Helo Indonesia

Tester Biji Kopi Andalan Alay Tripanca Meninggal Setahun Dalam Islam

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
Sabtu, 15 November 2025 22:34
    Bagikan  
WAFAT
HELO LAMPUNG

WAFAT - Kuncung ketika syahadat setahun lalu dan dimakamkan jelang akhir tahun ini, semoga khusnul khotimah (Foto Ist)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Budi Hartawan alias Kuncung (58) sudah tak menderita lagi. Tester biji kopi andalan eksportir dan pemilik BPR Tripanca Alay Sendok -- pengusaha hebat Lampung pada masanya -- telah selesai melewati perjalanan hidup yang penuh "drama".

Dia meninggal sesuai keinginannya terakhirnya dalam dekapan Islam. Kuncung mengucapkan dua kalimat syahadat di rumah sahabat kecilnya Nurbadi'ah Barliyan alias Nung, Jl. Patimura, Kota Bandarlampung, Jumat (20/12/2024).

undefined

Kuncung "pulang" dijemput Malaikat Izrail dalam kesendirian di rumah tuanya, Jl. Ikan Kembung, Kampung Bugis, Telukbetung, Sabtu (15/11/2025), pukul 08.00 WIB dan dimakamkan di TPU Pejagalan, Jl. Warsito, Telukbetung, pukul 20.56 WIB.

Para tetangga sempat kaget setahun ini Kuncung kerap ikut solat berjamaah di musola dekat rumahnya. Mereka tak tahu kapan dan dimana Kuncung bersyahadat. Diusia senjanya, Kuncung hanya berkeinginan "dipanggil" dalam dekapan Alloh SWT.

Setelah mengucapkan kalimat syahadat dibimbing disaksikan kawan-kawan kecilnya Ustadz KH Hariri Nur dari Majelis Taklim Nurul Yakin Cendana 6 Bumi Waras, Kuncung terlihat sangat bahagia hingga matanya basah. Seakan, dirinya merasa lega.

Syamsul Arifin, SH, MH, suami Nung, yang ikut jadi saksi syahadatnya Kuncung, baru saja mendarat dari Jakarta sehingga sempat ikut mengantarkan jenazah Kuncung di peristirahatan terakhirnya.

Budi Hartawan bin Ngenge, nama pemberian orangtuanya, warga Telukbetung kelahiran 24 Agustus 1967 ini, merasa tak punya agama sepanjang hidupnya. Dia kawin secara agama A dan kerap main ke tempat ibadah B, semua itu semata pergaulan dan mencari kebenaran. 

Sampai akhirnya, belakangan ini, keluarga sekandung dan teman-temannya bertanya jika kelak sampai waktunya hendak dimakamkan cara apa? Kuncung, panggilan para tetangganya sejak kecil, mulai terusik.

Quality control biji kopi otodidak yang paling dipercaya Alay Sendok Tripanca ini kembali menyelusuri perjalanan rohaninya sejak masih sekolah dasar hingga kini. Walau bukan dari keluarga muslim, dia pernah sekolah di madrasah.

Kuncung sempat hapal beberapa ayat. Namun, ketika SMP nonmuslim, dia terpaksa mengambil pelajaran agama lain. Sempat, katanya, guru agama bertanya, kenapa belajar agama tersebut, dia jawab jika ada agama selain itu dia akan pilih itu.

Uniknya lagi, ketika sekeluarga mengosumsi babi, Kuncung yang "tak beragama" tak pernah mau mencicipinya sekalipun. Ketika sering mampir dan bergaul dengan petinggi agama ayahnya belakangan ini, Kuncung malah dianjurkan jadi muslim yang taat. 

Tak mudah, Kuncung ternyata butuh waktu 57 tahun untuk mendapatkan hidayah. Dari pertanyaan saudara kandungnya yang sudah jadi ustadz dan kawan-kawan kecilnya, hatinya akhirnya terbuka lebar dengan sendirinya menerima hidayah Alloh SWT.

Sebelum membaca syahadat, KH Hariri Nur menawarkan nama yang diinginkannya. Dia tetap senang dipanggil Kunjung dan merasa sangat berat dengan nama Budi Hartawan. Dirinya selama ini jauh dari "budi". Dirinya merasa tak pantas menyandang nama bagus tersebut.

Setelah berlatih dua tiga kali membaca syahadat, KH Hariri Nur menjabat tangannya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan berjalan lancar. Kuncung mengucapkannya dengan lugas dan tegas.

Setelah itu, saya yang ikut menjadi saksi langsung memeluknya dan teman-temannya mengucapkan selamat telah menjadi saudara muslim, Kuncung tak mampu lagi menahan gejolak jiwanya yang tertahan selama 57 tahun.

Dia menangis dan aura wajahnya langsung bersinar. Kuncung mengaku merasa lepas semua beban selama ini. Dia selalu mengucapkan insya Alloh, sudah ikhlas andai dipanggil sang pemilik saat ini juga. Dua kata itu selalu diucapkannya.

"Bersih, Alloh SWT mulai menghitung dari nol, jiwanya yang selama ini bergelimang dosa, kini bersih, insya Alloh tangisan bahagia berubah barokah dan istiqomah, semua yang diharapkan dimudahlan Alloh SWT," ujar KH Hariri Nur yang langsung memimpin doa.

Kuncung mandi secara Islam, dipakaikan Syamsul Arifin baju koko, dan mendapatkan hadiah Kitab Suci Alquran terjemahan lengkap dari Poniasih. Rencana berikutnya, Kuncung akan memantabkan keislamannya di pondok pesantren saudara kandungnya di Jawa Barat. Insya Alloh khusnul khotimah, aamiiin. (HBM)

 - 

 -