Helo Indonesia

Sumpah Pemuda, Penyemangat PDAM Way Rilau Tingkatkan Layanan

Herman Batin Mangku - Ragam
1 jam 38 menit lalu
    Bagikan  
PERUMDA WAY RILAU
-

PERUMDA WAY RILAU - Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026, jadi momen jajaran Perumda Way Rilau untuk merawat semangat patriotik dan gigih dalam pelayanannya.

BANDARLAMPUNG -- Di balik setiap tetes air yang dialirkan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Way Rilau, hingga ke kran warga, ada sumber air yang harus dijaga, mesin yang terus bekerja, jaringan pipa yang senantiasa dirawat, serta petugas yang berjibaku memastikan kebutuhan dasar masyarakat Kota Bandarlampung terpenuhi.

Bagi BUMD Pemkot Bandarlampung, pekerjaan itu merupakan perjuangan sehari-hari. Tidak selalu terlihat, tetapi menentukan kenyamanan ribuan keluarga di kota ini. Momentum Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober jadi pengingat bahwa semangat persatuan dan pengabdian tidak cukup berhenti pada upacara.

undefined

Nilai perjuangan para pemuda 1928 tahun 2026 selaras temanya "Pariotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia" jadi momentum buat suntikan semangat kerja nyata dan semangat pelayanan publik yang semakin baik. Dalam konteks itulah, Way Rilau terus berupaya memperluas jangkauan pelayanan, memastikan air bersih benar-benar sampai kepada pelanggan, dengan kualitas dan kontinuitas yang semakin baik.

Data sementara Januari hingga Oktober 2026, ada penambahan 3.985 pelanggan baru. Angka tersebut memperlihatkan perkembangan jangkauan pelayanan perusahaan daerah ini di tengah kebutuhan air bersih yang terus meningkat. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena sejumlah pekerjaan belum selesai.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Teknik Perumda Way Rilau, Gunawan, menjelaskan penambahan itu terdiri atas 321 pelanggan reguler, 2.393 pelanggan melalui program Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), serta 1.267 pelanggan melalui program Dana Alokasi Khusus (DAK).

Di balik angka tersebut, ada ikhtiar memperluas akses air bersih ke wilayah-wilayah yang membutuhkan. Program sambungan baru menjadi salah satu jalan agar lebih banyak keluarga dapat menikmati layanan perpipaan tanpa terus bergantung pada sumber air alternatif.

Skema KPBU menjadi bagian penting dari strategi pengembangan pelayanan. Dukungan infrastruktur melalui kerja sama ini diharapkan membantu memperluas pasokan dan jangkauan distribusi, sementara program DAK turut mendorong penambahan sambungan rumah.

Namun, pertumbuhan pelanggan juga membawa konsekuensi. Semakin luas jaringan dan semakin banyak sambungan yang dilayani, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga kapasitas produksi, keandalan pipa, serta keseimbangan distribusi antarkawasan. Di sinilah ukuran keberhasilan Way Rilau sesungguhnya diuji.

Pertambahan pelanggan merupakan capaian penting, tetapi masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar sambungan baru: mereka membutuhkan air yang mengalir ketika diperlukan.

Menjaga Air di Tengah Tantangan Kemarau

Perjuangan itu tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal. Pada Oktober 2026, debit air baku Way Rilau dilaporkan menurun sekitar 20–25 persen akibat musim kemarau. Gunawan menyatakan penurunan tersebut masih dapat diatasi dan belum mengganggu distribusi kepada pelanggan.

Situasi ini menuntut pengelolaan sumber air yang cermat, instalasi pengolahan, mesin produksi dan jaringan distribusi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Langkah antisipasi yang pernah disampaikan perusahaan mencakup pemeliharaan instalasi, penanganan sedimentasi pada aliran menuju intake, serta pengaturan distribusi ketika kondisi sumber air menurun.

