Helo Indonesia

Dirjen KSDAE: Ancaman Jerat Harimau Liar Masih Sangat Tinggi

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
8 jam 35 menit lalu
    Bagikan  

HARIMAU - Dirjrn KSDAE Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko menyerahkan nama secara simbolis nama anak harimau kepada M Erwan Nasution (Jendral Photography)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Ancaman jerat pemburu liar terhadap harimau sumatera terus menjadi perhatian serius pemerintah. Setelah seekor harimau kembali ditemukan terjerat di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, kabar menggembirakan datang dari Taman Satwa Lembah Hijau, Kota Bandarlampung, dengan lahirnya dua anak harimau betina dari induk harimau cacat akibat jerat pemburu liar.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, mengatakan ancaman terhadap Harimau Sumatera hingga kini masih sangat tinggi, terutama akibat pemasangan jerat di kawasan hutan.

undefined

Satu dari dua harimau yang lahir Lembah Hijau 

Menurutnya, keberhasilan kelahiran dua anak harimau secara ex-situ di Taman Satwa Lembah Hijau menjadi simbol penting penyelamatan satwa liar yang sebelumnya menjadi korban jerat pemburu.

Dua anak harimau betina bernama Batin Wulan dan Muli Sikop lahir pada 14 Februari 2026 dari pasangan harimau Kyai Batua dan Sinta. Kedua induknya mengalami amputasi kaki setelah terjerat pemburu liar di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

“Ancaman jerat terhadap harimau sumatera masih sangat tinggi. Karena itu, diperlukan dukungan semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat, agar tidak lagi memasang jerat liar di kawasan hutan,” kata Satyawan.

Ia menegaskan, Lampung masih menjadi salah satu habitat penting bagi harimau sumatera sehingga upaya perlindungan harus terus diperkuat, baik melalui penegakan hukum maupun edukasi kepada masyarakat sekitar hutan.

Sementara itu, kasus terbaru harimau terjerat kembali terjadi di Jorong Lima Sumpadang, Nagari Padang Mantigi Utara, Kecamatan Rao Utara, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, Kamis (21/5/2026).

Seekor harimau betina ditemukan dalam kondisi lemah setelah leher dan kaki depannya terlilit “jerat ratus” yang biasa dipasang untuk babi hutan. Tim gabungan dari BKSDA Pasaman, COP, dan Polsek Rao berjibaku menyelamatkan satwa dilindungi tersebut.

Kepala Resort BKSDA Pasaman, Edi Susilo, menggambarkan kondisi memilukan saat tim tiba di lokasi.
“Dia mengerang kesakitan karena terus berontak. Luka lecet di lehernya cukup serius,” ujarnya.

Tim kemudian melakukan pembiusan untuk mengurangi stres dan rasa sakit sebelum memotong jerat yang melilit tubuh harimau. Dengan menggunakan tandu darurat dari karung bekas, satwa itu dievakuasi sejauh hampir dua kilometer sebelum mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Sebelum dibawa ke Padang, tim medis memberikan antibiotik, vitamin, serta infus untuk mengatasi dehidrasi.
Satyawan menegaskan, harimau sumatera harus tetap dapat berkembang biak di habitat alami yang aman dan minim gangguan manusia.

“Harimau harus tetap bisa berkembang biak dengan baik di habitat yang masih utuh dan minim aktivitas manusia, sehingga keseimbangan antara kelestarian satwa dan keselamatan masyarakat tetap terjaga,” katanya. (Miky)