Helo Indonesia

Di Era Disrupsi, Tak Ada Teori Baku Bagaimana Mengeloa Media agar Punya Revenue Tinggi

Kamis, 29 Februari 2024 09:26
    Bagikan  
Di Era Disrupsi, Tak Ada Teori Baku Bagaimana Mengeloa Media agar Punya Revenue Tinggi

Ketua AMSI Jateng Nurkholis saat menjadi pembicara dalam FGD di Balai Kota

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Era disrupsi membawa perubahan yang sangat besar dunia media. Era ini menuntut terjadinya inovasi pada media agar mampu eksis, sustainable, berumur panjang, serta membuat sejahtera terhadap kru di dalamnya.

Saat ini, tak ada teori baku bagaimana mengelola media agar punya revenue atau pendapatan tinggi. Bahkan, dunia kampus teori ini sulit dipelajari secara pasti karena perubahan drastis itu.

Pernyataan kritis tersebut disampaikan Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jateng Nurkholis saat menjadi nara sumber dalam Focus Group Discussion (FGD) 'Membangun Profesionalisme Media di Era Disrupsi' di Balai Kota Semarang, Rabu 28 Februari 2023.

Baca juga: Helo Indonesia Lampung, Koplah HBM yang Jauh dan Dekat

Selain Nurkholis, FGD yang dipandu Rahman Pratama itu menghadirkan Ahli Pers Dewan Pers Jayanto Arus Adi dan Sekretaris PWI Jateng Setiawan Hendra Kelana.

''Saat ini dengan disrupsi yang terjadi, pengelola media tidak bisa hanya menggantungkan pendapatannya dari iklan, kerja sama dengan pemkot atau provinsi misalnya, tapi demikian harus punya kreativitas dalam menggali sumber-sumber pendapatan. Kreativitas itu diperlukan, karena sudah tak teori baku bagaimana mengelola media agar bisa memiliki revenue tinggi,'' kata Pemred Beritajateng.net itu.

Dia menyebut, salah satu disrupsi itu adalah munculnya platform digital, seperti Google, Meta, Facebook dan Twitter. Nah, media terustama media siber dituntatr dituntut menggunakan prinsip-prinsip Search Engine Optimization (SEO) untuk mengejar trafik yang tinggi. Dengan trafik tinggi, kita mendapatkan AdSense.

Baca juga: Bulu Tangkis Piala Rektor USM Diwarnai Kejutan, Dua Pemain Unggulan Kandas di 16 Besar

''Pengelola media juga saat ini dipusingkan dengan adanya media sosial yang jumlahnya banyak. Ada kecenderungan, iklan dari brand, pemerintah, lembaga pemerintah, kementerian yang mengalirnya bukan ke media, tapi ke influencer. Kita tak pungkiri, karena influencer itu trafiknya tinggi, pembacanya banyak,'' katanya,

Pada kesempatan itu, Nurkholis yang mengangkat tema ''Membangun penerbitan yang profesional'' mengatakan, dari 300 lebih media di Jateng saat ini hanya ada 12 media yang baru terverifikasi Dewan Pers.

"Ini sebuah data riil yang ada di Jawa Tengah. Keprihatinan kami, bahwa media siber yang ada di Jawa Tengah dari 300 lebih itu, yang terverifikasi baru 12 media," sebutnya.

Tak hanya mendorong media agar mengajukan verifikasi Dewan Pers, Nurkholis juga menyoroti soal regulasi yang mengatur soal konten pemberitaan, Publisher Rights.

Baca juga: Harga Beras Masih Naik, Masyarakat Kota Semarang Diminta Konsumsi Beras SPHP

"Terkait dengan munculnya publisher right yang ditandatangani Presiden lewat Perpres 32 tahun 2024 saat Hari Pers Nasional (HPN), diharapkan itu menjadi titik tonggak untuk kebangkitan media lokal. Karena di situ menjamin kepentingan media lokal ketika berhadapan dengan platform," bebernya.

Tantangan

Di bagian lain, Ahli pers Dewan Pers Jayanto Arus Adi mengatakan, bahwa saat ini media menghadapi tantangan besar karena dihajar medsos. Dia agar media bisa memperkuat diri pada dua hal yaitu, SDM dan manajemen lembaganya.

''Medsos ini kelaminnya tidak jelas, tapi bisa melakukan apa saja. Dan Dewan Pers tidak bisa menertibkan kehadiran influencer, youtuber, atau bahkan content creator. Misalnya, harus mengikuti uji kompetensi, karena secara bisnis nggak perlu,'' katanya.

Sedangan Setiawan Hendra Kelana dari PWI Jateng, mengatakan media menghadapi tantangan dengan munculnya kreator konten dan Chat GPT (Generative Pre-training Transformer) buatan Artificial Intellegence (AI).

Baca juga: Menu Sarapan Pagi Sehat dan Berenergi, Cocok Untuk yang Aktif Sepanjang Hari

''Wartawan itu datang ke lapangan, kita berusaha profesional dengan melakukan konfirmasi kemana-mana. Kemudian muncul content creator yang tidak pernah ke lapangan, ada di dalam rumah, buka laptot tapi bisa ngutip statement kapolda atau bahkan presiden. Belum selesai masalah ini, kita dihadapkan pada yang lebih cepat dari content creator yaitu Chat GPT,'' tandasnya.

FGD dibuka oleh Kabag Komunikasi Pimpinan dan Protokol Kota Semarang, Kartika Hediaji mewakili Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu. Dalam sambutannya Hediaji mengucapkan mengucapkan terima kasih kepada teman-teman pers dan media Kota Semarang yang telah menjadi mitra bagi pemerintah.

Menurutnya, melalui FGD ini, kata dia, harapannya bisa menjadi wadah berdiskusi, bertukar ide, dan merumuskan langkah-langkah konkret untuk menghadapi perkembangan di era disrupsi. (Aji)