Untuk warga yang mengalami kesulitan pasokan, perusahaan juga menyiapkan bantuan mobil tangki air bersih. Bantuan tangki penting sebagai pertolongan sementara. Akan tetapi, bagi pelanggan yang mengalami gangguan berulang, solusi permanen melalui perbaikan jaringan dan penguatan sistem distribusi tetap menjadi harapan utama.

Karena itu, strategi pelayanan perlu berjalan dalam dua jalur sekaligus: menjaga pasokan jangka pendek dan membangun ketahanan sistem untuk jangka panjang. Perusahaan tidak hanya dituntut tanggap saat masalah muncul, tetapi juga mampu mengantisipasi gangguan sebelum berdampak luas.

Ketika Pipa Bocor, Pelayanan Ikut Diuji

Persoalan jaringan perpipaan menjadi salah satu pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan. Data yang disampaikan Gunawan mencatat 433 laporan kebocoran pada Juli 2026, meningkat menjadi 522 laporan pada Agustus, kemudian mencapai 762 laporan pada September. Totalnya 1.717 laporan selama tiga bulan.

Sebagian kebocoran dikaitkan dengan pekerjaan pembangunan drainase dan trotoar yang berisiko mengenai jaringan pipa. Perusahaan menyatakan telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandarlampung untuk meminimalkan kerusakan ketika pekerjaan infrastruktur berlangsung.

Persoalan lainnya adalah kebutuhan peremajaan pipa, sementara keterbatasan anggaran membuat pembaruan jaringan tidak dapat dilakukan sekaligus. Kondisi ini menuntut penentuan prioritas berdasarkan tingkat kerawanan, dampak gangguan, dan jumlah pelanggan yang terdampak. Ke depan, pemetaan jaringan rawan bocor, percepatan perbaikan, serta koordinasi sebelum penggalian jalan dan pembangunan drainase perlu terus diperkuat.

Langkah tersebut penting untuk mengurangi kehilangan air sekaligus mencegah gangguan distribusi yang merugikan masyarakat. Pelayanan yang baik juga bergantung pada komunikasi. Ketika terjadi kebocoran atau pekerjaan perbaikan, pelanggan membutuhkan informasi yang mudah diakses mengenai wilayah terdampak, perkiraan waktu penanganan, dan langkah yang sedang dilakukan petugas.

Sumpah Pemuda sebagai Energi Pengabdian

Sebagai BUMD milik Pemkot Bandarlampung, Way Rilau memiliki tanggung jawab menjaga keberlangsungan perusahaan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Keduanya harus berjalan beriringan, sebab kesehatan perusahaan merupakan penopang pelayanan yang berkelanjutan.

Semangat Sumpah Pemuda dapat diwujudkan melalui kerja sama antara manajemen, pegawai, pemerintah daerah, instansi pembangunan infrastruktur, dan masyarakat. Menjaga sumber air, melindungi jaringan pipa, serta menggunakan air secara bijak merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.

Ke depan, capaian perusahaan perlu dinilai bukan hanya dari jumlah pelanggan baru, melainkan juga dari keandalan aliran air, kecepatan penanganan kebocoran, penyelesaian pengaduan, pemerataan pelayanan, dan kepuasan pelanggan. Ukuran-ukuran tersebut dapat menjadi dasar evaluasi yang lebih dekat dengan kebutuhan warga.

Bagi jajaran Way Rilau, tantangan ini merupakan panggilan untuk terus berbenah. Setiap pipa yang diperbaiki, setiap gangguan yang diselesaikan, dan setiap sambungan baru yang berfungsi baik merupakan bagian dari pengabdian kepada kota.

Pada akhirnya, semangat Sumpah Pemuda tidak hanya hidup dalam kata-kata, tetapi dalam manfaat yang dirasakan masyarakat. Perjuangan Way Rilau akan semakin bermakna ketika penambahan pelanggan berjalan seiring dengan peningkatan mutu pelayanan, sehingga semakin banyak warga Bandarlampung dapat menikmati air bersih yang layak, andal, dan berkelanjutan. Aamiin. (ADV)