LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Dirjen KSDAE Pudyatmoko memberikan nama kepada dua anak harimau betina yang pertama kali lahir di ex-situ Lembaga Konservasi Taman Satwa Lembah Hijau Lampung di Jalan Radin Imba Kesuma Ratu, Tanjungkarang Barat, Kota Bandarlampung.
Gubenur Mirza setelah diskusi dengan istrinya, Batin Wulan Sari, menamakan sang anak hari sumatera Puspa sedangkan anak harimau lainnya oleh Dirjen KSDAE Pudyatmoko diberi nama Muli Sikop. Kedua anak harimau terlihat sehat dan lincah pada saat diberi nama pada Jumat pagi (22/6/2026).

Gubernur Mirza memberikan nama Puspa (Foto Jendral Photography)
Kedua anak harimau ini dari kedua induknya yang cacat kaki akibat terjerat pemburu liar di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) berjenis betina. Batin Wulan dan Muli Sikop lahir pada 14 Februari 2026 dari harimau Kyai Batua dan Sinta.
Gubernur Mirza mengatakan istrinya menamakan Puspa yang artinya bunga, simbol keindahan dan kecantikan. Sementara, Muli Sikop berasal dari bahasa Lampung yang berarti gadis cantik. Dia atas kelahiran kedua anak harimau sumatera (Phantera tigris sumatrae).

Dirjen KSDAE Pudyatmoko diberi nama Muli Sikop (Foto Jendral Photography)
Menurut Kepala Daerah, kelahiran Puspa dan Muli Sikop merupakan bukti keberhasilan Lembaga Konservasi Taman Satwa Lembah Hijau Lampung sehingga memberikan kesempatan hidup lebih panjang dari kedua harimau yang hanya mengandalkan tiga kaki hingga melahirkan anak mereka.
"Semua itu merupakan bukti ketulusan para perawat satwa dalam menjaga satwa langka," kata Gubernur Mirza. Dia mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini agar generasi muda memiliki rasa cinta terhadap alam dan satwa liar.

Pose bersama di depan gajah konservasi (Foto Jendral Photography)
Iyay Mirza, panggilan akrabnya, mengapresiasi perjuangan M. Erwan Nasution dalam pelestarian satwa langka endemik Pulau Sumatera. Pria berdarah Lampung dari ibu ini pemilik yang juga pengurus berbagai asosiasi pariwisata.
Diceritakan Erwan, Kyai Batua, induk jantan, diselamatkan pada 2019 setelah terkena jerat di TNBBS Kabupaten Lampung Barat. Akibat luka parah yang dialami, tim dokter harus mengamputasi kaki kanan depannya demi menyelamatkan nyawanya.
Sementara induk betina, Sinta, mengalami kejadian serupa setelah terkena jerat di Bengkulu pada akhir 2024. Luka berat membuat kaki kanan belakangnya harus diamputasi sebelum akhirnya dirawat di Lembah Hijau. (Mikhy)
