Helo Indonesia

Lampung Sedang Diracun dari Waykanan hingga Pesawaran

3 jam 27 menit lalu
    Bagikan  
RACUN
HELO LAMPUNG

RACUN - Ilustrasi

Oleh Majid Lintang
Jurnalis Senior

NEGERI ini, sering kali kita terlalu sibuk menghitung nilai emas, tetapi lupa menghitung harga kehancuran yang ditinggalkannya. Lampung hari ini sedang memberi pelajaran pahit: ketika tambang emas ilegal dibiarkan tumbuh, yang dipanen bukan kemakmuran, melainkan racun bernama merkuri.

Di balik kilau logam mulia itu, ada air sungai yang berubah keruh, ikan-ikan mati mengapung, tanah kehilangan kesuburan, dan tubuh manusia yang perlahan menyimpan racun tanpa suara. Merkuri tidak membunuh dengan gaduh. Ia bekerja diam-diam, masuk lewat air, makanan, udara, lalu merusak saraf, ginjal, perkembangan anak, bahkan generasi yang belum lahir.

Baca juga: Waspada, Ini yang Akan Terjadi pada Tubuh Anda jika Terpapar Makanan dan Kosmetik Mengandung Merkuri

Yang mengerikan, ini bukan bencana alam. Ini bencana buatan manusia.

Di Pesawaran, warga menyaksikan sungai yang dulu menjadi sumber hidup berubah menjadi sumber kecemasan. Di Tanggamus, aparat sudah memberi peringatan bahwa kerusakan lingkungan bukan kemungkinan, melainkan kepastian.

Di Waykanan, skala kerusakan bahkan terasa seperti penghinaan terang-terangan terhadap hukum: puluhan ekskavator bekerja di ratusan hektare lahan, emas miliaran rupiah diangkut setiap hari, seolah negara hanya penonton bisu.

Lalu pertanyaannya sederhana: di mana pemerintah?

Jangan hanya datang saat kerusakan viral. Jangan hanya pasang garis polisi setelah alam hancur. Jangan hanya menangkap pekerja lapangan, sementara pemodal, penadah, cukong distribusi, dan pelindung di belakang layar tetap nyaman duduk di ruang ber-AC. Kalau penegakan hukum hanya menyasar buruh tambang kecil, maka negara sedang mempertontonkan sandiwara keadilan.

Baca juga: Drakor Satir Tambang Emas Ilegal Lampung, Ramai di Awal, Sayup Kemudian

Tambang ilegal sebesar itu mustahil berjalan tanpa pembiaran. Mustahil alat berat masuk tanpa ada yang tahu. Mustahil emas mengalir lintas daerah tanpa mata yang sengaja ditutup. Maka persoalannya bukan sekadar kriminalitas rakyat kecil, tetapi jaringan ekonomi gelap yang hidup karena lemahnya negara dan rakusnya manusia.

Pemerintah daerah tak bisa terus berlindung di balik alasan keterbatasan kewenangan. Jika sungai rusak, rakyat tidak akan bertanya pasal mana yang mengatur. Mereka akan bertanya siapa yang gagal melindungi mereka. Jika anak-anak sakit karena air tercemar, masyarakat tidak peduli urusan itu wewenang pusat atau daerah. Yang mereka tahu: negara absen.

Tetapi masyarakat pun jangan merasa tak bersalah.

Selama emas ilegal dibeli, selama hasil tambang haram dipuja sebagai jalan cepat kaya, selama kita menutup mata karena kebagian remah keuntungan, maka kita ikut menyuburkan kejahatan itu. Keserakahan tak selalu memakai jas mahal. Kadang ia hidup di kebiasaan diam dan permisif.

Inilah penyakit kita: ingin kaya cepat, tapi menolak konsekuensi panjang. Kita bangga melihat uang beredar, tetapi pura-pura tak melihat sungai mati. Kita senang ada ekonomi bergerak, tetapi tak peduli jika anak cucu nanti mewarisi tanah beracun.

Baca juga: Lampung Dihantui Pencemaran Merkuri dari Tambang Emas Ilegal

Lampung harus memilih sekarang: menjadi daerah yang menjaga masa depan, atau menjadi contoh bagaimana sebuah wilayah dijarah pelan-pelan oleh tambang liar.

Yang dibutuhkan bukan razia sesaat, melainkan perang total: tutup jalur distribusi emas ilegal, sita alat berat, jerat penadah, usut pemodal, audit aparat yang bermain mata, pulihkan sungai, dan buka lapangan kerja legal agar rakyat tak dipaksa memilih antara lapar atau merusak alam.

Sebab jika negara terus lamban, merkuri akan lebih cepat bekerja daripada pemerintah. Dan ketika nanti air tak layak diminum, sawah tak lagi subur, ikan menghilang, dan penyakit datang bergiliran, kita akan sadar satu hal: emas itu ternyata murah sekali—karena dibayar dengan masa depan. ***