinamai boomer.
Lahir dan dibesarkan oleh ortu yang amat strict membentuk karakteristik umum Baby Boomers menjadi individu dengan tingkat kedisiplinan tinggi, mental sekuat baja, prinsip kuat, berpegang teguh pada loyalitas dan dedikasi, berorientasi pada pencapaian, adaptif (dapat menyesuaikan diri), punya rasa kompetitif tinggi, rasa percaya diri tinggi, serba bisa.
Di samping, Boomers mudah menerima kemajuan teknologi. Walau sudah menua kala teknologi berkembang, masih bisa beradaptasi, berevolusi, jarang kesulitan ikuti kecanggihan teknologi. "Walau lebih banyak konsumsi media tradisional, dari survei Kontan yang pernah saya baca, 90% Boomers ternyata punya akun Facebook dan dipakai berhubungan dengan kerabat dan teman lama," beber dia.
Kendati demikian, Baby Boomers jua terbentuk menjadi genre yang sulit menerima kritik tapi suka mengkritik genre muda yang fakir komitmen, dhuafa etos, miskin etika kerja.
Kedua, Generasi X; lahir antara 1965–1976, semula dinamai Gen Bust sebab secara substantif tingkat kelahirannya lebih rendah daripada Boomers. Gen X lahir era mula dikenal TV kabel, komputer, video gims —ketiganya genre pertama.
Lahir dibesarkan Boomers, Gen X dijuluki The Latchey Kids (anak-anak yang merasa kesepian lantaran ditinggal ortu bekerja). Walau demikian Gen X memiliki karakteristik yang dipengaruhi kondisi dunia kala itu sedang didera ragam krisis ekonomi (sehingga dituntut mandiri dan pintar cari peluang pun hingga disebut-sebut memiliki kemampuan bisnis lebih baik dibanding Baby Boomers).
Dari itu Gen X dikenal berkarakteristik banyak akal, disiplin, logis, mandiri, pekerja keras, mampu pecahkan masalah dengan baik, memerlukan validasi emosional, penyuka sesuatu yang tidak formal, utamakan work-life balance: seimbangnya harmoni kehidupan pribadi dan pekerjaan.
Ketiga, Gen Y/Milenial; lahir antara 1977–1994, genre digital native pertama, lahir tumbuh besar era transisi teknologi analog ke digital, kemunculan internet, dan media sosial.
Berkat internet, penemuan revolusioner 2,5 dekade lebih silam oleh ilmuwan komputer dan fisikawan Inggris, Timothy John Berners-Lee, diluncurkan sang inventor pertama kali Desember 1990: World Wide Web (WWW).
Profesor peneliti Universitas Oxford, profesor emeritus Institut Teknologi Massachusetts, AS, bergelar bangsawan pemberian Ratu Elizabeth II (2013) lengkap gelar Prof. Sir Timothy John Berners-Lee, OM, KBE, FRS, FREng, FRSA; masuk 100 Tokoh Paling Penting Abad ke-20 versi Majalah Time ini jua penemu bahasa markah HTML, sistem URL, dan HTTP; penerima sedikitnya 56 penghargaan per 1995–2023 atas penemuan itu yang telah mengubah dunia, mengubah cara interaksi 7,9 miliar manusia planet Bumi kini.
Dan mempercepat lahir Revolusi Industri 4.0 (revolusi industri genre keempat berbasis teknologi internet) memicu mengejan hebat melahirkan jenama e-dagang Amazon 5 Juli 1994, platform media Netflix 16 Januari 1997, raksasa pencarian Google 4 September 1998, tangan anak muda Indonesia: Kaskus 6 November 1999, media sosial berbagi video YouTube 14 Februari 2005, layanan penyiaran musik dan siniar berbasis di Stockholm 2006 diluncur 7 Oktober 2008: Spotify, dan seterusnya.
Hingga secara luar biasa melesat, merubah total pranata ekosistem dunia berganti berbasis serba algoritma, lahirkan booming startup, dan profesi baru terkait segala sesuatu terkait Data: sedikitnya 10 pekerjaan profesional bidang data terpopuler berdasar pelamar lebih dari 50 perusahaan pencari talenta terbaik bidang data via platform job seeking Dicoding Jobs 2023.
