SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 112 Tahun 2026 Universitas Diponegoro (Undip) melakukan Sosialisasi dan Pelatihan tentang Pemanfaatan Limbah Sayuran dan Buah Sisa.
Tim mahasiswa ini mengubah limbah sayuran dan buah sisa itu menjadi Produk Eco Enzyme sebagai Upaya Pengelolaan Limbah Berbasis Ekonomi Sirkular di Rumah Saerotun Dusun Kaliduren, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, baru-baru ini.
Kegiatan yang melibatkan ibu-ibu Dusun Kaliduren itu diselenggarakan Tim KKN-T yang terdiri atas Selin, Udin, Ifa, Bila, Fia, Budhi, Olin, Jeriko, Novri, Arika.
Baca juga: Gubernur Luthfi Minta ASN Buang Birokrasi Rutinitas: Jangan Cuma Pulang Bawa Sertifikat!
Mereka didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Zaenul Muhlisin SSi MSiF Med, Evi Setiawati SSi MSI FMed, dan Oki Ade Putra SSi MSi.
Melalui Sosialisasi dan Demonstrasi Pembuatan Eco Enzyme itu, mahasiswa memperkenalkan alternatif pengelolaan limbah organik yang sederhana, aplikatif, dan dekat dengan keseharian masyarakat.
Udin mengatakan, Dusun Kaliduren, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang merupakan kawasan hortikultura yang menjadi tumpuan hidup sebagian besar masyarakatnya.
Hamparan tanaman pakcoi, selada, brokoli, tomat, cabai, hingga berbagai komoditas buah membentang mengikuti lekuk perbukitan, menjadikan perkebunan bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga identitas yang melekat pada kehidupan warga.
''Di balik melimpahnya hasil bumi tersebut, tersimpan tantangan yang perlahan perlu mendapat perhatian. Aktivitas budi daya dan pengolahan hasil panen menghasilkan limbah organik berupa sayuran yang tidak lolos sortasi, sisa panen, kulit buah, hingga limbah dapur rumah tangga,'' katanya.
Menurut Udin, sisa sayuran dan buah bukan sekadar residu rumah tangga, melainkan sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan melalui proses fermentasi menjadi eco enzyme.
Cairan alami tersebut memiliki beragam fungsi, mulai dari pembersih lantai, sabun cuci piring, deterjen cair, pupuk organik cair, hingga cairan pembersih serbaguna yang ramah lingkungan.
''Selama ini kita sering berpikir bahwa limbah selesai ketika dibuang. Padahal, melalui proses yang sederhana, limbah itu masih bisa kembali memberi manfaat bagi kehidupan sehari-hari,'' kata Udin.
Baca juga: Aksi Ketangkasan Paskibra Terbaik Se-Indonesia Unjuk Gigi di USM, Ini Para Juaranya!
Tidak berhenti pada penyampaian materi, mahasiswa kemudian mengajak ibu-ibu terlibat secara langsung dalam proses pembuatan eco enzyme. Mulai dari pemilihan bahan, penentuan komposisi, proses pencampuran, hingga teknik penyimpanan selama masa fermentasi dijelaskan secara bertahap agar masyarakat dapat menerapkannya secara mandiri di rumah.
Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Ibu-ibu tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga aktif berdiskusi mengenai pengalaman mereka dalam mengelola limbah perkebunan dan rumah tangga.
Antusiasme ibu-ibu terlihat ketika sesi demonstrasi berlangsung. Berbagai pertanyaan muncul, salah satunya dari peserta, Siti yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai proses fermentasi eco enzyme.
''Ini nanti ditunggu berapa lama sampai jadi dan bisa dipakai, Mbak? Terus katanya tadi pakai botol pelepas gas ini biar nggak meledak ya? Kalau nggak pakai botol pelepas gas ini, bisa atau nggak?'' tanya Siti.
Menurut Selin, proses fermentasi eco enzyme membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga siap digunakan.
Selama periode tersebut, katanya, mikroorganisme bekerja menguraikan bahan organik dan menghasilkan gas.
''Karena itulah wadah fermentasi memerlukan ruang untuk melepaskan tekanan, baik melalui botol pelepas gas maupun dengan membuka tutup wadah secara berkala apabila menggunakan wadah biasa,'' tuturnya.
Dia berharap, melalui kegiatan ini, Tim KKN-T 112 Tahun 2026 Universitas Diponegoro masyarakat Dusun Kaliduren dapat terus menerapkan pengelolaan limbah organik secara mandiri serta menjadikan eco enzyme sebagai salah satu alternatif solusi lingkungan yang mudah, murah, dan berkelanjutan.
Dukung SDGs
Program itu turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 11 yaitu Kota dan Permukiman Berkelanjutan, Tujuan 12 yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta Tujuan 13 yaitu Penanganan Perubahan Iklim melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam pengelolaan limbah organik.
''Pada akhirnya, perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah yang rumit. Terkadang, ia tumbuh dari hal-hal sederhana yang berada paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari sepotong kulit buah, sisa sayuran, dan kesediaan untuk memberi kesempatan kedua bagi sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai,'' tandas Selin.
Di penghujung kegiatan, Saerotun selaku tuan rumah, menyampaikan apresiasinya terhadap materi yang diberikan.
''Menarik ya, Mbak. Selama ini saya tahunya limbah organik sisa sayuran bisa diolah jadi pupuk saja. Ternyata bisa juga jadi eco enzyme untuk sabun cuci piring, pembersih lantai, bahkan deterjen cair untuk baju juga ya,'' ungkapnya.
Bagi masyarakat Kaliduren, eco enzyme mungkin bermula dari proses sederhana dengan mencampurkan sisa buah, sayuran, gula, dan air dalam sebuah wadah fermentasi. Namun lebih dari itu, kegiatan tersebut menghadirkan perubahan cara pandang bahwa limbah tidak selalu harus berakhir sebagai sesuatu yang dibuang. (Aji)
