Helo Indonesia

Bali Bukan Sekadar Gemerlap Kehidupan Tempat Hiburan Malam, Tapi Ada Desa Wisatanya

Jumat, 28 Februari 2025 21:25
    Bagikan  
Bali
Foto: tangkapan layar

Bali - Kalau ditanya mengenai kebugaran atau wellness apalagi menyebut kata Bali, maka yang dipikiran adalah yoga, spa dan ada paket-paket wisata wellness.

HELOINDONESIA.COM -Kalau ditanya mengenai kebugaran atau wellness apalagi menyebut kata Bali, maka yang dipikiran adalah yoga, spa dan ada paket-paket wisata wellness.

Tapi sebenarnya kita lupa bahwa wellness itu adalah kebugaran. Awal dari kebugaran itu adalah pikiran. Dan pikiran bisa didapatkan dari ketenangan hati dan jiwa.

"Sebenarnya di mana sih kita bisa dapatkan seperti itu?" ucap Leonita Artha Bayu, Praktisi Desa Wisata seperti dikutip dari webinar pada akun YouTube IWTIF pada Jumat (28/2/2026)

Leonita mengatakan untuk mendapatkan kebugaran itu nggak perlu jauh-jauh. Dirinya mengaku bahwa di tahun 2018 sudah melihat bahwa ada sesuatu yang hilang dari Pulau Bali.

Baca juga: Dua Guru Besar Bidang Manajemen dan Pertanian USM Dikukuhkan

"Turis datang ke sini hanya untuk biasanya hanya mengunjungi obyek-obyek wisata tertentu. Padahal Bali ini sangat luar biasa salah satunya adalah desa wisata," terangnya.

Leonita mengatakan kalau saat webinar berlangsung sedang berada di sebuah kantor di daerah Gianyar dalam rangka menemani mencari lokasi untuk desa wisata.

Yang jadi pertanyaan lagi, kenapa sih harus desa? Apa yang bisa dilihat di desa?

Menurutnya banyak sekali didapatkan dari desa wisata di Bali. Ditegaskan Leonita, indahnya Bali yang sesungguhnya tidak hanya pada obyek wisata yang gemerlap, diskotik, villa dan resort yang mahal.

Baca juga: Sambut Ramadan, Masjid Agung Kendal Gelar Dugderan hingga Bazar Kuliner

"Tapi juga pemandangan alam yang sangat luar biasa. Di situlah kita bisa mendapatkan inti dari kesunyian hati dan jiwa. Kita bisa menenangkan diri, merapihkan kembali isi pikiran. Otomatis dengan pikiran yang tenang maka kebugaran itu akan datang dengan sendirinya.

Menurutnya, di desa wisata, kita juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang menarik.

"Di desa tidak cuma ada sawah dan kita diam juga tidak, banyak yang bisa dilakukan. Dan di desa itulah kita akan mendapatkan konsep keseimbangan kita yang sebenarnya sudah ada," terangnya.

Diungkapkan Leonita, masyarakat Bali percaya bahwa konsep keseimbangan manusia itu ada tiga.

Baca juga: Masyarakat Puji Nego Kemenperin dan Apple, CeDPPIS dan BaraJP

Yakni, hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan alamnya, kemudian hubungan manusia dengan manusia.

"Itulah konsep keseimbangan sehari-harinya orang Bali. Orang Bali mempercayai adanya kehidupan setelah kematian. Konsep tadi dengan hubungan alam yang dijaga sebaik-baiknya," tambah Leonita.

Dikatakan Leonita, konsep keseimbangan di dalam kehidupan sangat penting. Orang Bali sangat meyakini bahwa kehidupan berjalan terus seperti lingkaran.

"Orang Bali selain percaya ada kehidupan setelah kematian, juga adanya Purnabhawa atau kelahiran kembali atau Reinkarnasi," tambahnya.

Baca juga: Cegah Banjir, Pemkot Balam buat Biopori, Penghijauan, Penertiban Bantaran Sungai

Kepercayaan ini, menurutnya, mendorong orang Bali senantiasa berusaha berlaku yeng terbaik sepanjang hidupnya dengan harapan mendapatkan tempat terbaik yaitu Swarga (sorga).

"Setelah kematian dan terlahir kembali menjadi orang baik. Demikian seterusnya," terangnya.

Leonita menambahkan bahwa orang Bali akan meningkatkan kualitasnya dalam lingkaran kehidupan atau (circle of life).

"Itu dilakukan sampai tercapainya Moksah, manunggal dengan Sangkan paraning, Dumadi atau bersatu dengan Sang Maha Pencipta, Terbebas dari lingkaran kehidupan atau (Sukha Tan Pawali Dukha," paparnya.