SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Waktu menunjukkan pukul 08.45 WIB ketika Minggu 24 November 2024 itu, dua remaja putri asal Godong, Kabupaten Grobogan, terlihat santai menyusuri lorong-lorong Gedung Lawang Sewu di jantung Kota Semarang, Jawa Tengah.
Seksama mereka mengamati bentuk ornamen dan gaya arsitektur gedung bersejarah peninggalan zaman kolonial Belanda, yang dulu sebagai kantor pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) itu.
Ada semburat kekaguman di wajah mereka saat melihat bangunan antik berpintu banyak, sehingga dijuluki Lawang Sewu atau Pintu Seribu tersebut.
Baca juga: Goa Pancur yang Sangat Eksotik, Pengunjung Bisa Menikmati Stalaktit dan Stalagmit
Ririn (18) bersama rekan kerjanya, Lilik, dengan berkendara sepeda motor sengaja pergi bertamasya keliling - keliling kota sambil melihat - lihat keramaian yang ada (mengutip lirik lagu Naik Delman ciptaan Pak Kasur).
''Sudah lama saya pengin ke Lawang Sewu. Ini baru pertama kali ke sini. Wow, bangunannya unik, dan ornamennya meskipun sederhana tapi nyeni,'' ujar perempuan bernama lengkap Rinjani Khoirunisa itu.

Dia bercerita jika kunjungan wisatanya untuk tahu sejarah perkerataapian di Indonesia. Makanya karyawati di perusahaan swasta di Kecamatan Godong itu memillih tiket terusan wahana immersive sebesar Rp 30 ribu.
Dengan tiket ini, pengunjung bisa mengetahui sejarah kereta api melalui teknologi digital. Sedangkan tiket masuk biasa yaitu Rp 20 ribu untuk dewasa, dan Rp 10 ribu untuk anak-anak.
Ya, tiket immersive adalah terobosan dari PT KAI selaku pengelola untuk memantik kunjungan wisatawan ke Lawang Sewu yang kini menjadi wisata ikonik di Kota Semarang. Tempatnya strategis, karena berdekatan dengan Balaikota, Tugu Muda, dan Museum Mandala Bhakti.
Baca juga: Siswa SD Dapat Rp 1 Juta Usai Buktikan Sapi Makan Martabak
Bagi wisatawan yang ingin mengetahui seluk-beluk Lawang Sewu, di sana ada sejumlah pemandu wisata berpakaian Jawa yang menawarkan jasa untuk membantu sebagai pencerita tentang sejarah termasuk koleksi yang ada di wisata ini.
Merujuk sejarahnya, Gedung Lawang Sewu dibangun secara bertahap di atas lahan seluas 18.232 m2. Bangunan utama dimulai pada 27 Februari 1904 dan rampung pada Juli 1907. Sedangkan bangunan tambahan dibangun sekitar tahun 1916 dan selesai tahun 1918.
Lawang Sewu sempat jatuh ke tangan pemerintah Jepang, saat Belanda mundur dari Indonesia, tepatnya pada 1942-1945. Jepang menggunakan bangunan Lawang Sewu sebagai Kantor Ryuku Sokyoku atau Jawatan Transportasi Jepang.
Selanjutjnya pada tahun 1945 menjadi Kantor Eksploitasi Tengah DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia).Setelah pengakuan kedaulatan RI, tahun 1949 digunakan Kodam IV/ Diponegoro. Selanjutnya pada 1994 gedung ini diserahkan kembali kepada kereta api (Perumka) yang kemudian statusnya berubah meniadi PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Siapa perancangnya? Gedung yang megah ini dirancang oleh Prof Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag, arsitek dari Amsterdam dengan ciri dominan berupa elemen lengkung dan sederhana ini.
Meseum
Gedung Lawang Sewu kini dimanfaatkan sebagai museum yang menyimpan beragam koleksi dari masa ke masa perkeretaapian di Indonesia. Koleksi yang dipamerkan antara lain: koleksi mesin penanda karcis di tiga periode, yaitu era SS, DKA (buatan Perdijk & CO Rotter Holand), dan PJKA.
Lalu ada mesin tik tua, replika lokomotif uap, dan telephone umum. Di sini kita menjumpai telepon jadul yang ada putaran nomornya. Telepon pada masanya ini digunakan untuk komunikasi antarstasiun ataupun umum.
Baca juga: Tips Menggemukan Badan Secara Alami dan Sehat
Ada juga telephone Set ''F'' MK II PL, yang bentuknya mirip bel sepeda kuno. Telepon jenis ladang ini pada eranya digunakan untuk memberitahu stasiun sewaktu kereta mengalami kerusakan atau gangguan dalam perjalanan.

Di lantai bawah, di setiap lorong ada dokumentasi berupa foto dan berita terkait dengan sejarah perkeretaapian. Selain ada dokumentasi pemugaran, dan restorasi kereta api.
Jadi, jika kebetulan Anda ke Kota Semarang, luang waktu untuk menyusuri Lawang Sewu, gedung kuno yang memiliki banyak lorong dan pintu. Banyak yang bilang tempat ini instagramable dan surganya bagi para fotografer. Ada taman di sana, dan nuansa kekinian yang dihadirkan. (Aji)
