LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM – Ikan hiu paus tutul (Rhincodon typus) belakangan ini semakin sering berkunjung ke perairan Teluk Lampung. Fenomena ini tidak hanya menjadi tontonan langka bagi masyarakat pesisir, tetapi juga menjadi tantangan bagi nelayan tradisional.
Di perairan Sukaraja, Kecamatan Bumiwaras, Kota Bandarlampung, misalnya, ikan berukuran raksasa yang berstatus dilindungi itu kerap tersangkut jaring payang.
Camat Bumiwaras Budi Ardianto membenarkan peristiwa terbaru terjadi pada Senin (15/9/2025). Seekor hiu paus tutul dengan panjang sekitar lima meter terperangkap jaring nelayan Sukaraja.
“Nelayan sudah paham, jadi mereka gotong royong melepas dan mengarahkan ikan itu kembali ke laut dalam,” kata Budi.
Fenomena kemunculan hiu paus tutul di Teluk Lampung sebenarnya bukan hal baru. Pada 2023 dan 2024, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung juga mencatat beberapa kali kejadian serupa.
Bahkan pada Agustus 2024, seekor hiu paus tutul sepanjang delapan meter sempat viral karena terekam berenang dekat kapal nelayan di kawasan Pidada, Panjang.
Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutkan, hiu paus tutul merupakan spesies laut yang berstatus dilindungi penuh berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18 Tahun 2013. Hewan yang bisa tumbuh hingga 18 meter ini tidak boleh ditangkap, dibunuh, atau diperdagangkan.
Teluk Lampung sendiri diduga menjadi jalur migrasi sekaligus area mencari makan hiu paus. Plankton dan ikan-ikan kecil yang berlimpah di kawasan pesisir menjadi daya tarik bagi satwa raksasa yang dikenal jinak tersebut.
Bagi masyarakat, kehadiran hiu paus tutul sering kali menjadi daya tarik wisata dadakan. Tak jarang, warga berbondong-bondong ke tepi pantai hanya untuk melihat langsung sang raksasa laut.
Namun, para ahli mengingatkan agar interaksi dengan hewan ini tetap mengedepankan prinsip konservasi, termasuk menjaga jarak aman dan tidak memberi makan.
“Kalau fenomena ini bisa dikelola dengan baik, Teluk Lampung berpotensi menjadi destinasi wisata bahari sekaligus pusat edukasi konservasi hiu paus tutul,” ujar seorang pemerhati lingkungan dari Universitas Lampung dalam diskusi kelautan awal tahun lalu. (Hajim)
-
