LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Jaring Kelola Ekosistem Lampung (JKEL) mengirim surat kepada Presiden Prabowo atas ketidakberesan para pengelola kawasan konservasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) sehingga laju kepunahan harimau sumatera (Phantera tigris) cendrung semakin cepat.
"Kerusakan habitat, perburuan, serta konflik hewan liar jadi faktor yang mempercepat laju kepunahan hewan-hewan buas tersebut," kata Koordinator JKEL Ir. Almuhery Ali Paksi yang menandatangani surat JKEL ke Prabowo serta tembusan ke DPR RI, Menhut, UNEP, dll.
UNEP (United Nations Environment Programme) merupakan Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa yang didirikan pada tahun 1972 setelah United Nations Conference on the Human Environment.
Indikasi kepunahan harimau sebagai satwa kunci (key species) selain gajah dan badak sumatera adalah indikator hilangnya kawasan konservasi dari Bumi Indonesia. "JKEL minta permasalahan ini jadi agenda 100 hari kerja Presiden Prabowo.
Di Lampung saja, sejak 8 Februari hingga 31 Mei 2024, telah terjadi serangkaian konflik antara harimau dengan manusia yang merangsek ke TNBBS di wilayah Resort Suoh. Kejadian ini berkelanjutan hingga 2 nyawa melayang dan satu korban sempat kritis.
Harimau yang kemudian menjadi "tersangka" utama terjadinya konflik sehingga diburu pakai sekian perangkap jebak di dalam kawasan TNBBS sejauh 1,3 km dari perbatasan dari green belt TNBBS. Dipastikan, harimau terakhir salah tangkap, kata Almuhery, Sabtu (28/12/2024).
Sudah ada dua harimau yang masuk box trap, dipastikannya, bukan harimau yang terindentifikasi menyerang warga. Apa boleh buat, harimau betina terpaksa pasrah tercerabut dari habitatnya dipindah ke Kebun Binatang Lembah Hijau di Sukadanahan, Kota Bandarlampung.
"Salah, harimau TNBBS yang jadi korban perangkap bukannya mendapatkan pertolongan (rehabilitasi) untuk dilepasliarkan malah dikerangkeng di Lembah Hijau," kata Ir. Almuhery Ali Paksi dari Yayasan Masyarakat Hayati Indonesia (YMHI), Jumat (20/12/2024).
Di Kebun Binatang Lembah Hijau, harimau yang diberi nama Putri Sentani akan bertemu dengan harimau yang sudah lima tahun berada di Lembah Hijau, yakni Batua.
JKEL terdiri dari:
1. Ir. Almuhery Ali Paksi/YMHI
2. Ir. Edy Karizal/LK 21
3. Veri Iwan Stiawan. S.Si/ALAS Indonesia
4. Julian Manaf. SE/MEPEL
5. Fajar Soemantri/Fanthera Raflesia
6. Fikri Azali. ST/YFMI. (HBM)
