TANGGAMUS LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM---- Semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan kembali ditunjukkan warga Dusun Batu Saeng, Pekon Sinar Jawa, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus. Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga secara swadaya menggalang dana untuk mendukung pengerasan jalan di wilayah mereka.
Penggalangan dana tersebut dilakukan secara sederhana dan manual. Warga turun langsung mengumpulkan sumbangan dari masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap akses jalan yang menjadi bagian penting dalam menunjang aktivitas sehari-hari.
Kepala Dusun (Kadus) Batu Saeng, M. Rofi’i, mengatakan kegiatan swadaya semacam itu bukan hal baru bagi masyarakat setempat. Tradisi gotong royong telah menjadi bagian dari kehidupan warga sejak dahulu.
“Kami sudah terbiasa menggalang dana secara swadaya. Ini bentuk kepedulian kami terhadap lingkungan. Kalau bukan kami yang bergerak, siapa lagi,” ujar M. Rofi’i, Kamis (13/8/2026) sekitar pukul 05.15 WIB.
Menurutnya, keterbatasan kondisi jalan tidak menyurutkan semangat warga untuk berbuat. Justru, kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
Kepala Pekon Sinar Jawa, Hadi Hariyanto, mengapresiasi inisiatif warga yang secara mandiri ikut memikirkan kebutuhan pembangunan di lingkungannya.
Ia menilai semangat gotong royong seperti yang ditunjukkan masyarakat Batu Saeng merupakan modal sosial yang sangat penting dalam membangun pekon.
“Pemerintah pekon sangat mengapresiasi apa yang dilakukan warga. Mereka tidak hanya menunggu bantuan, tetapi berinisiatif bergerak bersama untuk kepentingan lingkungan,” kata Hadi.
Menurut Hadi, pembangunan tidak semata-mata bergantung pada pemerintah. Partisipasi masyarakat menjadi kekuatan penting, terutama dalam menjaga dan meningkatkan fasilitas yang digunakan bersama.
“Harapan kami, semangat seperti ini terus dipertahankan. Pemerintah pekon akan berupaya mendukung dan menjembatani kebutuhan masyarakat sesuai kemampuan dan kewenangan yang ada,” ujarnya.
Ia juga berharap semangat swadaya tersebut tidak hanya menjadi kegiatan sesaat menjelang HUT Kemerdekaan, tetapi terus tumbuh menjadi budaya positif masyarakat.
“Yang paling penting bukan besar kecilnya sumbangan, tetapi kebersamaan dan kepedulian. Dari hal-hal sederhana seperti inilah pembangunan bisa dimulai,” kata Hadi.
Apresiasi terhadap gerakan warga tersebut juga disampaikan Ketua Lembaga Pemantau Aset dan Keuangan Negara Republik Indonesia Profesional Jaringan Mitra Negara (LPAKN RI PROJAMIN) DPD Provinsi Lampung, Hermawansyah.
Menurut Hermawansyah, langkah warga Batu Saeng merupakan contoh nyata bahwa pembangunan berbasis partisipasi masyarakat masih sangat kuat di tingkat akar rumput.
“Kami mengapresiasi kerja Kepala Pekon Sinar Jawa dan warga Batu Saeng yang menunjukkan kepedulian nyata terhadap lingkungan. Ini adalah bentuk gotong royong yang patut diapresiasi,” ujar Hermawansyah.
Ia menilai kegiatan tersebut memiliki nilai lebih karena dilakukan menjelang momentum HUT Kemerdekaan RI. Semangat kemerdekaan, kata dia, tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui kepedulian dan kerja bersama untuk memperbaiki kondisi lingkungan.
“Semangat kemerdekaan bukan hanya soal upacara dan perayaan. Ketika masyarakat mau bergotong royong, mengeluarkan tenaga dan menyisihkan rezekinya untuk kepentingan bersama, di situlah nilai kemerdekaan benar-benar terasa,” katanya.
Hermawansyah berharap gerakan serupa dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat di wilayah lain. “Semoga apa yang dilakukan warga Batu Saeng bisa menjadi contoh bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbuat. Dengan kebersamaan, persoalan yang ada di lingkungan bisa dihadapi secara bertahap,” ujarnya.
Semangat warga Batu Saeng menjadi gambaran bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Terkadang, perubahan justru lahir dari langkah sederhana: warga berkumpul, bergotong royong, dan memilih untuk berbuat bagi lingkungan mereka sendiri.
Di tengah momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, semangat tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan juga berarti kemampuan masyarakat untuk berdiri bersama, peduli terhadap sesama, dan membangun dari lingkungannya sendiri. (Adi)
