Helo Indonesia

Cerita Seram Gadis Dibakar Hidup-Hidup, Simak!

M Ridwan - Ragam
Rabu, 6 Maret 2024 15:24
    Bagikan  
Cerita Dongeng,
Foto: ilustrasi/pixabay

Cerita Dongeng, - Cerita Dongeng yang Menyeramkan Gadis Dibakar Hidup-Hidup.

HELOINDONESIA.COM - Cerita yang menyeramkan ini diposting oleh aku media sosial facebok Ratna Dewi Lestari dan dilihat pada hari Rabu 6 Maret 2024.

Begini Ceritanya Simak!

Bab 1

Sulastri yang akrab disapa Lastri itu tak menyangka jika kedatangannya ke kota berniat ingin menaikkan derajat orang tuanya yang tinggal di desa harus berakhir saat ia ingin melamar pekerjaan di sebuah pabrik.

Tak ada firasat apapun kecuali keinginan yang kuat demi membahagiakan kedua orang tuanya yang sudah renta.

Dia ke kota bersama dengan temannya. Husna, gadis seusianya itu sudah lebih dulu bekerja di pabrik yang hendak ia datangi hari itu. Namun, ia akan datang melamar pekerjaan sebagai buruh pabrik sendirian karena jarak kosan sangat dekat dengan pabrik.

Gadis yang berusia 19 tahun itu mengenakan kemeja putih serta celana hitam panjang. Tak lupa jilbab segi empat yang selalu menutupi kepalanya. Ia menghela napas panjang penuh keyakinan dengan map di tangan.

"Bismillah. Semoga diterima!" gumamnya sambil melangkah ke luar.

Di sepanjang jalan yang ia lewati, Lastri menjadi pusat perhatian para lelaki yang sedang nongkrong di pos keamanan.

Wajahnya yang manis dengan hidung mancung itu membuat pria yang sedang mabuk-mabukan bersiul menggodanya. Risih tentu saja. Lastri mencoba mengabaikan. Ia menunduk sambil mendekap map.

Baca juga: AKP James Herizanto Pimpin 49 Personil Polres Tangsel untuk Pengamanan Hari Ketiga Rapat Pleno KPU Tangsel

Ia melewati jalanan setapak persis di belakang pabrik. Jalanan tersebut jarang dilalui orang-orang karena banyak lub4ng. Apalagi semalam habis diguyur hujan deras. Agak becek. Warga sangat menghindari jalan tersebut. Tapi bagi Husna ia terbiasa melalui jalanan tersebut karena lebih dekat dengan kosnya. Lastri hanya mengikuti saran Husna saja yang lebih dulu berangkat kerja dengan temannya yang lain. Sementara Lastri belum terlalu mengenal daerah tersebut.

Di area sekitar terdapat lapangan yang cukup luas. Tapi rumah warga agak jauh. Hanya ada satu gudang yang terdapat banyak bekas ban mobil.

"Cuiitt .. cuiitt ... hai, adek. Boleh dong kenalan," seru salah seorang pemuda yang bertel4nj4ng dada dengan tato wanita s3ksi di bagian lengan kanannya.

Lastri mulai gelisah. Ia tak menggubris dan melanjutkan perjalanannya. Pemuda yang lain yang sudah menengg4k banyak minuman ker4s itu sempoyongan mencoba mengejarnya.

Pemuda lain berjumlah 4 orang ikut-ikutan seolah meng3pung. Sontak Lastri semakin dibuat kaget sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling berharap ada orang yang lewat jadi dia bisa meminta tolong ditakutkan ke 5 pemuda itu berbuat sesuatu padanya.

Cuaca pagi itu agak mendung. Langit juga sebagian terlihat hitam. Memang lagi musim hujan. Bisa jadi akan turun hujan lagi.

"Mau ke mana, Dek?"

"Mau kami anterin gak?"

"Jangan malu-malu!"

"Kenalan dulu, yuk! Biar kita akrab."

Semua mencoba merayu Lastri yang sudah ketakutan. Hanya satu orang yang memilih diam. Yaitu, Handoko. Pria itu hanya senyum saat temannya ada yang mencoba menyentuh Lastri.

"Maaf, Bang. Saya harus ke pabrik!" ujar Lastri dengan bibir gemetar.

"Aduh ... ngapain? Kita senang-senang dulu aja gimana? Benar gak, Bro?" Pria bertato tadi meminta dukungan dari teman-temannya.

"Iya, benar juga."