Seperti dikutip: Analis Data, Analis Data Bisnis, Anotator Pembelajaran Mesin, Ilmuwan Data (Data Scientist), Insinyur Data (Data Engineer), Insinyur Pembelajaran Mesin, Insinyur Otomasi, Intelijen Bisnis, Pembelajaran Mesin untuk Cloud, dan Pembelajaran Mesin untuk IoT.
Pun hingga profesi penambang data, serta imbas efek interoperabelnya: pengepul data, makelar data, pembajak data, pembobol data, pencuri data, penjahat data. Jua lebih sadis lagi, mafia data yang isunya pun siap data murder by order.
Hingga 2023 lalu, ekonom Yanis Varoufakis —eks Menkeu Yunani menggagas lewat bukunya "Techno-feodalism: What Kill Capitalism?" bahwa kapitalisme global telah mati, bukan oleh sosialisme sebagai lawan tanding selama ini, melainkan oleh yang dia istilahkan sebagai "tekno-feodalisme": sistem baru di mana segelintir platform teknologi digital raksasa mengambil alih peran dari pasar dengan berlaku bak tuan tanah baru modern pemungut rente digital.
Kata lain, platform digital raksasa kini telah pula berubah menjadi sebentuk tuan meneer pengendali tambang data, jauh melampaui emas ataupun nikel!
Pun didalamnya saat kini semua orang latah bilang 'dunia dalam satu genggaman', saat algoritma data privat kita ramai-ramai menjadi bancakan gratis penambang data memperjualbelikannya tanpa copyright cukup copy paste.
Termasuk di dalamnya data keuangan pribadi terjaring mahadata perbankan dan entitas industri jasa keuangan lainnya. Hingga bukan cuma kita, dunia perbankan jua relatif gagap siasat, dalam catudaya sistem cegah kendali bobol data jebol data seperti acap didengar: data nasabah bank A dibobol, data nasabah bank B dijebol, nasabah cuma bisa pasrah jua.
Atas segala berkah kemunculan internet itu, pun misal transformasi media penyimpanan era floppy disk (disket) hingga kini Cloud, milenial terbiasa gunakan teknologinya di segala aspek (banjir aplikasi digital, kirim pesan singkat, belanja dan pesan transportasi daring, akses portal dll).
Asal tahu, sejak kemunculan mula internet di 1990 hingga Oktober 2026, perkiraan jumlah aplikasi digital aktif tersedia di dua platform utama: Google Play Store (Android) dan Apple App Store (iOS) sekitar 5,4 juta aplikasi.
Berdasar data pelacakan pasar aplikasi dari firma intelijen seperti 42matters, di Google Play Store sekitar 2,66 juta aplikasi (berfluktuasi, meski ada sekitar 3.000+ aplikasi baru dirilis setiap harinya, Google jua rutin hapus aplikasi tak aktif, melanggar kebijakan, atau tak diperbarui).
Sedang di Apple App Store sekitar 2,74 juta aplikasi, dengan lonjakan besar pengajuan aplikasi baru pada paruh pertama 2026 salah satunya didorong kemudahan pembuatan aplikasi menggunakan alat bantu kecerdasan buatan (AI code generation).
Hingga karakteristik milenial jua turut karkhas: ambisius, berpikir out of the box, condong lebih berani berpendapat, lebih ekspresif dan memiliki pemikiran terbuka dibanding dua genre sebelumnya yang kaku dan tegas, lebih mudah raih sukses usia muda, lebih terbuka menerima perubahan, punya rasa percaya diri tinggi, tak bisa lepas dari gawai.
"Kekurangannya, rentan stres dan depresi, dan beberapa di antaranya juga merasa sulit bergaul," imbuh Andi, seraya memuji peran kunci milenial sekaligus kini sebagai sandwich generation, genre penanggung nafkah keluarga plus ortu.
