HELOINDONESIA.COM - Pengajar dan Peneliti pada Departemen Ilmu Politik Fisip Unhas Andi Ali Armunanto menilai memanasnya hubungan dengan Presiden Joko Widodo akan merugikan PDIP menjelang pelaksanaan Pemilu 2024.
Menurut dia, tan pa Jokowi effect, PDIP akan kewalahan di Pilpres. Pasalnya menurut Ali, kandidat yang saat ini mendapatkan Jokowi effect justru terlihat ketika Prabowo pindah ke Jokowi. Endorse atau dukungan yang diberikan Jokowi ke Prabowo itu sangat berefek.
Dampaknya, dia melanjutkan, popularitas dan elektabilitas Prabowo terkerek naik. Sebaliknya, calon presiden atau capres PDIP, Ganjar tetap stagnan tanpa dukungan Jokowi, walaupun sudah menggandeng Mahfud MD.
Jadi memang salah satu cara yang paling jitu adalah menjadikan Jokowi sebagai antitesis dari PDIP, kemudian mengundang simpati publik sebagai romantisme yang pernah dulu dialami PDIP di masa orde baru.
Baca juga: Agar Banjir Simpati, PDIP Sengaja Buat Drama Dikhianati Jokowi
"Jadi saya rasa, pidato Ganjar juga menunjukkan hal yang sama. Juga disampaikan Aiman yang konferensi pers terkait kecurangan-kecurangan. Kemudian drama-drama yang ditunjukan oleh Hasto," kata Andi Ali dalam keterangannya dikutip Jumat.
Sebelumnya,Jokowi pernah mengungkap bahwa akhir-akhir ini terlalu banyak drama sinetron mewarnai Pilpres 2024. Hal itu diungkapkan saat menghadiri acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-59 Partai Golkar di Slipi, Jakarta Barat.
"Saya melihat akhir-akhir ini terlalu banyak dramanya, terlalu banyak drakornya, terlalu banyak sinetronnya," ujar Joko Widodo.
Padahal, menurut Jokowi, pertarungan Pilpres 2024 harus diisi dengan gagasan dan ide. "Kalau yang terjadi pertarungan perasaan, repot semua kita," kata dia