Baca juga: Sukses HPN 2024, PWI Karawang Gelar Seminar: AI Dalam Jurnalistik: Peluang Atau Ancaman

"Maaf, saya harus pergi!" Lastri mencoba melangkah. Tapi ia dihadang oleh pemuda bertato yang keliatannya memang punya peran besar di antara teman-temannya yang lain.

"Ikut kita aja yok!" ajak pria tersebut sambil mencengkram tangan gadis polos itu.

Lastri mulai panik. Mulutnya terbuka hendak berteriak. Tapi tangan salah satu pemuda langsung membek4pnya.

Handoko yang sedari tadi diam memberi kode agar gadis itu dibawa ke gudang. Semua mencoba mengawasi sekitar takut ada yang lewat dan melihat aksi mereka.

Setelah merasa aman, Lastri segera dibawa p4ksa oleh tiga orang ke sebuah gudang. Sementara yang lain mengamankan area sekitar.

Salah satu yang bertugas menjaga di depan gudang itu melihat salah seorang lewat membawa arit hendak membabat rumput untuk pakan ternak.

"Ngapain kalian disitu?" tegur orang tersebut.

"Kami hanya beristirahat saja, Pak!" Jawab pemuda yang hanya mengenakan celana jeans s*bek dengan jaket yang ia selempangkan ke bagian pundaknya.

"Jangan bikin kegaduhan lagi kalian!"

"Beres, Pak!" sahut satunya lagi.

Pria tua itu melanjutkan perjalanan. Kedua orang itu bernapas lega. Sementara yang di dalam tengah mencari akal bagaimana membungkam mulut Lastri yang tengah berusaha berteriak.

Terpikir oleh salah satu pemuda untuk menyump4l mulut Lastri dengan jilbab yang ia pakai. Pemuda itu melirik temannya yang sudah mulai berh4srat agar membuka paksa jilbab gadis tersebut.

Baca juga: Kemenparekraf-Niantic Perkuat Kolaborasi Promosikan Parekraf Indonesia

"Jangan! Aku mohon!" ucap Lastri mengiba dengan sudut mata yang mengucurkan bulir bening.

"Ini tidak sakit, sayang. Kita bersenang-senang dulu. Kami akan mengantarmu ke surga dunia yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya." Yang lain makin kesetanan memandangi gadis cantik yang dipegangi tangan dan kakinya itu.

Jilbab telah terlepas. Mahkota yang selalu ia tutup itu kini harus dilihat pria yang bukan mahramnya. Rambut Lastri tergerai panjang. Ia berusaha meronta sekeras mungkin. Tapi tenaganya kala dengan tenaga 3 pria yang akan melepaskan kesuciannya itu.

Dalam hati Lastri terus memohon pertolongan pada yang MahaKuasa. Tetapi suara di luar yang mulai diguyur hujan perlahan membuat n*sfu ketiganya semakin menjadi. Mereka merob3k paks4 kemeja Lastri hingga menampakkan dad4nya yang putih mulus.

Pria bertato tersebut memaksakan kehendaknya pada Lastri. Ia bertugas membuka bagian bawah hingga aksi bi*dapnya itu ia lakukan di depan teman-temannya yang tertawa riang menunggu giliran.

Lastri masih bisa melawan, tetapi perlawanannya mendapat balasan jika dia menolak hingga wajahnya yang cantik itu babak belur.

Tangis dan lirihnya tak diabaikan. Hidupnya berakhir. Semua telah terenggut dalam sekejap. Di tengah keputus asaannya ia membenci dirinya sendiri.

Sakit di bagian kem*luannya tak melebihi sakit hatinya saat ia berdoa mengharap pertolongan.

Dengan tubuh polos ia beringsut mundur. Tangannya menyilang di bagian dada. Ia mencoba meraih satu-satu persatu pakaiannya. Belum sempat ia mengenakan. Salah seorang pemuda menyuruh temannya yang di luar menggilir Lastri bergantian. Gadis itu mencoba menjauh semampunya. Tapi pria yang bernama Handoko yang baru masuk menj4mbak rambutnya dengan sekuat tenaga. Ia memaksa Lastri melayani nafsu setannya sampai gadis itu terkulai lemas karena Handoko menyiksanya kala Lastri menolak apa yang dipaksakan atas dirinya.

Baca juga: Kapolres Bersama Wakapolres Tangsel Hadiri HUT ke-44 TK Yayasan Kemala Bhayangkari

Melihat Lastri yang mendadak pingsan, semua saling pandang. Tinggal satu orang lagi yang belum menuntaskan h4sratnya. Ia menepuk-nepuk wajah Lastri agar gadis itu sadar. Namun, sayang, Lastri tak berdaya karena tekanan yang dilakukan pemuda jahan*m itu.