Keempat, Gen Z; lahir antara 1995–2010 (Statistics Canada sebut dimulai 1993, Pew Statistics menyebut 1997, Yayasan Resolution sebut tahun 2000, ahli pengelompokan genre Alexis Abramson bilang kapan pun itu benar-benar dimulai, kita dapat dengan aman sebut kelompok ini masih muda dan tak pernah mengenal kehidupan tanpa teknologi).
Gen Z tumbuh di dunia serba digital canggih, sebagian besar telah bermain dengan gawai milik ortu sejak kecil. Rerata telah memiliki ponsel pertamanya di usia 10 tahun (tak heran rerata tech-savvy, lengket dengan gawai bahkan dapat habiskan setidaknya 3 jam sehari di depan layar HP).
Karakteristik unggul Gen Z: cenderung lebih mudah berbaur bersosialisasi dengan sekitar dibanding Gen Y, bisa belajar pengelolaan keuangan pribadi lebih cepat dibanding genre sebelum, open-minded (bisa menerima semua perbedaan di masyarakat), melek teknologi hingga mudah mengakses informasi diinginkan (jua lebih cepat mempelajari hal baru), penyuka lingkungan yang berikan ruang tumbuh dan lebih kreatif (maka rerata Gen Z incar start-up untuk berkarier).
Jeleknya, —hingga dilabeli stereotip 'genre manja', akses dini buat berketergantungan tinggi atas teknologi, gawai, dan aktivitas media sosial; amat prioritaskan popularitas, jumlah followers, jumlah likes; ketergantungan juga buat genzi menyukai hasil cepat dan instan, selalu terburu-buru, keras kepala, meski menyukai tantangan juga haus pujian.
Kelima, Gen Alpha; lahir antara 2011–2025, dikenal sebagai ‘anak-anak milenium’, genre termuda di atas genre Beta (kelahiran 2025–saat ini). Lantaran berada di usia anak 1-15 tahun masih belum terlihat jelas karakteristik umumnya. Tapi peneliti sosial Mark McCrindle menyigi, genre ini akan jadi kelompok sangat besar dengan karkhasnya sendiri.
Karakteristik Gen Alpha melek teknologi senada genzi dan lebih cerdas digital dari genre sebelum (tantangan bagi ortu yang butuh strategi khusus didik anak genre ini agar mahir teknologi nun tetap hargai nilai kekeluargaan), selain Gen Alpha memiliki pemikiran dan opini yang kuat, memiliki potensi membawa pembaruan bagi kehidupan sosial dan pemajuan masyarakat, senang berinovasi, tak suka dibatasi aturan, tidak takut mencari sesuatu yang baru dan tanpa ragu akan beralih pada hal kebaruan tersebut.
Dan sebagai ilustrasi pemisalan, Andi mencontohkan meski kini genre milenial sebagian, zilenial terutama, gen Alpha menyusul segera, telah punya banyak alternatif pilihan jenjang pendidikan tinggi dan vokasi khusus semisal Prodi Bisnis Digital, Inovasi Bisnis Digital, Keuangan Digital, Manajemen Pemasaran Digital, Hukum Digital, dan bahkan fakultas AI di Indonesia juga sudah ada, notabene secara sebaran eksponensial masih relatif 'miskin literatur' mau dibawa kemana arah transformasi digital sektor jantungnya ekonomi ini ditengah fakta keseharian berikut isu-isu arus utama dihadapinya.
Dalam hal perkuatan softskill paling dibutuhkan dan paling mendesak direkomendasikan untuk dieksekusi, itu masih acap kali terkendala pula oleh tradisi generalisasi perilaku seseorang berdasar usia yang terkadang kontraproduktif.
Padahal sejatinya, perkuatan softskill sebagai kemampuan non-teknis yang terkait dengan cara seseorang berinteraksi dengan orang lain, mengelola diri sendiri, serta beradaptasi dalam berbagai situasi. Sebagai contoh, umumnya berupa kemampuan komunikasi (mendengar aktif, bicara di depan umum atau public speaking, menyampaikan pesan dengan jelas), berkolaborasi harmonis dengan orang lain dalam tim (teamwork), berpikir kritis dan cari jalan keluar kendala atau pemecahan masalah (problem solving), manajemen waktu (mampu atur prioritas dan penggunaan waktu per efisien), adaptasi cepat terhadap perubahan lingkungan, kecakapan kepemimpinan (pengambilan keputusan, pendelegasian tugas, motivasi orang lain).
