HELOINDONESIA.COM -Metamorfosa dari sebuah tempat yang kumuh dan berimej negatif sebagai pusat transaksi narkoba terbesar di Kota Bandung, Cibunut bisa menjadi contoh sebagai desa wisata bagi kawasan lain.
Dengan tagline "Desa Cibunut Berwarna", sejak 2015, Cibunut mengubah total menjadi desa wisata yang memiliki daya tarik dari beragam kegiatan masyarakatnya.
Tak hanya dari dalam negeri, banyak masyarakat luar negeri tertarik untuk datang ke Desa Cibunut terhitung sudah belasan, bahkan puluhan delegasi dari negara luar mengunjungi Kampung Cibunut, Kota Bandung.
Ya, sejak April 2015, Kampung Cibunut menjadi KBS (Kawasan Bebas Sampah). Didampingi oleh GSSI (Generasi Semangat Selalu Ikhlas) kampung ini pun bergelar sebagai Desa Wisata Cibunut.
Baca juga: Ketua MA: Jalan Memimpin Bukan Jalan yang Mudah, Memimpin Itu Terkadang Menderita
"Cibunut dulu adalah desa yang memiliki masa lalu yang kelam. Artinya menjadi pusat perdagangan narkoba sebesar di Kota Bandung dulunya," papar aktivis lingkungan GSSI (Generasi Semangat Selalu Ikhlas) seperti dikutip dari akun YouTube Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF) pada Kamis (20/2/2025).
Kemudian, lanjutnya, Cibunut
yang dikenal sebagai kampung yang sangat padat di tengah kota Bandung namun saat ini terus berproses menjadi tempat wisata.
"Jadi kalau teman-teman ke Cibunut menjadi kawasan bebas sampah. Dan kenapa disebut sebagai Desa Cibunut berwarna, karena kampung itu hampir tiap rumah di satu RW warnanya sama, kemudian RW lain warnanya berbeda tapi cat rumahnya sama," papar Rini Martini.
Menurutnya, yayasan GSSI itu punya visinya adalah masyarakat yang bahagia dengan lingkungannya dan saling berinteraksi.
Baca juga: Kota Salatiga Siap Tuanrumahi Porprov 2026, Bona Minta untuk Junjung Sportivitas
Saat datang pertama kali ke Desa Cibunut, kisah Tini, awalnya ia melihat di dinding-dinding pagar atau rumah terdapat gambar-gambar nggak beraturan sama sekali.
"Semacam vandalisme. Kemudian akhirnya, Desa Cibunut program kawasan bebas sampah di kota Bandung. Di tahun 2017 menjadi mentor kawasan bebas sampah percontohan," papar Tini.
Dari 1.500 sekian RW, terang Tini, terpilihlah 5 RW yang dipilih menjadi contoh dari sekian banyak RW di kota Bandung jadi 5 RW percontohan.
"Alhamdulillah di tahun 2018 teman-teman Cibunut meraih juara 1 tingkat Jawa Barat. Dan mendapat penghargaan dari Bapak walikota Bandung di tahun 2020," ungkap Tini.
Baca juga: Wali Kota Eva Ungkap Kesan dan Hikmah Ikut Pelantikan Serentak di Istana Merdeka
Tini mengatakan, mengapa Cibunut menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak wisatawan mancanegara dan lokal, padahal tidak ada tempat yang indah seperti pegunungan, sungai atau persawahan tradisional.
"Mereka banyak datang ke Cibunut karena tata kelola sampahnya yang baik. Orang luar negeri suka karena sifat warganya yang masih memegang tradisi gotong-royong.
Selain itu, lanjutnya, dari tata pengelolaan sampah yang baik dari jenis organik, tak hanya untuk pupuk kebun tanaman obat, tapi dari sampah non organik pun bisa diolah jadi bahan kerajinan.
Selain pengelolaan sampah, dari kebun tanaman obat inilah ada semacam daya tarik wellness tourism.
Baca juga: Ikigai, Wellness yang Membuat Orang Okinawa Jepang Bisa Berumur di Atas 100 Tahun
"Ada kreativitas dan isu kesehatan. Karena isu kesehatan itu sangat dekat dengan kebersihan. desa wisata ini akhirnya jadi punya kekuatan masing-masing," paparnya.
Alasan mengapa Desa Cibunut Berwarna? Menurut Tini, karena satu RT satu warna rumahnya sama.
"Jadi kalau misalnya mau ke RT berapa oh mau ke RT 4 oh rumahnya yang berwarna kuning semua gitu ya. Misalnya ke RT 5 cari saja rumah-rumah yang warnanya merah gitu ya," terangnya.