"Sudahlah, biarkan saja! Lakukan cepat sebelum ada orang yang mencurigai kita!"

Ia manut dan memperk*sa Lastri. Setelah semua menyelesaikan aksi mereka. Handoko berpikir untuk meleny4pkan gadis tersebut agar tidak ada yang mencurigai kejahatan mereka.

"Mau diapakan dia?" tanya yang lain saat Handoko berpikir keras.

"Biarkan saja!" sahut satunya.

"Dasar bod*h! Kamu mau kita dilenyapkan oleh bapaknya Handoko, ha?!" hardik pria bertato tersebut geram dengan kecerobohan temannya.

"Bagaimana kalau kita habisi saja jangan sampai meninggalkan jejak," usul yang lain.

"Aku sedari tadi berpikir seperti itu. Tapi bagaimana caranya?" Sahut Handoko.

"B4kar saja dengan bekas ban mobil itu di belakang gudang, hujan di luar juga sudah mulai mereda bukan?"

"Ide bagus." Handoko menyunggingkan sudut bibirnya.

Pria bertato itu tak sengaja mengalihkan pandangannya pada Lastri yang telah siuman. Karena takut Lastri kabur, ia bergerak cepat memberi gadis itu bog3m mentah sampai sudut bibir Lastri mengucurkan darah segar.

Gadis itu berusaha berdiri meski keyakinannya untuk hidup telah tiada. Ia ingin keluar dari sana dan melaporkan semua pemuda itu untuk dihakimi pada semua warga.

Bugh! Kakinya tiba-tiba mendapat pukulan keras dari sebuah linggis hingga menyebabkan Lastri jatuh tersungkur. Pakaian yang bercecer belum sempat ia kenakan diambil satu persatu oleh mereka sambil meledek Lastri yang mengesot menjauhi ke 5 pemuda tersebut.

"Tumpukkan ban itu di belakang sana, lalu bakar!" titah Handoko pada temannya.

"Kalian sangat bi*dab! Ingatlah suatu hari perbuatan kalian akan dibalas oleh Tuhan!" teriak Lastri sekencang mungkin dengan suara parau.

PLAK!

Satu tamparan berhasil di daratkan oleh Handoko tepat di wajah Lastri sampai berpaling.

"Diam!" hardik Handoko yang sudah kalap.

"Sumpal mulutnya dan ikat kedua kaki dan tangannya itu!" titah Handoko lagi.

Semua temannya seolah sangat patuh pada Handoko. Entah siapa dia sebenarnya hingga apapun yang diperintahkan olehnya, tak ada diantara temannya yang berani membantah.

"Uuummhh ..." Lastri berteriak sekencang mungkin saat mulutnya disump4l dengan kemejanya.

Ia histeris saat dua orang bertugas membopong tubuhnya membawa ke bagian belakang gudang yang dikelilingi pagar beton setinggi meter dengan kawat di atasnya.

Mata Lastri membulat kala melihat beberapa ban bekas mengobarkan api dengan asapnya yang hitam. Di benaknya hanya terpikir kematian. Ia memang lebih baik mati daripada menanggung hina seumur hidup.

"Maafkan Lastri, Bu, Pak!" batin gadis itu menangis pilu.

Baca juga: 5 Tanaman yang Ampuh Mengsusir Nyamuk

Gerimis yang mulai mereda seakan mendukung kejahatan ke 5 pemuda itu. Mereka menyentuh bagian sensitif dari Lastri sebelum tubuh gadis polos itu dilempar ke dalam kobaran api.

"Ayok cepat!" seru pemuda bertato tadi.

"Akan kubalas kalian semua ...!!" teriak Lastri dengan air hangat yang terus menyeruak di pelupuk matanya.

Bugh!

Dia dilempar ke dalam kobaran api itu. Panas dan kesakitan membuat sepasang bola mata Lastri menatap penuh dendam ke arah pemuda yang tersenyum puas karena berpikir jejak mereka akan terhapus. Tak lupa seluruh barang milik Lastri dib4kar bersama kulit Lastri yang mulai melepuh dan kepergian gadis itu menyisakan dendam. Bahkan saat api memb4kar tubuhnya, seolah tubuh itu tak bergeming. Masih di posisi semula seakan mengarah pada pria yang mengoy4k mahkota dan harga dirinya.

Penderitaannya berakhir, impiannya untuk membanggakan kedua orang tua di kampung hanyalah mimpi belaka. Sumpah dan dendamnya akan membuat ia bangkit kembali.

**

Bersambung ...

Yus_yusni