"Proses kreatifnya, melatih, mengasah dan mendisiplinkan pembiasaan praktiknya dalam keseharian, butuh prasyarat mutlak tanpa ada sekat generalisasi stereotip itu tadi. Ia harus saling dukung. Agar penanaman (internalisasi) nilai dan norma softskill sebagaimana diupayakan, diamanatkan, ataupun dipersyaratkan itu dapat berlangsung sukarela kemudian," jembreng Andi Desfiandi menjelenterehkan.
Mantan Ketua Bravo Lima Lampung 2018–2019 silam, kecabangan provinsi organ relawan capres-cawapres pejawat Jokowi-Ma'ruf Amin Pilpres 2019 ini mengingatkan, terkait pembangunan karakter ini negara juga hadir melalui penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) 87/2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai payung hukum utama gerakan PPK di Indonesia yang integrasikan harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, olah raga dengan pelibatan sinergi satuan pendidikan, keluarga, masyarakat.
Dilengkapi beleid turunan, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20/2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal, beleid teknis pengatur penerapan PPK di sekolah, memfokuskan pembentukan watak pada lima nilai utama (religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas).
Kedua beleid, ujar pengingat Andi, menggenapi dasar hukum pembangunan karakter bangsa di Indonesia yang tersebar dalam hierarki perundang-undangan, mulai dari landasan konstitusional tertinggi dalam UUD 1945 Pasal 31 Ayat (3) yang amanatkan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, UUD 1945 Pasal 31 Ayat (5) dan Pasal 32 Ayat (1) wajibkan pemerintah junjung tinggi nilai-nilai agama, persatuan bangsa, majukan kebudayaan nasional ditengah peradaban dunia.
Turunannya, dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 menegaskan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan akhirnya membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. Serta dalam UU 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025, menempatkan pembangunan karakter bangsa sebagai salah satu prioritas terwujudnya visi nasional.
"Secara konsisten, pembangunan karakter di Indonesia diarahkan tak hanya lewat jalur pendidikan formal saja, tapi juga lewat keteladanan di lingkungan keluarga, tata kelola pemerintahan, komunitas masyarakat. Pun di lingkungan dunia kerja atau perusahaan misalnya, selain internalisasi prinsip-prinsip good corporate governance, kita juga sering dengar misal penghargaan karyawan teladan, menurut saya itu juga bagian tak terpisahkan dari proses asah asih asuh pembangunan karakter dan perkuatan softskill," tandas dua periode Wakil Ketua Dewan Pertimbangan DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Lampung 2021–2031 ini.
"Softskill ini kan tidak berwujud benda, sulit diuji dengan penilaian atau sertifikasi formal, lebih bersifat abstrak dan terkait dengan kepribadian, sikap, kecerdasan emosional, berguna di nyaris kesemua jenis pekerjaan. Beda dengan hardskill yang merupakan kemampuan teknis terukur misal operasikan mesin atau bahasa pemrograman, berwujud, spesifik, bisa dipelajari lewat kursus atau sekolah, spesifik untuk bidang tertentu," lanjut dia membandingkan.
"Jadi, softskill lebih berfokus pada siapa Anda alias pada karakter, sedangkan hardskill berfokus pada apa yang bisa Anda lakukan alias pada keahlian teknis," simpul Andi.
Bagi kampus, strategi paling jitu meningkatkan softskill mahasiswa; mempraktikkannya langsung via pengalaman nyata di luar zona nyaman, bukan sekadar membaca teori.
Langkah paling efektif bisa dilakukan, mulai dari terjun ke organisasi kemahasiswaan, kepanitiaan, atau komunitas guna asah kepemimpinan dan kerja tim, melatih diri teknik negosiasi, bagi tugas, memimpin orang lain, menguji tempa kecerdasan emosional, manajemen konflik dan kemampuan problem solving saat ada perbedaan pendapat dalam tim.
