Penulis Anshori Djausal
Engineer dan Budayawan Lampung
SELAGI pemerintah berjuang membebaskan Kota Bandarlampung dari banjir—pekerjaan besar yang membutuhkan waktu bertahun-tahun—warga sebenarnya bisa ikut bergerak lebih cepat. Caranya sederhana: bersama-sama menjadikan lingkungan sebagai spons raksasa yang mampu menahan, menyerap, dan memperlambat limpahan air hujan.
Kita tak bisa sepenuhnya menggantungkan harapan kepada pemerintah. Penanganan banjir membutuhkan anggaran besar, perencanaan panjang, dan proses yang tidak sebentar. Master plan dari Kementerian PU dengan biaya Rp5 miliar baru akan selesai akhir tahun ini.
Setelah itu masih ada tahap pembangunan, termasuk rencana enam-12 embung yang tentu memakan waktu lebih lama lagi. Artinya, sebelum semua proyek besar itu selesai, Bandarlampung masih akan akrab dengan genangan.
Wali Kota Eva Dwiana pun selama dua periode tampak harus berlari ke sana kemari menghadapi banjir yang datang seperti tamu tak diundang—membawa lumpur, kerusakan, dan duka bagi warga. Karena itu, kota ini perlu mulai memikirkan konsep Sponge City—kota yang bekerja layaknya spons.
Kota yang mampu menyerap air hujan, memperlambat alirannya, lalu mengembalikannya perlahan ke tanah, bukan membiarkannya liar menyerbu rumah dan jalan raya sebelum akhirnya berebut masuk ke sungai.
Konsep ini sebenarnya tidak rumit. Dengan teori bioswale yang dipadukan semangat gotong royong khas Indonesia, setiap RT bisa menjadi bagian dari solusi. Jika diterapkan secara masif, air hujan tidak lagi langsung berubah menjadi banjir, melainkan diserap perlahan oleh lingkungan.
Apa Itu Bioswale?
Bioswale adalah saluran resapan bervegetasi yang dirancang untuk menyerap, menyaring, dan memperlambat aliran air hujan. Sederhananya, ini adalah “parit hijau” yang bekerja seperti spons alami.Berikut cara kerjanya:
1. Mitigasi Banjir dari Tingkat RT
Memperlambat Aliran Air Bentuk bioswale dibuat landai dan dipenuhi tanaman. Air hujan tidak langsung mengalir deras menuju drainase yang sering kali mampet atau tak mampu menampung curah hujan tinggi. Ketika aliran diperlambat, beban saluran kota saat hujan deras otomatis berkurang.
1.1. Menyerap Air ke Dalam Tanah
Di bawah bioswale terdapat lapisan pasir, kerikil, dan kompos. Lapisan ini membuat air meresap perlahan menjadi cadangan air tanah, bukan berubah menjadi genangan di permukaan.
1.2. Menyaring Polutan
Akar tanaman dan lapisan tanah mampu menangkap sedimen, minyak, hingga logam berat dari jalanan sebelum air mengalir ke sungai seperti Way Kuala atau Way Sekampung.
2. Komponen Penting Bioswale
2.1. Vegetasi
Menggunakan tanaman lokal yang tahan banjir sekaligus tahan panas, seperti rumput vetiver, pandan, bambu air, atau eceng gondok di area cekungan.
2.2. Lapisan Media
Terdiri dari mulsa, tanah tanam, pasir, dan kerikil. Lapisan inilah yang membuat proses filtrasi berjalan alami. Kemiringan Landai Idealnya memiliki kemiringan 1–4 persen agar air mengalir pelan, bukan meluncur deras.
3. Penerapan di Bandarlampung
Bandarlampung kerap dilanda banjir, terutama di kawasan rendah seperti Telukbetung, Kemiling, hingga Sukarame. Penyebab utamanya hampir sama: drainase tak mampu menampung limpahan air hujan.
Konsep bioswale bisa diterapkan di berbagai titik, seperti: Bahu jalan di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta atau Jalan Teuku Umar Area parkir untuk menyerap limpasan dari permukaan aspal yang kedap air Kawasan permukiman baru sebagai alternatif saluran beton yang kaku dan panas
4. Kelebihan Dibanding Saluran Beton
Lebih Murah Dirawat Tanaman lokal tidak membutuhkan biaya besar untuk perawatan. Mendinginkan Kota Ruang hijau membantu mengurangi efek urban heat island yang membuat kota semakin panas. Lebih Estetis Tak sekadar saluran air, bioswale juga bisa menjadi ruang hijau kecil yang mempercantik lingkungan.
Meski demikian, bioswale tetap membutuhkan ruang, sekitar 5–15 persen dari area tangkapan airnya. Karena itu, penerapannya harus disesuaikan dengan kondisi wilayah dan rutin dibersihkan dari sampah agar tetap berfungsi optimal. Pada akhirnya, banjir bukan hanya urusan pemerintah.
Kota ini terlalu luas jika hanya diselamatkan oleh alat berat dan proyek miliaran rupiah. Kadang, solusi besar justru lahir dari gerakan kecil yang dilakukan bersama-sama.
Mungkin Bandarlampung belum bisa sepenuhnya bebas banjir dalam waktu dekat. Namun, jika setiap RT mulai menjadi spons bagi lingkungannya sendiri, setidaknya kita sedang memperlambat datangnya bencana—dan mempercepat lahirnya harapan. Semoga bermanfaat, tabik pun ***