Helo Indonesia

75 Ribu Buku Tanah Terendam, Kantah Aceh Tamiang Berpacu Selamatkan Arsip

Jumat, 20 Februari 2026 19:27
    Bagikan  
75 Ribu Buku Tanah Terendam, Kantah Aceh Tamiang Berpacu Selamatkan Arsip

Sekitar 75 ribu buku tanah dan surat ukur dievakuasi dari lumpur banjir (Foto BPN)

ACEH, HELOINDONESIA.COM----Bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada 26–30 November 2025 meninggalkan dampak kerusakan yang luar biasa. Curah hujan tinggi yang turun tanpa henti menyebabkan hampir seluruh wilayah terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 4–5 meter. Tak hanya genangan, lumpur setinggi 1–2 meter ikut menutup pemukiman warga, fasilitas umum, hingga perkantoran pemerintahan.


Berdasarkan siaran pers dari ATR/BPN Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) Lampung. Salah satu instansi yang terdampak paling parah adalah Kantor Pertanahan (Kantah) Kabupaten Aceh Tamiang. Air bah melampaui platform bangunan dan merendam hampir seluruh ruangan, termasuk ruang arsip yang menyimpan dokumen-dokumen penting pertanahan.

Sebanyak 75.000 buku tanah dan surat ukur terdampak, belum termasuk warkah serta dokumen pendukung lainnya. Kondisi kian sulit karena aliran listrik padam total, membuat upaya penyelamatan tidak dapat segera dilakukan.

Kepala Kantah Kabupaten Aceh Tamiang, Evan Rahmaini, menegaskan bahwa arsip yang terendam bukan sekadar tumpukan dokumen.“Itu adalah bukti hak masyarakat. Kalau itu rusak atau hilang, yang terdampak adalah kepastian hukum warga,” ujarnya.

Enam hari pascabencana, saat akses mulai terbuka, Evan Rahmaini akhirnya dapat melihat langsung kondisi kantor. Lumpur setinggi lutut menutupi lantai, rak arsip roboh, dan bangunan di sekitar kantor rusak parah. Ruang pelayanan yang biasanya ramai kini berubah menjadi hamparan lumpur.

Selama dua minggu pertama, akses menuju kantor terputus total untuk kendaraan dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Hari pertama difokuskan untuk memetakan kondisi kerusakan. Hari kedua, barulah strategi penyelamatan disusun, menentukan dokumen prioritas, alur pemindahan, serta lokasi evakuasi arsip.

Melihat hampir seluruh wilayah Aceh Tamiang terdampak, tidak ada bangunan yang layak dijadikan tempat penyelamatan. Bersama Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) BPN Provinsi Aceh, Arinaldi, diputuskan arsip dievakuasi ke wilayah terdekat yang dampaknya tidak separah Aceh Tamiang, yakni Kabupaten Langkat, Kota Langsa, dan Kota Banda Aceh. Di lokasi-lokasi tersebut, proses restorasi arsip mulai dilakukan.

Upaya pemulihan turut mendapat dukungan dari Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN). Sekitar 30 Taruna- taruni diterjunkan melalui program Kuliah Kerja Nyata Pertanahan–Praktik Tata Laksana Pertanahan (KKNP-PTLP) untuk membantu proses restorasi arsip.

Arinaldi menyampaikan, hingga saat ini sekitar 10 persen arsip atau kurang lebih 1,9 meter linier telah berhasil dibersihkan. Selanjutnya, proses restorasi akan difokuskan di Kabupaten Langkat oleh para Taruna/i STPN yang tengah menjalankan program tersebut.

Di tengah keterbatasan fisik, akses yang terputus, serta kerusakan infrastruktur, Kantah Kabupaten Aceh Tamiang terus berupaya memulihkan arsip negara sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat. Pelayanan pertanahan pun perlahan mulai berjalan kembali meski sementara dipindahkan ke lokasi lain.

“Kami berkomitmen memastikan hak atas tanah masyarakat tetap aman dan terlindungi,” tegas Evan Rahmaini.

Bencana ini bukan hanya menguji ketahanan infrastruktur, tetapi juga komitmen aparatur dalam menjaga kepastian hukum warga. Di tengah lumpur dan puing-puing, upaya menyelamatkan arsip menjadi simbol perjuangan memulihkan harapan masyarakat Aceh Tamiang. (Rohman)