Lalu, ambil kesempatan magang atau kerja paruh waktu (part-time) sebagai ujud simulasi dunia kerja nyata di mana mahasiswa akan berhadapan langsung dengan profesional, tenggat waktu ketat, komunikasi atasan, dan tekanan kerja. Langkah ini sekaligus media pembelajaran berdisiplin diri, atur waktu antara tanggung jawab akademis dan pekerjaan.
Lalu, aktif berdiskusi dan ambil peran di kelas. "Jangan hanya menjadi "mahasiswa kupu-kupu" (kuliah pulang, kuliah pulang). Mulailah berani bertanya, menyanggah secara santun, memimpin presentasi kelompok, minta feedback selepas presentasi atau kerja kelompok, tanyakan kepada teman atau dosen mengenai kekurangan cara berkomunikasi. Latihan public speaking," jelas Andi.
Lalu, ikut proyek sosial atau menjadi relawan (volunteer). Dengan mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan sosial maupun pengabdian kepada masyarakat, maka disitulah rumah raya yang namanya empati, empati kemanusiaan, empati sosial, simpati, simpati sosial, simpati kemanusiaan, kedermawanan sosial, kerelawanan sosial, kepedulian sosial dan kesetiakawanan sosial sejatinya berada. Ini sekaligus alat uji materiil kesehatan mental paling hakiki.
Lalu, ikut mentorship. Mahasiswa mencari sendiri, sampai ketemu dosen, alumni, atau profesional di bidang diminati yang cocok, akur, dan sesuai kata hati, untuk dimintakan asistensi membimbing sudut pandang karier dan memberi masukan jujur terhadap perkembangan sikap serta cara berkomunikasi si mahasiswa.
Seberapa besar kontribusi kapasitas softskill ini terhadap mudah jatuhnya mentalitas tenaga kerja produktif lulusan perguruan tinggi latar genzi dan sebagian milenial fase akhir yang turut menjadi keluhan dunia industri Tanah Air sebagaimana diungkapkan kepada kemudian disampaikan secara oleh Wamendiktisaintek Prof Stella Christie di atas?
"Nah untuk menjawab ini, bukannya sok diplomatis ya, sama sekali bukan. Tetapi ini harus bijak meletakkan basis pisau analisanya pada pertanyaan umpan balik: sudah dijalankan belum mekanisme unit konsultatif di tempat bekerjanya."
"Lalu jika sudah dan sudah sangat SOP banget maka lantas pertanyaan berikutnya, disediakan-kah atau tersediakah mekanisme sanggahan (compliance) atau pembelaan diri atau klarifikasi obyektif kasus per kasus yang ada. Jika iya, adakah hal itu terpola secara umum atau pola jamak atau telah kebiasaan rutin, berlaku umum berlaku efektif, sama setara berlaku bagi sesiapapun tenaga kerja yang lakukan demikian?" jabar dia. Lebih yahud lagi apabila unit kontrol unit sumberdaya manusia telah efektif bekerja sejak masa pra-pemagangan atau pra penetapan hari pertama bekerja.
"Dalam derajat tertentu, amat sangat dapat dimengerti dan dimaklumi, apabila suatu perusahaan menerapkan sistem berlapis dalam skema baku penerimaan tenaga kerja baru. Salah satunya adalah demi agar untuk menghindarkan dari bobolnya sistem rekrutmen ulah satu dua atau segelintir 'oknum' tenaga kerja produktif lulusan perguruan tinggi yang ternyata baru sebentar bekerja kemudian bikin kaget atau kalau di saya, maaf, bikin ngakak terkadang, lho kok tahu-tahu sudah resign dengan alasan itu ini yang absurd," ujar Andi. Dia mengintensi perusahaan dan tenaga kerja, sama-sama jelas mencari yang terbaik. Pun solusinya.
