Helo Indonesia

Ketika Lansia Nyantri di Masjid Agung Demak, Ngalap Berkah Ramadan dan Sultan Fatah

Rabu, 5 Maret 2025 06:11
    Bagikan  
Ketika Lansia Nyantri di Masjid Agung Demak, Ngalap Berkah Ramadan dan Sultan Fatah

Para santri lansia terlihat antusias mengikuti kajian pesantren Ramadan yang diselenggarakan Takmir Masjid Agung Demak. Foto : Jati

DEMAK, HELOINDONESIA.COM - Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina. Sekiranya berpedoman pada anjuran Rasulullah Muhammad SAW, bahwa menuntut ilmu tak ada batasnya, 127 santri lanjut usia (lansia) semangat mengaji ilmu agama di masjid peninggalan Wali Songo.

Ya. Khususnya di bulan suci Ramadan, Taknur Masjid Agung Demak rutin menyelenggarakan Pesantren (khusus) Lansia. Berlangsung sudah bertahun-tahun, dan setiap periodenya jumlah santri yang mondok pun senantiasa bertambah.

"Tahun ini yang mendaftar ada 200 orang lebih. Namun karena keterbatasan tempat, jumlah santri lansia yang mondok hanya terakomodasi 127 orang," kata Ketua Takmir Masjid Agung Demak Dr KH Nur Fauzi SAg MPd, Selasa 4 Maret 2025.

Baca juga: Desa Edukasi Ekowisata Sumberbulu, Produksi 19 Varian Jamu, Sediakan Terapi Aromaterapi dan Lulur untuk Kesehatan dan Kebugaran

Lebih lanjut disampaikannya, kegiatan diagendakan 27 hari terhitung sejak 1 Ramadan yang bertepatan 1 Maret 2025.

"Santri lansia yang mondok berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari Demak, Grobogan, Semarang, Kendal, Jepara, Solo, Purworejo, Madiun, Magetan, Malang, Surabaya, Jakarta, Lampung, bahkan Makassar," tuturnya.

Dengan membawa sejumlah perbekalan dan perlengkapan pakaian dari rumah, peserta diterima Pengasuh Pesantren Ramadhan menuju ruang kamar yang telah disediakan. Pesantren ini gratis, bahkan santri mendapat fasilitas yang memadai.

"Tersedia 10 kamar ukuran besar, yang delapan di antaranya untuk santriwati. Lansia peserta pesantren minimal berusia 56 tahun. Istimewanya 10 diantaranya telah berusia lebih dari 80 tahun," imbuh Nur Fauzi yang juga Sekretaris PCNU Kabupaten Demak itu.

Bersemangat

Meskipun berusia senja, namun secara fisik mereka terlihat sehat dan bersemangat. Saking antusiasnya, mereka mendaftar jauh hari sebelum Ramadan.

Menurutnya, keistimewaan yang terdapat dalam Pesantren Ramadhan Lansia ini adalah tabarukkan dengan Sultan Fatah. Sebab, sejak dahulu Masjid Agung Demak dijadikan Walisongo sebagai tempat untuk syiar dan pendidikan keagamaan.

Baca juga: Kementerian PU Lakukan Langkah Tanggap Darurat Banjir di Bekasi

Di sisi lain, Mbah Maksum (89) salah seorang santri asal Magetan, Jawa Timur mengisahkan, ngalap berkah atau berburu berkah Ramadan dapat dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya yang selalu diminati adalah Pesantren Lansia di Masjid Agung Demak.

Dikatakan, dirinya sudah empat tahun ini mengikuti Pesantren Lansia di masjid peninggalan Walisanga tersebut. "Nyantri atau mengaji ilmu agama bagi saya ibarat kewajiban tak berujung. Sebagaimana anjuran Rasulullah SAW, tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina. Tak ada batasnya," ujar kakek sejumlah cucu dan cicit ini.

Maka ketika seorang temannya mengajak ikut serta kegiatan rutin setiap Ramadan itu, Mbah Maksun yang saat mudanya pernah nyantri di Godong ,Kabupaten Grobogan spontan mengiyakannya. Bahkan sudah empat tahun terakhir mengikutinya.

"Rasanya senang sekali bisa kembali ngaji tabarukan Sultan Fatah di usia senja. Apalagi teman-teman nyantri di sini semua sepantaran," ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Takmir Masjid Agung Demak, KH Abdullah Mahali menambahkan, sesuai goresan sejarah, sebelum berdiri Kesultanan Demak Bintoro, terlebih dahulu berdiri Pesantren Glagahwangi yang diasuh oleh Raden Fatah. Maka selain sebagai Sultan, Raden Fattah sebenarnya juga seorang tokoh ulama dan Waliyullah.

"Maka sangat beruntung santri lansia yang ikut Pesantren Ramadhan ini karena akan diakui pula sebagai santrinya Sultan Fatah," pungkasnya. (Jati)