KENDAL, HELOINDONESIA.COM - Aksi penyampaian aspirasi dari sejumlah warga Desa Jatirejo, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal di depan Pasar Magangan pada Kamis 26 Juni 2025, berbuntut menyulut emosi sejumlah sopir dump truck dan pekerja tambang di desa tersebut.
Bahkan berdasarkan pantauan di lapangan, dalam aksi unjuk rasa tersebut sempat terjadi kericuhan antara warga dengan pekerja tambang, dan sopir dump truck. Kekesalan sopir dan pekerja tambang ini terlihat saat juru bicara yang ditunjuk warga Desa Jatirejo, Erwin tengah menyampaikan aspirasi.
Baca juga: Terseret Penyalahgunaan Dana Desa Rp 530 Juta, Sekdes Kertosari Kendal Susul Kades Jadi Tersangka
Dimana seseorang yang berada di lokasi yang sama langsung merebut mikrofon yang dipegang Erwin, kemudian menyela dan meminta aksi tersebut dilakukan di Gedung DPRD Kendal.
Aksi unjuk rasa ini juga mendapat protes dari salah seorang sopir dump truk, Suroso yang menyatakan sangat terganggu dengan adanya demo sehingga terpaksa tidak bisa bekerja.
"Gara-gara demo itu, kami ratusan sopir dump truk tidak bisa bekerja dan ini sudah menyangkut urusan perut," katanya.
Geram
Suroso juga mengungkapkan, bahwa para sopir dump trcuk dan pekerja tambang ini sengaja mendatangi para pendemo lantaran geram karena sebelumnya mendapati pamflet yang beredar luas di media sosial bertuliskan "Aksi Damai Masyarakat Jatirejo, Tolak Aktivitas Dump Truk".
"Itu yang membuat kita resah. Karena ada tulisan seperti itu di medsos. Itu yang membuat kita juga ikut turun untuk menghadang mereka," ungkap Suroso.
Baca juga: Ketua DPRD Kendal Tindaklanjuti Tuntutan Warga Jatirejo Terkait Dampak Truk Muatan Galian C
Selain itu, menurut Suroso aksi penyampaian aspirasi tersebut seyogyanya tidak dilakukan di depan Pasar Magangan, tetapi bisa langsung dilakukan di Gedung DPRD Kendal.
"Kami bukan menghadang, tetapi kami meminta aspirasi itu langsung disampaikan ke dewan karena jalan itu kan jalan kabupaten, jadi bisa langsung menuntut ke pemerintah daerah bukan ke desa," tegasnya.
Suroso menyebut, selama ini sopir-sopir truk sudah mematuhi aturan yang berlaku, baik jam operasional sampai dengan untuk berjalan pelan di jalan-jalan desa.
"Salah kami itu apa? Kami sudah mematuhi aturan yang berlaku dari jam operasional sampai dengan harus pelan saat melintas jalan-jalan desa. Kami tidak terima dengan demo itu," ungkapnya.
Aksi orasi di depan Pasar Magangan ini juga dihadiri oleh anggota Komisi C DPRD Kendal, Qomaruddin Abbas yang juga merupakan salah satu warga Desa Rejosari yang juga terdampak jalan rusak akibat aktivitas truk galian C tersebut.
"Saya hadir disini tidak ada maksud jelek. Maksud saya bagaimana rakyat Jatirejo juga bisa makan karena mempunyai keluarga. Jadi sekali lagi aksi ini tidak ada penutupan koari. Ini hanya menuntut bagaimana jalan ini menjadi baik," ujar Qomaruddin Abbas.
Menghalangi
Ketegangan yang terjadi di depan Pasar Magangan ini dibenarkan oleh Ali Sodikin selaku koordinator lapangan. Menurutnya, ada oknum yang bermaksud menghalang-halangi warga untuk menyampaikan aspirasi mereka.
"Iya itu sempat ada kontraversi atau istilahnya kita dihalang-halangi untuk menyampaikan aspirasi. Bukan demo sebenarnya, kita akan menyampaikan aspirasi karena kita mempunyai pemerintahan yang lebih tinggi terutama DPRD Kendal," katanya saat dikonfirmasi wartawan usai audiensi di Gedung DPRD Kendal, Kamis 26 Juni 2025.
Terpisah, Rodhi selaku perwakilan Karang Taruna Desa Jatirejo menyampaikan bahwa sebenarnya tuntutan yang disampaikan pendemo tersebut sudah disampaikan dan disahkan Pemdes Jatirejo saat mediasi antara penambang dan warga. Bahkan pihak penambang juga sudah menyanggupi dan melaksanakan tuntutan tersebut.
"Sudah disanggupi oleh pengusaha tambang. Dan warga juga tidak keberatan adanya penambangan," pungkasnya. (Anik)