Kesimpulan dia, perkuatan softskill mesti sama sebangun selain dengan latar belakang tenaga kerja dibutuhkan, latar belakang perusahaan yang membutuhkan, latar belakang pendidikan umum/vokasi sang tenaga kerja daya dukung program tematik pemerintah; bersamaan itu pula sama sebangun dengan perkuatan pola asuh dan perkuatan ekosistem pembelajaran.
"Hasil riset Stanford Research Institute International sekian tahun lalu menemukan bahwa hampir 75% dari kesuksesan seorang pekerja berasal dari softskill. Sementara itu, hanya 25% dari kesuksesan mereka yang berasal dari hardskill."
PERKUATAN EKOSISTEM PEMBELAJARAN
Andi Desfiandi yang juga salah satu penggawa Aliansi Penyelenggara Perguruan Tinggi Indonesia (APPERTI), organisasi yang mewadahi para pembina, pengurus, dan pengawas badan penyelenggara atau yayasan PTS di Indonesia; selanjutnya menekankan perkuatan ekosistem pembelajaran di kampus PTN/PTS sepenuhnya menjadi ranah kampus bersangkutan.
Paling tidak, dengan senjata legal basis data statistik grafik dan trafik tingkat kelulusan, jumlah lulus jumlah bekerja sekaligus feedback ke kampus (misal inisiasi pelaporan swadiri lulusan ihwal pemutakhiran data pribadi selaku alumni yang telah terserap dunia kerja). Serta progres upgrading dan upskilling dosen pengajar.
"Soal perkuatan ekosistem pembelajaran ini, prodi, jurusan, dekanat fakultas, dan senat universitas bersangkutan lah, yang lebih tahu persis kondisi tubuh masing-masing. Saya meyakini semua kampus di Indonesia ini berupaya terbaik untuk hasil terbaik dan berlomba-lomba jadi yang terbaik. Perkuatan oleh karenanya lebih merupakan proses kreatif pengayaan bagi kampus yang bersangkutan. Adapun misal, pemanfaatan jejaring solusi dari jejaring sesama pengampu program studi misal, itu hanya bagian dari mata air muara. Hulu hilir yang tahu ya kampus bersangkutan," ungkap dia.
Pamungkas, tiga lini perkuatan: pola asuh, softskill, dan ekosistem pembelajaran tersebut, Andi harapkan dapat secara ampuh mengikis gejala kelelahan akademik yang merupakan reaksi emosional, fisik, dan mental yang negatif terhadap studi yang berkepanjangan (academic burnout) di kalangan mahasiswa.
Burnout, istilah sindrom yang pertama kali dikemukakan psikolog Herbert Freudenberger tahun 1974, hasil dari pengamatannya terhadap beberapa pekerja di sektor pelayanan tatap muka. Kebanyakan mereka alami stres akibat konflik dan tekanan di kantor. Beberapa tahun kemudian, konsep burnout jua diteliti di sekolah. Hasilnya menunjukkan, siswa jua dapat rasakan stres seperti pekerja.
Berbeda dengan stres umumnya, dan bukan pula kelelahan yang terjadi akibat belajar semalaman, academic burnout merupakan puncak dari segala rasa capek yang terlalu lama mengendap di tubuh dan pikiran. Faktor penyebabnya, dari aktivitas yang terlalu padat, tugas yang terlalu banyak, dan persaingan dan tingkat kepercayaan diri.
"Terbentuknya iklim ideal setelah tiga lini perkuatan tadi telah relatif dibersamakan, dijalankan, dieksekusi bersama secara bersamaan, paling tidak dapat menjadi pagar sosial kedua tidak saja bagi mahasiswa tetapi juga sivitas kampus semisal dari faktor dampak ikutan gejala academic burnout mahasiswa, selain journaling, boundaries pribadi mahasiswa bersangkutan, dan tentunya komunikasi aktif kesemuanya."
Andi Desfiandi tak menampik, memperbaiki fenomena khas sebagaimana disampaikan Wamen Stella, bukan mudah. Ia lebih merupakan proses yang sulit "di-angka-kan". Lantaran ini soal karakter. Yang ujar bijak menyebutnya, cuma beda setipis kulit ari dengan watak. (Muzzamil)
